Circulating RBP4 dan adiponektin yang dapat ditemui pada cairan tubuh khususnya serum dan eksosom. Penelitian ini dilakukan untuk menilai perbedaan kadar circulating RBP4 dan adiponektin dalam eksosom dan serum serta menilai hubungannya dengan resistensi insulin. Sebanyak 65 subjek berpartisipasi dalam penelitian ini yang selanjutnya dianalisa berdasarkan tiga kelompok penelitian, yakni 18 non obese (non-diabetes), 39 obesitas sentral (non-diabetes), dan 8 obesitas sentral (prediabetes). Sampel serum dikumpulkan dari masing-masing peserta dan eksosom diisolasi dari sampel serum menggunakan Total Exosome Isolation Kit (Invitrogen). Pengukuran kadar RBP4 dilakukan menggunakan ELISA, sementara adiponektin menggunakan flowcytometri. Hasil penelitian ini diperoleh perbedaan yang signifikan kadar circulating RBP4 dalam eksosom (p=0,030) dibandingkan dalam serum (p=0,806). Selain itu terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar circulating RBP4 dalam eksosom pada kelompok obesitas sentral (non-diabetes) (p= 0,016) dan obesitas sentral (prediabetes) (p=0,054) dibandingkan kelompok non-obese (non-diabetes) (p= 0,164). Sehingga circulating RBP4 pada eksosom dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi prediabetes lebih signifikan dibandingkan pada serum. Sedangkan pada adiponektin, tidak ditemukan perbedaan bermakna kadarnya dalam eksosom (p=,397) dan serum (p=0,138). Hasil ini menunjukkan bahwa pemeriksaan adiponektin cukup dapat dilakukan melalui serum.Pada uji korelasi dengan HOMA IR, menunjukkan tidak adanya korelasi parameter circulating RBP4 eksosom (p=0,923; r= 0,031) dan serum (p=0,413; r= -0,103), namun terdapat korelasi negatif dengan adiponektin dalam eksosom (p=0,002; r= -0,381) dan serum (p= <0,001; r= -0,432). Signifikansi hubungan adiponektin dengan resistensi insulin terlihat dalam kelompok eksosom non-obese (non-diabetes) (p=0,012; r=-0.580). Hasil ini menunjukkan bahwa adiponektin dalam eksosom dapat berpotensi menjadi penanda biokimia untuk resistensi insulin pada pasien dengan obesitas sentral.