Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TUMBUH KEMBANG BAYI DENGAN LABIOGNATOPALATOSCHIZIS Dita Setiati; Nisa Shafira
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15092

Abstract

Tujuan  dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dengan labiognatopalatoschizis. Labiognatopalatoschizis, biasa disebut dengan sumbing bibir  dan lelangit merupakan kelainan wajah yang paling umum terjadi pada semua populasi dan etnik di seluruh dunia. Kami laporkan kasus bayi laki-laki lahir cukup bulan dengan labiognatopalatoschizis bilateral tanpa kelainan kongenital lainnya,  merupakan kasus yang jarang ditemui. Faktor risiko saat antenatal yaitu terpapar asap rokok selama kehamilan, ibu mengalami stres dan kelelahan akibat kerja sehingga terdapat abortus iminens. Bayi dengan gangguan pada faktor intrinsik genetik heredokonstitusional sumbing bibir dan lelangit bilateral dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai usianya. Peran serta orang tua yang sangat besar secara aktif sebagai bagian dari ekosistem mini serta penyedia kebutuhan bio-psikososial anak sehingga kebutuhan asuh yaitu nutrisi, imunisasi, pengobatan dapat terpenuhi. Bayi mendapatkan penanganan optimal sejak dini, pemasangan obturator sementara memberikan output yang baik. Pada kasus ini adalah bayi laki-laki dengan labiognatopalatoschizis dilakukan tindakan labioplasty dan rhinoplasty dilakukan saat usia 4 bulan. Saat ini bayi sudah makan nasi tim dengan lauk telur, hati, sayur tanpa tersedak. Imunisasi bayi lengkap sesuai usia. Sebagai pemenuhan kebutuhan asih dan asah, orang tua memberi kasih sayang, berkomunikasi serta stimulasi  sesuai usia perkembangan bayi. Kunci keberhasilan penanganan bibir sumbing dan lelangit adalah menata laksana yang baik secara multi-disiplin,  dokter anak, dokter bedah, termasuk bedah umum, bedah plastik, bedah mulut, serta dokter Telinga Hidung Tenggorok–KL, bayi dapat penangananan maksimal, terhindar dari infeksi diharapkan bayi dapat tumbuh kembang  optimal.
TUMBUH KEMBANG BAYI DENGAN LABIOGNATOPALATOSCHIZIS Dita Setiati; Nisa Shafira
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15092

Abstract

Tujuan  dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dengan labiognatopalatoschizis. Labiognatopalatoschizis, biasa disebut dengan sumbing bibir  dan lelangit merupakan kelainan wajah yang paling umum terjadi pada semua populasi dan etnik di seluruh dunia. Kami laporkan kasus bayi laki-laki lahir cukup bulan dengan labiognatopalatoschizis bilateral tanpa kelainan kongenital lainnya,  merupakan kasus yang jarang ditemui. Faktor risiko saat antenatal yaitu terpapar asap rokok selama kehamilan, ibu mengalami stres dan kelelahan akibat kerja sehingga terdapat abortus iminens. Bayi dengan gangguan pada faktor intrinsik genetik heredokonstitusional sumbing bibir dan lelangit bilateral dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai usianya. Peran serta orang tua yang sangat besar secara aktif sebagai bagian dari ekosistem mini serta penyedia kebutuhan bio-psikososial anak sehingga kebutuhan asuh yaitu nutrisi, imunisasi, pengobatan dapat terpenuhi. Bayi mendapatkan penanganan optimal sejak dini, pemasangan obturator sementara memberikan output yang baik. Pada kasus ini adalah bayi laki-laki dengan labiognatopalatoschizis dilakukan tindakan labioplasty dan rhinoplasty dilakukan saat usia 4 bulan. Saat ini bayi sudah makan nasi tim dengan lauk telur, hati, sayur tanpa tersedak. Imunisasi bayi lengkap sesuai usia. Sebagai pemenuhan kebutuhan asih dan asah, orang tua memberi kasih sayang, berkomunikasi serta stimulasi  sesuai usia perkembangan bayi. Kunci keberhasilan penanganan bibir sumbing dan lelangit adalah menata laksana yang baik secara multi-disiplin,  dokter anak, dokter bedah, termasuk bedah umum, bedah plastik, bedah mulut, serta dokter Telinga Hidung Tenggorok–KL, bayi dapat penangananan maksimal, terhindar dari infeksi diharapkan bayi dapat tumbuh kembang  optimal.
TUMBUH KEMBANG BAYI DENGAN LABIOGNATOPALATOSCHIZIS Dita Setiati; Nisa Shafira
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15092

