Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literasi Digital: Mengenal Cyber Risk dan Aman Dalam Bermedia Digital Niyu Niyu; Azalia Gerungan
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 5 (2022): PERAN PERGURUAN TINGGI DAN DUNIA USAHA DALAM AKSELERASI PEMULIHAN DAMPAK PANDEMI
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v5i0.1621

Abstract

Pentingnya edukasi literasi digital menjadi suatu keniscayaan di era digital ini. Sebagai bagian dari komunitas yang terus berinteraksi dalam ekosistem digital, upaya untuk membekali para pendidik terkait keamanan bermedia digital perlu dilakukan dalam upaya mendukung literasi digital tersebut. Kominfo Bersama dengan Japelidi dan SiberKreasi meluncurkan Roadmap Literasi Digital 2021-2024, dimana salah satu modul empat pilarnya adalah aman bermedia digital. Pelaksanaan PkM ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung upaya sosialisasi tersebut. Mitra kegiatan adalah GKY Puri Indah sub bidang misi, yang menaungi pelayanan bimbel dan panti asuhan. Peserta terdiri dari 35 guru dan pengurus panti, yang terlibat secara aktif dengan anak-anak dibawah bimbingan mereka. Sebagai bagian dari literasi digital, edukasi E-Safety terkait keamanan digital dilakukan dalam bentuk webinar yang kemudian diarahkan dalam kelompok diskusi dimana fasilitator memfasilitasi kegiatan diskusi dan memberikan observasi. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan rendahnya pemahaman akan keamanan berinteraksi di dunia digital di kalangan peserta, tingginya pengalaman interaksi yang dialami secara langsung terkait penipuan digital, tidak adanya pembekalan mengenai E-Safety sebelumnya, dan terdapat beberapa cyber risk terkait Eksploitasi seksual anak online (ESA) yang telah dialami anak didik mereka. Materi pendukung terkait E-Safety dan berbagai sumber ajar juga dibagikan untuk membekali para peserta dalam mensosialisasikan dan menerapkan E-Safety bagi anak didik mereka. Kata Kunci : cyber risk, bahan ajar, E-Safety, literasi digital, resiliansi
NEGOSIASI REPRESENTASI PROFESIONAL: CONTEXTUAL AUTHENTICITY DALAM PERSONAL BRANDING GENERASI Z DI LINKEDIN Yunita Amalia; Audrey Adeline; Azalia Gerungan
Lectura: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2026): August
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/lectura.v3i1.11717

Abstract

Pemanfaatan LinkedIn sebagai platform jejaring profesional dan rekrutmen semakin mendorong mahasiswa Generasi Z untuk membangun representasi diri profesional di ruang digital. Dalam proses tersebut, tuntutan untuk tampil profesional sering kali berhadapan dengan keinginan untuk tetap mempertahankan otentisitas, sehingga memunculkan negosiasi dalam praktik personal branding. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mahasiswa Generasi Z menegosiasikan profesionalisme dan otentisitas dalam praktik personal branding di LinkedIn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tujuh mahasiswa tingkat akhir Generasi Z yang aktif menggunakan LinkedIn. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi antara profesionalisme dan otentisitas tidak terjadi pada tingkat identitas personal, melainkan pada cara individu merepresentasikan dirinya dalam konteks profesional. Personal branding dimaknai bukan sebagai upaya membangun identitas baru, tetapi sebagai proses kurasi representasi diri melalui pemilihan pengalaman, kompetensi, dan nilai personal yang dianggap relevan dalam konteks profesional. Negosiasi tersebut diwujudkan melalui empat praktik representasi yang saling berkaitan, yaitu mempertahankan identitas melalui penyesuaian representasi, menyeleksi representasi sesuai konteks komunikasi, memaknai profesionalisme sebagai bentuk adaptasi, serta menampilkan pengalaman dan proses pembelajaran, bukan sekadar pencapaian. Keempat praktik tersebut disintesiskan ke dalam konsep contextual authenticity, yang menjelaskan bagaimana profesionalisme dan otentisitas dinegosiasikan melalui representasi diri profesional tanpa mengubah identitas personal. Temuan penelitian ini memperkaya kajian personal branding dengan menunjukkan bahwa profesionalisme dan otentisitas tidak perlu diposisikan sebagai dua orientasi yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua dimensi yang dinegosiasikan secara kontekstual melalui representasi diri profesional di LinkedIn.   Abstract The growing importance of LinkedIn in professional networking and recruitment has encouraged Generation Z university students to engage in professional self-representation in digital environments. However, expectations to appear professional often intersect with the desire to remain authentic, creating an ongoing tension between professionalism and authenticity in personal branding practices. This study examines how Generation Z university students negotiate these expectations in their personal branding practices on LinkedIn. A qualitative descriptive approach was employed using semi-structured interviews with seven final-year Generation Z university students who actively use LinkedIn for professional networking and career-related purposes. Data were analyzed using the interactive analysis model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that the tension between professionalism and authenticity is negotiated not at the level of personal identity, but through professional self-representation. Participants perceive personal branding not as an effort to construct a new identity, but as a process of curating self-representation by selectively communicating experiences, competencies, and personal values considered relevant within a professional context. This negotiation is reflected through four interconnected representational practices: maintaining identity while adjusting representation, selecting representations according to communication context, understanding professionalism as adaptation rather than performance, and emphasizing experiences and learning processes rather than achievements alone. These findings are synthesized into the concept of contextual authenticity, which explains how professionalism and authenticity are negotiated through professional self-representation without compromising personal identity. These findings contribute to the personal branding literature by demonstrating that professionalism and authenticity should not be understood as competing orientations, but as complementary dimensions negotiated contextually through professional self-representation on LinkedIn.