Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pola Interaksi Sosial Pada Lansia di Daerah Lahan Basah Siti Nurdiyanah; Didi Kurniawan; Niken Yuniar Sari
JURNAL ILMIAH OBSGIN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan P-ISSN : 1979-3340 e-ISSN : 2685-7987 Vol 15 No 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36089/job.v15i3.1283

Abstract

Pendahuluan: Lansia dikatakan sebagai tahap akhir dari kehidupan manusia. Setiap manusia tidak akan lepas dari kehidupan sosial untuk berinteraksi dengan orang lain. Interaksi sosial memiliki pola yang terdiri dari; pola kerjasama, persaingan, pertentangan dan persesuaian. Pola tersebut terbentuk berdasarkan bagaimana sikap individu beriteraksi dengan orang lain Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 174 responden diambil menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara terstruktur berdasarkan kuesioner pola interaksi sosial yang dimodifikasi kemudian dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Hasil analisis univariat mayoritas usia responden penelitian berada pada usia elderly 60-74 tahun (93,1%), berjenis kelamin perempuan (58,6%), berada pada tingkat pendidikan dasar (51,1%) bekerja sebagai IRT (42,5%). Responden memiliki pola kerjasama (27%) persaingan (25%), pola pertentangan (27%), pola persesuaian (21%), Kesimpulan: Lansia di daerah lahan basah memiliki pola interaksi sosial berupa pola kerjasama, pola persaingan, pola pertentangan dan pola persesuaian.
Studi Kasus Pengelolaan Kasus Phlebitis pada Anak yang Menjalani Kemoterapi dengan Intervensi Pemberian Kompres Aloe Vera: Case Study on the Management of Phlebitis in Children Undergoing Chemotherapy Using Aloe Vera Compresses Siti Nurdiyanah; Siti Nurdiyanah1; Nurul Huda1
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.253

Abstract

Pendahuluan: Phlebitis merupakan inflamasi vena yang menyebabkan terjadinya peradangan disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik dari pemberian terapi infus dengan dampak nyeri kemerahan dan pembengkakkan pada area penusukan. Phlebitis yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan trombophlebitis dan infeksi sistemik, yang semakin memperberat kondisi anak dengan imunitas rendah akibat kemoterapi. Aloevera sebagai terapi nonfarmakologis adalah agen topikal yang mempunyai sifat anti-inflamasi dan penyembuhan jaringan dapat digunakan sebagai kompres untuk mengurangi derajat dan gejala phlebitis. Tujuan implementasi ini untuk mengetahui pengaruh Aloe vera sebagai terapi komplementer dalam penanganan phlebitis dari perspektif keperawatan. Metode: Implementasi ini dilakukan menggunakan metodeĀ  pre-post evaluasi berdasarkan studi kasus pada dua pasien anak yang mengalami phlebitis. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 2 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien anak yang menjalani kemoterapi, pasien yang mengalami phlebitis, pasien sadar, dan kooperatif. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu sensitive terhadap aloe vera. pasien dengan kondisi tersebut tidak dilibatkan. Intervensi dilakukan selama mengalami phlebitis. Hasil: An. M plebitis dihari pertama setelah diberikan 3x/hari kompres masih grade 3, dihari ke-2 diperoleh hasil masih grade 3, dihari ke-3 terjadi penurunan grade VIP menjadi grade 2, dan pada hari ke-4 phlebitis menurun menjadi grade 0. An. A setelah diberikan 3x/hari kompres di hari pertama masih grade 3, pada hari ke 2 terjadi penurunan menjadi grade 2 dan pada hari ke-3 terjadi penurunan grade menjadi 0 Kesimpulan: Implementasi menunjukkan terapi kompres aloe vera memberikan hasil positif dalam mempercepat penyembuhan phlebitis saat kemoterapi.
Penerapan Terapi Non-Farmakologi Untuk Mengatasi Fatigue Pada Pasien Paliatif: Studi Literatur Siti Nurdiyanah; Nurul Huda
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1147

Abstract

Latar Belakang: Fatigue adalah gejala umum pada pasien paliatif, terutama pada pasien dengan kanker. Pengelolaan fatigue melalui terapi non-farmakologi, seperti terapi fisik, psikologis, dan mind-body interventions, mendapatkan perhatian dalam perawatan paliatif karena memiliki sedikit efek samping dibandingkan pengobatan farmakologi. Tujuan: Penelitian ini mengevaluasi efektivitas berbagai terapi non-farmakologi dalam mengelola fatigue pada pasien paliatif. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan dengan mengumpulkan artikel-artikel yang relevan dari berbagai basis data, termasuk PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Sembilan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis untuk mengevaluasi temuan terkait terapi non-farmakologi. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa terapi fisik, seperti aktivitas fisik moderat, terapi psikologis seperti CBT dan mind-body interventions, efektif dalam mengurangi fatigue pada pasien paliatif. Terapi musik dan aromaterapi juga menunjukkan pengurangan signifikan dalam gejala fatigue serta peningkatan kualitas hidup pasien. Selain itu, Baduanjin, Tai Chi Qigong, eurythmy therapy, somatic acupressure, dan laser auriculotherapy juga terbukti bermanfaat. Kesimpulan: Terapi non-farmakologi terbukti efektif dalam mengelola fatigue pada pasien paliatif. Implementasi yang lebih luas memerlukan pelatihan lebih lanjut bagi tenaga kesehatan.
PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI PEPPERMINT TERHADAP MUAL MUNTAH PADA PASIEN KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI INSTALASI MEDIKAL RSUD ARIFIN ACHMAD Erika Erika; Hernizah Hernizah; Khansa Rizki S; Mutia Sari; Raja Asmalinda; Siti Nurdiyanah; Syarifah Aini
Ensiklopedia of Journal Vol 8, No 2 (2026): Vol. 8 No. 2 Edisi 1 Januari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v8i2.3647

Abstract

Background: Nausea and vomiting are the most common side effects during chemotherapy and often disrupt patients' quality of life. The purpose of this implementation is to assess the effect of peppermint aromatherapy administration on reducing nausea and vomiting in cancer patients undergoing chemotherapy. The design is a one-group pretest-posttest, with implementation carried out at the Medical Installation of Arifin Achmad Hospital, Riau Province, over eight weeks, including preparation, pre-test, intervention, post-test, analysis, and dissemination. Two patients who meet the inclusion criteria participated as subjects. Human resources involved include researchers, academic supervisors, head nurses, and implementing nurses. The intervention was given through inhalation of peppermint aromatherapy using a nebulizer three times per chemotherapy cycle. Dissemination is planned through internal hospital presentations, academic forums, scientific publications, and community education. The results of the implementation showed a significant decrease in the intensity and frequency of nausea and vomiting based on RINVR measurements, accompanied by an increase in patients' subjective comfort without side effects. In conclusion, peppermint aromatherapy is effective as a non-pharmacological complementary therapy to reduce nausea and vomiting in chemotherapy patients and has the potential to be integrated into oncology nursing practice. Success evaluation was conducted through process observation, pre- and post-intervention measurements using RINVR, patient interviews, and nursing documentation audits. Data collection methods included direct observation, structured interviews, filling out RINVR instruments, and reviewing care records. This implementation supports the development of evidence-based nursing and can serve as a basis for developing SOPs for peppermint aromatherapy in the chemotherapy room.Keywords: Peppermint aromatherapy; nausea and vomiting; chemotherapy; complementary therapy; oncology nursingĀ