Abstract

Tujuan  dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dengan labiognatopalatoschizis. Labiognatopalatoschizis, biasa disebut dengan sumbing bibir  dan lelangit merupakan kelainan wajah yang paling umum terjadi pada semua populasi dan etnik di seluruh dunia. Kami laporkan kasus bayi laki-laki lahir cukup bulan dengan labiognatopalatoschizis bilateral tanpa kelainan kongenital lainnya,  merupakan kasus yang jarang ditemui. Faktor risiko saat antenatal yaitu terpapar asap rokok selama kehamilan, ibu mengalami stres dan kelelahan akibat kerja sehingga terdapat abortus iminens. Bayi dengan gangguan pada faktor intrinsik genetik heredokonstitusional sumbing bibir dan lelangit bilateral dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai usianya. Peran serta orang tua yang sangat besar secara aktif sebagai bagian dari ekosistem mini serta penyedia kebutuhan bio-psikososial anak sehingga kebutuhan asuh yaitu nutrisi, imunisasi, pengobatan dapat terpenuhi. Bayi mendapatkan penanganan optimal sejak dini, pemasangan obturator sementara memberikan output yang baik. Pada kasus ini adalah bayi laki-laki dengan labiognatopalatoschizis dilakukan tindakan labioplasty dan rhinoplasty dilakukan saat usia 4 bulan. Saat ini bayi sudah makan nasi tim dengan lauk telur, hati, sayur tanpa tersedak. Imunisasi bayi lengkap sesuai usia. Sebagai pemenuhan kebutuhan asih dan asah, orang tua memberi kasih sayang, berkomunikasi serta stimulasi  sesuai usia perkembangan bayi. Kunci keberhasilan penanganan bibir sumbing dan lelangit adalah menata laksana yang baik secara multi-disiplin,  dokter anak, dokter bedah, termasuk bedah umum, bedah plastik, bedah mulut, serta dokter Telinga Hidung Tenggorok–KL, bayi dapat penangananan maksimal, terhindar dari infeksi diharapkan bayi dapat tumbuh kembang  optimal.
MENUJU ELIMINASI TUBERKULOSIS (PADA ANAK) DI INDONESIA PADA TAHUN 2030: SEBUAH TINJAUAN Meiriani Sari; Firda Fairuza; Dita Setiati; Nathalia Ningrum; Nia Nurul Aziza
Jurnal Akta Trimedika Vol. 1 No. 3 (2024): Juli 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v1i3.20653

Abstract

Based on WHO (World Health Organization) data in November 2023, Indonesia was still ranked in the top two cases of Tuberculosis (TB) in the world. The increase in patients with resistance to Anti Tuberculosis Drugs (ATD) available in Indonesia was increasing. TB infections not only happened in adults but children were also a group that was vulnerable to TB infection. The central and regional government had prepared various strategies to archive the elimination of TB in Indonesia by 2030.The strategies that had been prepared by the Indonesian government require support from the entire community, especially health workers. Exposed to TB elimination program had been carried out by both central and regional governments. Various trainings regarding the recognition of TB disease, therapy and programs to increase TB detection had been held by the government. How ever not all levels of society, even health worker, were exposed to this TB elimination program. Until 2024 the TB elimination program is still focused on increasing the number of TB cases detection. This shows that strong efforts from the government are still needed to achieve TB elimination. The government need to be more aggressive in disseminating information about TB elimination programs through mass media, conducting seminars or training for health workers and the community. It is hoped that this action can increase case findings and cure rate of TB by as much as 90 percent so the incidence of infection can decrease significantly in the next couple years.