Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Pada Balita > 6-23 Bulan Di Wilayah Kerja PUSKESMAS Pasi Mali Kabupaten Aceh Barat Nurul Mawaddah; Aulina Adamy; Ramadhaniah Ramadhaniah
Journal of Health and Medical Science Volume 2 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v2i1.986

Abstract

Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Cakupan pemberian MP-ASI di Indonesia sebesar 30,38%, Aceh sebesar 34,57% tahun 2020, sedangkan di Puskesmas Pasi Mali sebesar 69%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Pasi Mali Kecamatan Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat Tahun 2021. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 134 ibu yang mempunyai bayi umur >6-12 bulan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive samplingdengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Penelitian ini dilakukan di bulan oktober 2021. Analisa data menggunakan uji Chi Square program SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase ibu yang memberikan MP-ASI sebesar 66%. Berdasarkan hasil statistik bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna terhadap pemberian MP-ASI yaitu sikap (0,004), pekerjaan (0,004), fasilitas kesehatan (0,003), dan pengaruh lingkungan (0,004) di Puskesmas Pasi Mali Kecamatan woyla Barat Tahun 2021. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel (sikap, pekerjaan, fasilitas kesehatan dan pengaruh lingkungan) dengan pemberian MP-ASI di Puskesmas Pasi Mali. Adanya faktor lain yang tidak berhubungan dengan pemberian MP-ASI yaitu usia, pengetahuan, pendidikan, jarak kelahiran, pendapatan orangtua, tenaga kesehatan, dukungan keluarga, budaya makan dan pola makan. Diharapkan kepada petugas Puskesmas Pasi Mali untuk dapat memberikan penyuluhan dan pembinaan tentang pentingnya memberikan MP-ASI pada bayi sesuai dengan usianya.
Determinan Stunting pada Anak Usia 0-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Indrajaya Kabupaten Pidie Tahun 2022 Sri Muliasari; Ramadhaniah Ramadhaniah; Nopa Arlianti
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 6 (2022): Desember 2022
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v1i6.1081

Abstract

Stunting or short is a condition where children experience failure to grow and develop so that children have a shorter height than the standard age. The prevalence of stunting at the Indrajaya Public Health Center was 240 cases. The purpose of this study was to find out what factors were associated with the incidence of stunting in children aged 0-24 months in the Indrajaya Public Health Center, Pidie Regency in 2022. This type of research was observational analytic with a case control approach. The population is all mothers of infants aged 0-24 months as many as 70 mothers of infants in the Caleue settlement. Sampling in this study was conducted in the Caleue settlement, which consisted of 26 mothers of infants who experienced stunting as cases and as many as 26 mothers of infants who did not experience stunting as controls (control). Data collection from February 27 to March 04 using a questionnaire through interviews. Data analysis using Chi-Square test SPSS program. The results of the study there was a relationship between energy and protein intake p = 0.003, there was a relationship between Low Birth Weight p = 0.005, there was a relationship between exclusive breastfeeding p = 0.012, there was a relationship between Early Breastfeeding Initiation p = 0.023, there was a relationship between history of infectious diseases p = 0.023 = 0.011, there is a relationship between family income p = 0.048 and there is a relationship between mother's knowledge p = 0.025 with stunting. Based on the research conducted, it can be concluded that the seven variables have a stunting relationship in the Indrajaya Public Health Center Work Area, Pidie Regency in 2022. It is expected that health workers can provide counseling regarding stunting prevention in children under two, such as providing adequate energy and protein intake.
DEMONSTRATION OF PROCESSING AND BENEFITS OF JACKFRUIT SEED FOR PREGNANT WOMAN’S ADDITIONAL FOOD TO PREVENT STUNTING IN THE FIRST 1000 DAYS OF LIFE Ramadhaniah Ramadhaniah; Fahrisal Akbar
ABDIMU: Jurnal Pengabdian Muhammadiyah Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/abdimu.v4i1.1827

