Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Intelijen Atas Potensi Ancaman Serangan Siber pada Presidensi KTT G20 Tahun 2022 di Indonesia Widyanto Pudyo P
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 1 No. 03 (2022): Edunity : Social and Educational Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.708 KB) | DOI: 10.57096/edunity.v1i03.15

Abstract

Pada tanggal 15-16 November 2022, Indonesia akan melaksanakan event besar yang tidak hanya menjadikan kebanggaan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadikan pertaruhan nama baik Indonesia di forum Internasional dalam menyelenggarakan KTT G20. Suksesnya penyelenggaraan KTT G20 selain akan menumbuhkan tingkat kepercayaan internasional terhadap Indonesia, juga akan menaikkan posisi tawar Indonesia di forum internasional. Demikian juga sebaliknya, kurang suksesnya penyelenggaraan KTT G20, tidak saja menurunkan kredibilitas Indonesia, tetapi juga dapat menurunkan tingkat kepercayaan terhadap Indonesia. Oleh karena itu, kesuksesan penyelenggaraan KTT G20 merupakan harga mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Penelitian ini merupakan penelitian berjenis deskriptif kualitatif terhadap potensi ancaman serangan siber yang dapat terjadi pada perhelatan KTT G20 di Bali, Indonesia.tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis intelijen atas potensi ancaman serangan siber pada presidensi ktt g20 tahun 2022 di indonesiaPenelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi serangan siber pada event KTT G20 relatif besar. Hal ini didasarkan pada fakta-fakta dan data tentang penyelenggaraan sebelumnya dan perkembangan ancamanan siber saat ini. Selain itu kecenderungan meningkatnya serangan siber dan belum kondusifnya situasi global serta banyaknya kepentingan negara-negara tertentu terhadap negara lain, juga menjadi dasar perkiraan potensi ancaman serangan siber pada penyelenggaraan KTT G20 yang relatif besar. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peluang ancaman serangan siber pada KTT G20 perlu mendapatkan perhatian khusus, agar deteksi dini dan cegah dini terhadap setiap ancaman serangan siber KTT G20 dapat dilaksanakan secara maksimal.
Dinamika Konflik Blok Barat-Blok Timur Jelang KTT G 20 dan Sikap Politik Indonesia Widyanto Pudyo P
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 1 No. 03 (2022): Edunity : Social and Educational Studies
Publisher : Publikasiku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.988 KB) | DOI: 10.57096/edunity.v1i03.20

Abstract

Penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia berpotensi menjadi ajang perseteruan dan perdebatan antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dan Blok Timur yang dipimpin Rusia. Amerika dan Sekutunya menyadari bahwa China, India, Brasil, Afrika Selatan, Arab Saudi, atau lainnya memiliki kemungkinan untuk tidak setuju atau memveto Rusia dari G20. sementara itu Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva menyatakan bahwa Presiden Putin berencana menghadiri KTT G20 mendatang di Bali. Tidak hanya G20, banyak organisasi di Barat mencoba untuk mengusir Rusia. Organisasi Perdagangan Dunia, Organisasi Kepabeanan Dunia. Apa yang mereka coba lakukan sebenarnya adalah menghancurkan seluruh sistem perdagangan dan jaringan logistik global yang telah dibangun dengan susah payah dalam beberapa dekade terakhir. Pertanyaannya adalah mengapa ada reaksi dari Barat yang benar-benar tidak proporsional. G20 bukanlah forum untuk membahas atau menyelesaikan krisis, tetapi forum untuk memperbaiki situasi ekonomi dan memecahkan sebagian besar masalah ekonomi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus menjelang penyelenggaraan KTT G20 di Bali, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia sebaiknya menghindari dulu berbagai pembahasan besar seperti apa cara mengakhiri perang di Ukraina. Topik yang cenderung sensitif lebih baik tidak dimunculkan di forum dan hanya disampaikan dalam pertemuan atau negosiasi bilateral. Pembahasan terkait perang Ukraina memang tidak akan dapat sepenuhnya dihindari. Tapi, setidaknya Indonesia harus punya pendekatan yang sangat hati-hati selama diskusi berlangsung dan berusaha mengarahkan dialog sedemikian rupa guna mencegah munculnya ketegangan di antara negara-negara Blok Timur dan Blok Barat