Adi Hermawan
Dosen Program Studi S1 Keperawatan, Stikes Amanah Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-59 Bulan Di Posyandu Wilayah Puskesmas Wonomulyo Tahun 2021 Adi Hermawan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 1 No. 3 (2022)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan dalam masalah gizi dan tumbuh kembang anak di Indonesia.. Stunting di Sulawesi Barat pada tahun 2019 sebesar 11,4%. Prevelensi stunting tertinggi berada di Kabupaten Polewali Mandar yaitu sebanyak 7,7% balita pendek dan 23,3% balita sangat pendek. Penyumbang angka stunting tertinggi adalah Puskesmas Wonomulyo dengan  549 balita. Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain case control dengan menggunakan data sekunder dari buku KIA ibu dan data primer melalui wawancara. Variabel yang diteliti meliputi tinggi badan ibu, tingkat pendidikan ibu, status ekonomi, pemberian ASI eksklusif, berat lahir,  dan  jenis  kelamin.  Teknik  pengambilan  sampel  menggunakan  simpel rundom sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 152 sampel yang meliputi 76 kelompok kasus dan 76 kelompok kontrol. Hasil penelitian didapatkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah tinggi badan ibu p- value 0,015 (95% CI 1,495-40,012), pemberian ASI Eksklusif p-value 0,006 (95% CI 1,366 – 6,228), jenis kelamin p-value 0,002 (95% CI 1,590-7,312). Hasil analisis multivariat tinggi badan ibu memiliki besar risiko paling tinggi terhadap dengan kejadian stunting  (p=0,015 OR=7,735, 95% CI=1,495-40,012) dan jenis kelamin merupakan faktor yang paling signifikan terhadap kejadian stunting p- value 0,002 (95% CI 1,590-7,312). Tinggi  badan ibu merupakan faktor  yang paling dominan dalam hubungannya dengan kejadian stunting.
Penyuluhan Kesehatan Upaya Pencegahan Penyakit Infeksi HIV/AIDS Pada Keluarga Kelurahan Batua Wilayah Kerja Puskesmas Batua Makassar Rachmat Ramli; Adi Hermawan
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2022): Maret: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v2i1.327

Abstract

One of the main contributors to the global spread of HIV is migrant workers. The purpose of this community service is to determine whether the community's efforts, especially at the Batua Health Center, prevent HIV/AIDS in families at risk of HIV/AIDS. This research was conducted with a cross-sectional design with a quantitative approach. The study population was all patients who visited Batua Health Center, and 94 samples were taken. Data collection was carried out in August-September 2020. Data analysis included univariate and bivariate analysis. The results of this study indicate that individual characteristics, adolescent behavior p = 0.486, sources of information p = 0.680, knowledge p = 0.003, and attitudes p = 0.589 relationship with adolescent behavior toward HIV/AIDS. Knowledge with p = 0.865 shows no significant relationship between knowledge and risk behavior toward HIV/AIDS.
Pengaruh Pemberdayaan Keluarga Melalui Edukasi Terhadap Kemampuan Merawat Pasien Gangguan Jiwa di Kota Makassar Pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 Adi Hermawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.279

Abstract

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan, pengenalan dini, serta perawatan pasien gangguan jiwa, termasuk mencegah terjadinya kekambuhan. Pemberdayaan keluarga dengan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan merupakan upaya mencapai kemandirian keluarga merawat pasien gangguan jiwa. Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan menghadapi permasalahan tingginya pasien yang kambuh dan kembali dirawat di rumah sakit jiwa, kondisi ini diduga akibat pemberdayaan keluarga melalui edukasi belum terlaksana secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan keluarga melalui edukasi terhadap kemampuan merawat pasien gangguan jiwa di Kota Makassar pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian cross sectional dengan metode kuantitatif, dilakukan kepada 39 kepala keluarga dari pasien ganguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Makassar sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara statistik menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan melalui edukasi keluarga pasien gangguan jiwa Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Makassar pada komponen didaktik. emosi, proses keluarga dan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan merawat pasien gangguan jiwa. Variabel yang paling dominan memengaruhi kemampuan merawat pasien gangguan jiwa adalah komponen sosial (p=0,025 dan OR=47,229). Disarankan kepada manajemen Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan perlu meningkatkan kegiatan pendidikan atau edukasi bagi keluarga pasien, khususnya pasien yang akan pulang dari rumah sakit, sehingga perawatan pasien dapat dilakukan oleh keluarga serta menghindari terjadinya kekambuhan, serta melakukan evaluasi metode edukasi yang dilakukan saat ini. Perawat yang bertugas memberikan edukasi kepada keluarga pasien, hendaknya dilakukan pendidikan atau pelatihan khusus yang terkait dengan family education, sehingga proses edukasi keluarga pasien dapat lebih optimal.
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MAKAN TIDAK TERATUR DAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA Adi Hermawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v14i2.484

Abstract

Latar belakang: Kebiasaan makan yang tidak teratur, seperti makan pada jam yang tidak konsisten, melewatkan makan, atau mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, dapat berdampak negatif pada keseimbangan metabolisme tubuh dan fungsi otak. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang buruk, termasuk konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, dapat mempengaruhi keseimbangan neurotransmiter dan hormon yang berperan dalam regulasi suasana hati dan stres. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan. Tujuan: Untuk mengetahui kaitan antara kebiasaan makan tidak teratur dan kesehatan mental pada mahasiswa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pendekatan ini dipilih untuk mengetahui hubungan antara variabel kebiasaan makan tidak teratur (variabel independen) dan kesehatan mental (variabel dependen) pada mahasiswa. Hasil: Penelitian ini melibatkan 200 mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebagian besar responden berusia antara 18-22 tahun, dengan distribusi jenis kelamin yang seimbang. Mayoritas responden berada pada tahun kedua atau ketiga studi mereka. Kesimpulan: Pentingnya meningkatkan kesadaran tentang pola makan yang sehat di kalangan mahasiswa sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Intervensi yang dirancang untuk memperbaiki kebiasaan makan dapat berkontribusi pada pengurangan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, serta mendukung performa akademik dan kesejahteraan secara keseluruhan.