Abstract

One of the health problems that need to be watched out for in Indonesia is stunting in children under five. Stunting is a toddler whose height for ages is under -2 Standard Deviation from the WHO median standard (TB/U -2 SD) (WHO, 2012). Jackfruit seeds can be used in food development to increase the nutritional content of food products which can be used to address nutritional problems, one of which is stunting. Making biscuits with the addition of jackfruit seeds is expected to have a high nutritional content so that they can be an alternative nutritional snack for stunting toddlers (WHO, 2012). The purpose of the service is to overcome the nutritional problems of stunting cases in toddlers in the PODIHAGU area and introduce local food ingredients with many health benefits. The implementation method is carried out face-to-face (offline) with the lecture method at the house of a resident in Podihagu Hamlet. Conclusion to increase public knowledge about the benefits of jackfruit seeds for toddler health. The importance of increasing public knowledge of the importance of the problem of malnutrition in toddlers or cases of stunting health. The importance of public knowledge about the benefits of leaves and flour from jackfruit seeds for various health treatments.Keywords: Stunting; jackfruit seeds; Jackfruit Seed Flour
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Kiri Desa Belegen Mulia Kota Subulussalam Tahun 2021 Risa Juliandara; Basri Aramico; Ramadhaniah Ramadhaniah
Journal of Health and Medical Science Volume 2 Nomor 3 Juli 2023
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v1i1.813

Abstract

Stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh balita di seluruh dunia ini. Pada tahun 2017, sekitar 22,2% atau 150,8 juta anak balita mengalami stinting di dunia. Namun, angka ini sudah menurun jika dibandingkan dengan tahun 2000, yaitu 32,6%. Berdasarkan uraian diatas, di Puskesmas Simpang Kiri Desa Belegen Mulia Kota Subulussalam masih sangat tinggi angka stunting dan masih belum terpecahkan bagaimana cara mencegah atau menurunkan angka stunting di Desa Suka Makmur Kota Subulussalam tersebut, maka dapat disimpulkan ada banyak sekali faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting. Sehingga peneliti tertarik dengan melakukan penelitian tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Penelitian Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memilki balita 24- 59 bulan dengan jumlah populasi 95 balita. Lokasi penelitian ini dilaksanan di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Kiri Desa Belegen Mulia Kota Subulussalam. Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 1 s/d 7 februari 2022. Teknis pengumpulan data dengan cara pengumpulan data primer. Pengolahan data dilakukan dengan cara editing, coding, trasfering dan tabulating dengan analisis data univariat dan bivariat. Hasil penelitian terdapat umur balita 2 tahun sebanyak 44,2 % dan umur balita 3 tahun sebanyak 55,7%, sedangan kategori stunting sebanyak 57,9 % dan yang normal sebanyak 42,1%, asupan polamakan dengan kategori cukup sebesar 35,8% dan yang tidak cukup sebesar 64,2%, riwayat asi ekskusif yang asi eksklusif sebanyak 37,9% dan yang tidak asi eksklusif sebanyak 62,1%, dan riwayat penyakit infeksi yang pernah sakit sebanyak 58,9% dan yang tidak pernah sakit sebanyak 41,1%. Kesimpulan dari beberapa variabel asi eksklusif, pola makan dan riwayak penyakit infeksi memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas simpang kiri desa belegen mulia kota subulussalam tahun 2021. Saran dapat melakukan penyuluhan kesehatan terhadap ibu-ibu tentang bagaimana seseorang harus berperilaku hidup sehat dan supaya terhindar dari gejala anak stunting.
Hubungan Akses Pelayanan Kesehatan, BBLR, Asi Eksklusif Dan Asupan Protein Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia > 6-59 Bulan Di Wilayah Kerja PUSKESMAS Baitussalam Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2022 Asarah Kamilah Kamilah; Ramadhaniah Ramadhaniah; Tahara Dilla Santi; M. Biomed M. Biomed
Journal of Health and Medical Science Volume 1 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v1i1.965

