Elly Naila Fauziah
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Literature Review Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi Remaja Puteri Elly Naila Fauziah
Jurnal Permata Indonesia Vol 13 No 2 (2022): Volume 13 Nomor 2, November 2022
Publisher : Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.87 KB) | DOI: 10.59737/jpi.v13i2.170

Abstract

Remaja putri mengalami masa pubertas (perubahan dari masa anak-anak menjadi dewasa secara seksual), salahsatunya ditandai dengan menstruasi. Siklus menstruasi terbagi dua, yaitu normal (jarak menstruasi 28-35 hari)dan tidak normal (jarak menstruasi < 28 hari dan > 35 hari). Hasil RISKESDAS 2010 menunjukan sebanyak13,7 % perempuan indonesia dengan usia 10-59 tahun menstruasi tidak teratur dalam setahun terakhir. Remajaputri memiliki peranan penting dalam siklus kehidupan karena pertumbuhan dan perkembangannya andil dalammempersiapkan generasi mendatang. Maka dari itu, kesehatan reproduksinya penting untuk diperhatikan,dimulai dari menciptakan siklus menstruasi yang teratur, yang merupakan salah satu tanda perkembangan sistemreproduksi wanita. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2021. Desain penelitian ini menggunakan metode studiliteratur. Sumber data penelitian menggunakan data sekunder yang didapat dengan melakukan studi literatur darijurnal-jurnal yang sesuai dengan topik penelitian dari tahun 2011-2021 sebanyak 7 jurnal. Berdasarkan hasilliteratur review penulis, disimpulkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi keteraturan siklus menstruasiremaja diantaranya status gizi, asupan gizi, kecukupan asupan zat gizi makro, tingkat stress, Indeks Masa Tubuh(IMT), kadar HB, dan aktivitas fisik. Disamping itu, diketahui pula bahwa faktor dominan yang menyebabkanketeraturan siklus menstruasi remaja adalah status gizi. Saran bagi remaja, agar dapat menjaga status gizi,asupan gizi, kecukupan asupan zat gizi makro, tingkat stress, Indeks Masa Tubuh (IMT), kadar HB, danaktivitas fisiknya agar dapat mencapai keteraturan dalam siklus menstruasinya.Kata Kunci : Siklus Menstruasi Normal, Siklus Menstruasi Remaja
Pembinaan Kader dalam Memberikan Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja pada Bina Keluarga Remaja di Dusun Gandok, Condong Catur, Sleman Elly Naila Fauziah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Volume 1, Nomor 1, Oktober 2021
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.288 KB) | DOI: 10.59737/jpmpi.v1i1.21

Abstract

Perilaku beresiko diuraikan dalam Riskesdas (2013) bahwa, 1,4% remaja berusia 10-14 tahun dan 18,3% remaja berusia 15-19 tahun telah merokok, 56% perokok laki-laki dan 59% perokok wanita memulainya sebelum 15 tahun. Data SDKI (2012) menunjukkan, 28% remaja perempuan dan 24% remaja laki-laki meminum minuman beralkohol sebelum berusia 15 tahun, 32,1% remaja perempuan dan 36,5 remaja laki-laki berusia 15-19 tahun mulai berpacaran sebelum usia 15 tahun, sekitar 0,7 % perempuan dan 4,5% laki-laki berusia 15-19 tahun melakukan seks pra-nikah, 7% remaja perempuan 15-19 tahun pernah melahirkan, dan 2,8% remaja usia 15-19 tahun terlibat penyalahgunaan NAPZA. Peran kader penting dalam hal ini sebagai pemberi edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di dusun Gandok didapatkan bahwa kader merasa kurang informasi mengenai Teknik Edukasi KRR yang efektif. Penyuluhan dapat menjadi media pembinaan kepada kader. Tujuan Meningkatkan pengetahuan kader dalam memberikan edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) pada Bina Keluarga Remaja (BKR). Menggunakan kuesioner pre-test dan post-tes, serta penyuluhan (diberikan satu kali pertemuan). Terdapat perbedaan hasil pre-test dan post-test, diperoleh peningkatan rata-rata pengetahuan kader dari 5.60 (pre-test) menjadi 8.40 (post-test). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan Sig. 2 tiled 0,00 (<0,025), menunjukkan H0 ditolak, sehingga terdapat hubungan antara penyuluhan dengan peningkatan pengetahuan kader dalam memberikan edukasi. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui pembinaan kader ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader. Pembinaan ini perlu selalu dilakukan secara berkala dan terjadwal dengan topik dan kegiatan yang berhubungan dengan tugas kader dalam merencanakan kegiatan; melakukan komunikasi, informasi, dan motivasi (KIM); dan menggerakkan masyarakat.
PENYULUHAN PENTINGNYA GIZI DALAM KESEHATAN REPRODUKSI PADA MASA REMAJA AKHIR DI RUMAH TAHFIZH IZZATUL QURAN YOGYAKARTA Elly Naila Fauziah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 2 No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2, Oktober 2022
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.768 KB) | DOI: 10.59737/jpmpi.v2i2.183

