Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Beberapa Jenis Vaksin Covid-19 yang akan Dipakai di Indonesia MASFUFATUN; NI PUTU MANIK SURYANINGSIH; I MADE DWIKY KARINA JAYA; ALMAIDAH SAFITRI; TEOFILUS DANI PRASETYOADI; JAMES HADIPUTRA SUNARPO
HANG TUAH MEDICAL JOURNAL Vol 20 No 1 (2022): Hang Tuah Medical Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/htmj.v20i1.325

Abstract

At the end of 2019, there was a pandemic that originated in Wuhan, China. This pandemic is known as the corona virus / COVID-19. COVID-19 itself is caused by SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2). In Indonesia alone, COVID-19 cases have reached 1.17 million and those who died have reached 31,976 people. From this case, experts are racing to find this COVID-19 vaccine. The COVID-19 vaccine itself is expected to control the spread of the virus in the world. This review article aims to discuss the various types of vaccines that will be used in Indonesia in terms of types, methods of action, efficacy, specificity, sensitivity, dosage, and side effects. The results of the review article show that vaccines are one of the most effective and economical methods. Various studies have been carried out by several experts from around the world to develop a vaccine for COVID-19. Each vaccine used has the same goal, namely to control the spread of the COVID-19 virus which is currently still a pandemic around the world. Based on the results of the review article, it can be concluded that all types of vaccines have their respective advantages and disadvantages. Thus, the community will not feel worried and are more confident in determining what kind of vaccine will be taken.
Literature Review Penyampaian Resiko Informed Consent yang Dikaitkan Dengan Deontologi Dan Non-Maleficence James Hadiputra Sunarpo; Meivy Isnoviana
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 3 No 2 (2026): JKRI - Januari 2026
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informed consent merupakan proses komunikasi etis dan legal antara tenaga kesehatan dan pasien sebelum pelaksanaan tindakan medis. Salah satu unsur penting dalam informed consent adalah penyampaian risiko tindakan medis secara jelas, jujur, dan proporsional. Dalam perspektif etika kedokteran, penyampaian risiko ini memiliki keterkaitan erat dengan prinsip deontologi, yang menekankan kewajiban moral tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang benar, serta prinsip non-maleficence, yaitu kewajiban untuk tidak menimbulkan bahaya bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi penyampaian risiko dalam informed consent dilihat dari kedua prinsip etika tersebut, serta tantangan yang muncul dalam praktik klinis. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui telaah literatur terhadap jurnal-jurnal internasional dan nasional terbitan minimal tahun 2020 yang relevan dengan etika kedokteran, hukum kesehatan, dan praktik informed consent. Hasil telaah menunjukkan bahwa penyampaian risiko yang tidak lengkap, tidak proporsional, atau disampaikan secara teknis tanpa memperhatikan pemahaman pasien berpotensi melanggar prinsip deontologi karena mengabaikan kewajiban moral untuk memberi informasi memadai. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi melanggar prinsip non-maleficence karena dapat menyebabkan kerugian klinis, psikologis, maupun legal bagi pasien. Sebaliknya, praktik penyampaian risiko yang etis dan komunikatif terbukti meningkatkan kepercayaan pasien, memperkuat shared decision making, serta menurunkan risiko sengketa medis. Kesimpulannya, penyampaian risiko dalam informed consent bukan hanya kewajiban administratif, tetapi merupakan tanggung jawab etis yang harus dilaksanakan secara profesional, transparan, dan berlandaskan prinsip deontologi serta non-maleficence. Tenaga kesehatan perlu memastikan bahwa pasien benar-benar memahami risiko yang dijelaskan sehingga keputusan yang diambil bersifat sadar, sukarela, dan melindungi keselamatan pasien.