Abstract

Stunting merupakan masalah yang masih dihadapi oleh dunia terutama pada negara miskin dan berkembang. Pada tahun 2016 kasus stunting di Aceh adalah 26,4%, dan meningkat pada tahun 2017 menjadi 35,7%. Di Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2020 prevalensi stunting sebesar 40% yang artinya prevalensi stunting di kabupaten Aceh Besar melebihi prevelensi Stunting di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko penyebab terjadinya Stunting pada balita Usia > 6-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Baitussalam Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2022. Metode penelitian deskriptik analitik dengan desain penelitian case control. Populasi penelitian ini adalah stunting dan Bukan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Baitussalam. Sampel terdiri dari sampel kasus berjumlah 100 responden dan sampel kontrol berjumlah 100 responden. Pengumpulan data dilakukan 21 Juli s/d 3 Agustus 2022. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square dengan derajat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang pernah memiliki akses pelayanan Kesehatan pernah sebesar 45.0%, BBLR <2500gr BBLR sebesar 46.5, dan yang memiliki asi eksklusif sebesar 46.0%. Hasil uji chi-square diperoleh bahwa ada hubungan akses pelayanan Kesehatan dengan Stunting pada balita (p=0,016 dan OR=1,920), BBLR (p=0,012 dan OR=1,994). Dan (asi eksklusif (p=0,032 dan OR=1,764). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dua variabel memiliki hubungan dengan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Baitussalam tahun 2022. Diharapkan kepada kepala Puskesmas Baitussalam Aceh Barat agar lebih meningkatkan hubungan dengan masyarakat salah satunya dengan cara melakukan penyuluhan kesehatan yang rutin kepada masyarakat sehingga akan meningkatkan pengetahuan tentang terjadinya Stunting pada anak.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Gampong Anoi Itam Kecamatan Sukajaya Sabang Tahun 2022 Salsabilla Suci; Zulkifli Ak; Ramadhaniah Ramadhaniah
Journal of Health and Medical Science Volume 2 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jhms.v2i1.1211

Abstract

Community behavior in managing waste is one of the environmental health behaviors. The emergence of the waste problem cannot be separated from the behavior of the community as waste producers and managers, therefore community behavior is the most important variable in waste management and its success must be supported by a high level of public awareness. This research is descriptive analytical with cross sectional design. The population in this study were housewives in Anoi Itam Village, Sukajaya Sabang District, totaling 71 respondents. Sampling was done by proportional random sampling technique. Data analysis used univariate and bivariate analysis, with chi square statistical test. Data collection was carried out on 27 February to 1 March 2022. The results showed that mothers with poor waste management behavior (50,7%), housewives aged 28-39 years (49,3%), housewives with low education (45,1%), mothers with low income low family (74.6%), mothers with good knowledge (83.1%), mothers with positive attitudes (83.1%), no infrastructure (59.7%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between knowledge and waste management behavior (p = 0.000), meaning that the better the mother's knowledge, the better the behavior towards waste management, and there was no relationship between age, education, family income, knowledge, attitudes, and infrastructure.
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Stunting pada Balita Usia >6-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Meriah Erlian Damayani; Ramadhaniah Ramadhaniah; Vera Nazhira Arifin
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v4i6.6874

Abstract

Stunting is a serious global problem affecting more than 160 million children under five worldwide. In Aceh Singkil, the stunting rate reached 34.01% (SKI, 2023). This study aims to determine the risk factors associated with stunting in toddlers aged >6–59 months in the Gunung Meriah Community Health Center, Aceh Singkil Regency, in 2025. This study used a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. A sample of 98 respondents was selected randomly from the population of mothers with toddlers. Data collection was conducted through interviews and observations using questionnaires and measuring instruments, and analyzed using the chi-square test in the SPSS application. The results showed a stunting prevalence of 38.8%. Factors that had a significant relationship with stunting were complete basic immunization (p = 0.002) and exclusive breastfeeding (p = 0.002). Meanwhile, maternal knowledge, parenting patterns, and information sources did not show a significant relationship. The results of the multivariate analysis showed that immunization has a statistically significant relationship with the incidence of stunting, with a p-value of 0.002 and an OR of 3.846, meaning that toddlers who do not receive immunization have a 3.8 times greater risk of experiencing stunting compared to toddlers who receive complete immunizations. It was concluded that exclusive breastfeeding and complete immunization play an important role in preventing stunting. Therefore, it is recommended that the Health Office strengthen education regarding the importance of exclusive breastfeeding and immunization, as well as encourage parental involvement in monitoring children's growth and development.