Abstract

Latar belakang: Menurut UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara utuh dari fisik, mental, sosial, yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi laki-laki dan perempuan. International Planned Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996 merumuskan 12 hak-hak reproduksi, yang salah satunya ialah hak mendapatkan informasi dan Pendidikan, yaitu setiap individu mempunyai hak atas informasi dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dan seksual termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga. Rumah Tahfidz Izzatul Quran Yogyakarta merupakan suatu lembaga pendidikan quran yang bersifat mukim, yang mana keseluruhan peserta didiknya merupakan perempuan pada masa remaja akhir (18- 24 tahun). Pendidikan terkait pentingnya Kesehatan reproduksi menjadi penting, mengingat bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan terkait Kesehatan reproduksi. Di samping itu, pada masa remaja akhir inilah pendidikan gizi dalam kesehatan reproduksi tepat untuk diberikan untuk bekal mereka dalam menghadapi masa reproduktif (20-35 tahun). Metode pelaksanaan: Menggunakan kuesioner pre-test dan post-tes, serta penyuluhan (diberikan satu kali pertemuan). Hasil dan pembahasan: Terdapat perbedaan hasil pre-test dan post-test, diperoleh peningkatan rata-rata pengetahuan remaja dari 5.70 (pre-test) menjadi 8.60 (post-test). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan Sig. 2 tiled 0,00 (<0,025), menunjukkan H0 ditolak, sehingga terdapat hubungan antara penyuluhan dengan peningkatan pengetahuan kader dalam memberikan edukasi. Kesimpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui penyuluhan terhadap remaja ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja. Penyuluhan ini perlu selalu dilakukan secara berkala dan terjadwal dengan topik dan kegiatan yang berhubungan dengan Gizi dalam Kesehatan Reproduksi.Kata Kunci: Gizi Remaja; Promosi Kesehatan; Kesehatan Reproduksi
ENILAIAN STATUS GIZI UNTUK MENCEGAH MASALAH GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI WANITA USIA SUBUR (WUS) DI EXECUTIVE TAHFIZH CENTRE YOGYAKARTA Elly Naila Fauziah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 3 No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1, Maret 2023
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpmpi.v3i1.221

Abstract

Background: Energy and nutritional needs are influenced by reproductive age, activity level, andnutritional status. (Marmi, 2013) Executive Tahfizh Center (ETC) Yogyakarta is an educational institutionfor quarantine memorizing the Koran and all of its participants live in one place. The subject of thiscommunity service is all female students (19 people) aged 15-36 years. This nutritional statusassessment is important, considering the high productivity of students in implementing this quarantineprogram and to prevent nutritional and reproductive health problems for Women of Reproductive Age(WUS). Methods of implementation: Nutrition counseling on reproductive health, anthropometricexaminations in the form of measuring body weight (BB) and height (TB) to obtain a measure ofnutritional status according to Body Mass Index (BMI), as well as age observation and measurement ofupper arm circumference (LILA) to obtain measure of nutritional status according to LILA. Results anddiscussion: The results of measuring nutritional status according to the BMI classification were 16normal people, 2 people who were severely obese, and 1 person who was mildly thin. Nutritional statusaccording to LILA classification, 15 people with good nutrition, 2 people with obesity, 1 person withoverweight, and 1 person with severe nutrition. Conclusion: Community service activities throughcounseling and nutritional status assessment can increase knowledge and provide an overview ofstudents' nutritional status. Counseling and evaluating nutritional status needs to be carried out regularlyto prevent nutritional and reproductive health problems, so as to support student productivity duringquarantine.