Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERENCANAAN JARINGAN LISTRIK BAWAH TANAH GUNA MENINGKATKAN KEANDALAN KELISTRIKAN RUMAH SAKIT JIWA Sapto Nisworo; Muhammad Shinfani Wahid; Deria Pravitasari; Nahesson Hotmarama Panjaitan; Zulfikar Aji Kusworo
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 28, No 3 (2022): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v28i3.38206

Abstract

Penyaluran tenaga listrik sering mengalami padam akibat sambaran petir dan atau kabel putus akibat dari dahan pohon yang patah di rumah sakit jiwa. Luas lahan berkisar 231.304,04 m2, luas bangunan 28.289,93 m2, dan kawasan hijau 173.014,11 m2, dengan koordinat 4,1455776 mE,  9,17737705 mS. Dalam mendukung kegiatan rumah sakit menggunakan tenaga listrik dari PT. PLN yang terdiri dari dua sumber power house berkapasitas 1500 kVA dan 2000 kVA. Sepanjang tahun 2019-2020 rata-rata sambaran petir  berdasar isokeraunic level (IKL) pada kantor BMKG   sebanyak 39.175 per tahun. Saluran tenaga listrik hingga tahun 2020 menggunakan jaringan udara, sambaran petir pada jaringan tenaga listrik sering terjadi dan mengakibatkan terputusnya pasokan listrik pada gedung-gedung, kerusakan pada peralatan-peralatan listrik dan elektronik. Disisi lain rumah sakit yang dimaksud merupakan cagar budaya dan mempertahankan penghijauan. Untuk menghindari pemadaman/kerusakan yang disebabkan gangguan alam tersebut diatas, pada tahun 2021 kami mengadakan usulan pengabdian kepada masyarakat kepada rumah sakit untuk merubah jaringan listrik udara menjadi jaringan listrik bawah/dalam tanah. Metode yang ditempuh adalah dilakukan pengukuran ulang terhadap bagunan-bangunan yang dialiri tenaga listrik, dipetakan dan menentukan panel-panel penghubung, untuk setiap kelompok bangunan. Menggantikan kabel saluran udara yang telah ada digantikan dengan kabel khusus untuk saluran bawah tanah. Saluran yang dirancang mengacu pada standar yang diterbitkan oleh Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL), international electrotechnical commission (IEC) dan Standar PLN. Hasil perencanaan disimulasikan untuk keseimbangan beban antar fasa senilai 2,021%, susut tegangan tertinggi kurang dari 1%. Sambaran petir terhadap kabel saluran listrik sama dengan nol. Dengan mengacu Peraturan menteri PUPR nomor 28 tahun 2016 diperolleh rencana anggaran biaya pengadaan jaringan berkisar  5,441 milyar rupiah. Kata Kunci: keandalan, saluran listrik bawah tanah, perencanaan Astract The distribution of electricity often experiences blackouts due to lightning strikes and or broken cables due to broken tree branches at the Mental Hospital Prof. Dr. Soerojo in Magelang. The land area is around 231,304.04 m2, the building area is 28,289.93 m2, and the green area is 173,014.11 m2, with coordinates 4.1455776 mE, 9.17737705 mS. In supporting the hospital's activities using electricity from PT. PLN consists of two powerhouse sources with a capacity of 1500 kVA and 2000 kVA. Throughout 2019-2020 the average lightning strike based on the isokeraunic level (IKL) at the BMKG office was 39,175/year. The power line until 2020 uses the air network, lightning strikes on the electric power grid often occur and result in power cuts in buildings, and damage to electrical and electronic equipment. On the other hand, the hospital in question is a cultural heritage and maintains greenery. To avoid blackouts/damages caused by the natural disturbances mentioned above, in 2021 we will propose community service to hospitals to change the air power network into an underground/underground electricity network. The method adopted is to re-measure the buildings that are electrified, mapped and determine the connecting panels, for each group of buildings. Replacing the existing overhead line is replaced with a special cable for underground lines. The designed line refers to the standards published by the Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), the International Electrotechnical Commission (IEC) and PLN Standards. The design results are simulated for load balance between phases of 2.021%, the highest voltage loss is less than 1%. Lightning strikes against power line cables are equal to zero. By referring to the Minister of Public Works and Public Housing Regulation number 28 of 2016, the budget plan for network procurement is around 5.441 billion rupiahs.
Democratizing Climate Intelligence Through Localizez Large Language Models for Education and Governance Zulfikar Aji Kusworo; Widyana Verawaty Siregar; Baharuddin Ismail; Defry Hamdhana
VOCATECH: Vocational Education and Technology Journal Vol 8, No 1 (2026): April
Publisher : Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38038/vocatech.v8i1.325

