p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal AL KAUNIYAH
Adeel Abdulkarim Fadhel Altuhaish
University of Aden

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potential Medicinal Plant Species For Fever Used by Minangkabau Ethnic at Nagari Taruang-Taruang, West Sumatra, Indonesia Ardian Khairiah; Nisyawati Nisyawati; Marina Silalahi; Adeel Abdulkarim Fadhel Altuhaish
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.25261

Abstract

AbstractFever is a symptom of illness that is commonly found in the Minangkabau ethnic community. This way, the Minangkabau ethnic community has local knowledge of utilizing plants to cure fever. The purpose of this study was to obtain species of plants used by the Minangkabau ethnic community in the treatment of diseases with symptoms of fever, as well as their potential as modern medicinal ingredients. The research method was carried out by using the open, semi-structural, and participatory observation techniques. Interviews were conducted with 9 key informants selected by purposive sampling and 126 respondents selected by snowball sampling. Data were analyzed qualitatively with descriptive statistic and quantitatively by calculating the Cultural Significance Index (CSI) and fidelity value. The medicinal plants used were 40 species from 22 families. The most used families were Euphorbiaceae (5 species), Musaceae, and Poaceae (each of 4 species), and Rubiaceae (3 species). Cocos nucifera had the highest CSI value, indicating the species was widely used in Minangkabau community. Based on the value of fidelity, 70% value was obtained by 4 plants to treat fever, namely Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, and Enhydra fluctuans. The four plants have the potential to be further developed into modern medicinal ingredients.AbstrakDemam merupakan gejala sakit yang umum ditemukan pada masyarakat etnis Minangkabau. Masyarakat etnis Minangkabau memiliki pengetahuan lokal dalam memanfaatkan tumbuhan untuk penyembuhan demam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat etnis Minangkabau dalam pengobatan penyakit dengan gejala demam, serta potensinya sebagai bahan obat modern. Metode penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terbuka, semistruktural dan observasi partisipasif. Wawancara dilakukan pada 9 orang informan kunci yang dipilih secara purposive sampling dan 126 orang responden yang dipilih menggunakan snowball sampling. Data dianalisis secara statistika deskriptif dan kuantitatif dengan menghitung nilai kultural (Index of Cultural Significance) dan nilai Fidelitas. Tumbuhan yang obat yang dimanfaatkan sebanyak 40 jenis yang berasal dari 22 suku. Famili terbanyak yang dimanfaatkan yaitu Euphorbiaceae (5 jenis), Poaceae dan Musaceae (masing masing 4 jenis), dan Rubiaceae (3 jenis). Cocos nucifera merupakan tumbuhan obat dengan nilai kultural (CSI) tertinggi. Berdasarkan nilai fidelitas terdapat 4 tanaman yang memiliki nilai 70% dalam penyembuhan demam, yaitu Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, dan Enhydra fluctuans. Keempat tanaman tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat modern.
Respon Pertumbuhan Tanaman Pakcoy (Brassica sinensis L.) terhadap Penambahan Asam Humat pada Media Tanam Dasumiati Dasumiati; Nofi Anisatun Rokhmah; Fadya Aldama Chandri Afrista; Ardian Khairiah; Irzal Irda; Adeel Abdulkarim Fadhel Altuhaish
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 19 No. 2 (2026): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v19i2.50206

Abstract

Pakcoy (Brassica sinensis L.) merupakan tanaman sayur yang memiliki nilai gizi tinggi dan banyak diminati masyarakat, namun produktivitasnya tidak stabil pada tiga tahun terakhir. Salah satu kunci untuk memaksimalkan produktivitas pakcoy adalah meningkatkan efisiensi penyerapan hara media tanam oleh tanaman, seperti dengan melakukan penambahan asam humat pada media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis asam humat yang dapat memaksimalkan pertumbuhan pakcoy. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari lima perlakuan berupa dosis asam humat (0; 0,5; 1; 1,5; dan 2 g asam humat per polybag). Penambahan asam humat pada media tanam dilakukan pada saat pindah tanam. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan asam humat berbagai dosis berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan. Hasil terbaik ditunjukkan oleh dosis 0,5 dan 1 g asam humat per polybag. Dosis 0,5 g asam humat per polybag meningkatkan jumlah daun, luas daun dan laju tumbuh relatif (LTR). Dosis 1 g asam humat per polybag meningkatkan tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tanaman, laju asimilasi bersih (LAB) dan indeks luas daun (ILD). Dosis asam humat yang meningkatkan produktivitas tanaman pakcoy adalah 1 g per polybag (3 kg).