Triasari Oktavriana
Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dermatitis Kontak Iritan Kronis Akibat Paparan Surfaktan: Satu Laporan Kasus Triasari Oktavriana; Anindya Oktafiani; Harijono Kariosentono
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11546.396 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i11.9935

Abstract

Pendahuluan: Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah proses inflamasi non imunologi pada kulit yang disebabkan karena paparan bahan kimia, fisik dan agen biologi. Salah satu faktor risiko terjadinya DKI adalah paparan detergen saat mencuci. Surfaktan merupakan senyawa aktif yang terdapat di dalam bahan pembersih dan detergen. Uji tempel dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahan iritan penyebab DKI. Kasus: Seorang wanita berusia 27 tahun datang dengan keluhan telapak tangan kering dan terasa gatal sejak 6 bulan yang lalu. Awalnya tangan kanan terasa kering dan gatal kemudian di ikuti tangan sebelah kiri. Keluhan kering dan gatal terutama dirasakan saat pasien selesai mencuci pakaian dan piring. Pasien kemudian periksa untuk dilakukan uji tempel pada kulit. Pemeriksaan dermatologi pada regio palmar manus dekstra et sinistra tampak patch eritem sebagian hiperpigmentasi disertai skuama di atasnya serta didapatkan fenomena hardening. Pembacaan hasil setelah 48 jam (hari ke-2) didapatkan hasil positif kuat (++) pada produk sabun cuci baju dan cuci piring. Hasil positif lemah (+) pada sabun cuci tangan dan pewangi pakaian. Diskusi: Mekanisme terjadinya DKI melibatkan tiga tahapan utama yaitu terjadi iritasi dan gangguan barier kulit, stimulasi sel epidermis serta terjadi pelepasan sitokin yang menyebabkan peradangan dan perubahan pada kulit. Surfaktan anion atau sodium lauryl sulphate (SLS) merupakan salah satu jenis surfaktan yang bersifat sitotoksik dan dilaporkan menimbulkan iritasi pada kulit. Uji tempel merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis DKI. Menghindari bahan iritan merupakan tatalaksana paling efektif pada pasien dengan DKI.
Reactivation of Maculopapular Drug Eruption Lesions Suspected to be Caused by Allopurinol During 72 Hours-Patch Test: a Case Report Triasari Oktavriana; Irene Ardiani Pramudya Wardhani
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.598 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i12.10482

Abstract

Maculopapular drug eruption is a delayed-type T-cell-mediated hypersensitivity reaction to a drug that is most commonly encountered within one week of suspected drug exposure. Allopurinol is a drug that is often found as a cause of drug allergic eruptions. The drug patch test can be used to identify the causative agent of a drug eruption. A 56-year-old man came with the chief complaint of itchy red patches on his face, chest, back, hands and feet for the past two weeks. The patches appeared five days after the patient took allopurinol for his hyperuricemia. The patient was diagnosed with maculopapular drug eruption with suspected to be caused by allopurinol. Six weeks after the patient was free from any lesions and eligible, a patch test was performed but the results were negative in all chambers on all reading days. At 72 hours after the patch test, there was reactivation of the skin lesions which obscured the patch test results. Maculopapular drug eruptions can be triggered by drug metabolites or drug absorption from the patch test itself is sufficient to cause reactivation.