Abstract

 AbstractClimate change presents complex challenges in Indonesia, where local governments and communities frequently experience information asymmetry and limited access to expert knowledge, particularly in low-resource and low-connectivity regions. This study aims to develop and evaluate a localized, domain-adapted Large Language Model (LLM) that functions as offline-capable climate knowledge infrastructure for education and local governance in Indonesia. The research method employs a design science research methodology comprising four stages: (1) selection of Qwen3-4B as the base model, (2) curation of an Indonesian climate and energy transition corpus containing approximately 12,400 instruction-response pairs (~38 MB) drawn from national climate policy documents, NDC/RPJMN frameworks, renewable energy guidelines, and educational climate science texts, (3) parameter-efficient fine-tuning using QLoRA with LoRA rank r=16, alpha=32, learning rate 2e-4, 3 epochs, per-device batch size 2 with gradient accumulation 4, and 4-bit NF4 quantization, and (4) offline deployment on consumer-grade hardware with task-oriented evaluation against three baseline models (Qwen3-4B-Thinking, Gemma-3-4B, LLaMa-3.1-8B). The results show that the fine-tuned model (Qwen3-4B-REnewbie v1) achieved a 15.4% perplexity reduction on domain-specific test data and an average qualitative score of 9.3/10 across factual accuracy, reasoning structure, and Bahasa Indonesia language compliance, outperforming all baselines (score range 7.0–8.2). The system operates fully offline on consumer-grade hardware with acceptable inference latency. The conclusion drawn from this study is that localized, resource-efficient LLMs can function as practical climate knowledge infrastructure for vocational education and local governance in Indonesia, aligning with Green AI principles and supporting the democratization of climate intelligence in low-connectivity settings. AbstrakPerubahan iklim menghadirkan tantangan kompleks di Indonesia, khususnya bagi pemerintah daerah dan komunitas lokal yang sering mengalami asimetri informasi dan keterbatasan akses terhadap pengetahuan pakar di wilayah dengan sumber daya dan konektivitas terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi Large Language Model (LLM) yang dilokalkan dan diadaptasi ke domain iklim sebagai infrastruktur pengetahuan iklim berbasis offline untuk pendidikan dan tata kelola lokal di Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan design science research yang meliputi (1) pemilihan Qwen3-4B sebagai base model, (2) kurasi korpus iklim dan transisi energi Indonesia berisi sekitar 12.400 pasangan instruksi-respons (~38 MB) dari dokumen kebijakan iklim nasional, kerangka NDC/RPJMN, panduan energi terbarukan, serta teks ilmiah iklim, (3) parameter-efficient fine-tuning berbasis QLoRA (LoRA rank r=16, alpha=32, learning rate 2e-4, 3 epoch, batch size 2 per perangkat dengan gradient accumulation 4, dan kuantisasi 4-bit NF4), dan (4) deployment offline pada perangkat keras kelas konsumen dengan evaluasi berorientasi tugas terhadap tiga baseline (Qwen3-4B-Thinking, Gemma-3-4B, LLaMa-3.1-8B). Hasil penelitian ini menunjukkan model hasil fine-tuning (Qwen3-4B-REnewbie v1) menghasilkan penurunan perplexity sebesar 15,4% pada data uji domain dan skor kualitatif rata-rata 9,3/10 pada dimensi akurasi faktual, struktur penalaran, dan kepatuhan Bahasa Indonesia, mengungguli seluruh baseline (kisaran 7,0–8,2), serta beroperasi sepenuhnya secara offline pada perangkat konsumen dengan latensi inferensi yang dapat diterima. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah LLM yang dilokalkan dan hemat sumber daya dapat berfungsi sebagai infrastruktur pengetahuan iklim yang praktis bagi pendidikan vokasi dan tata kelola lokal di Indonesia, selaras dengan prinsip Green AI dan mendukung demokratisasi kecerdasan iklim di wilayah berkonektivitas terbatas.