Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan teknologi informasi pada layanan perpustakaan dengan senayan library management system (slims) (studi kasus: perpustakaan pribadi “andalus library”) Nadiah Nurulauni; Evi Nursanti Rukmana; Asep Saeful Rohman
Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 10, No 2: Desember 2022
Publisher : S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam FTK UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/pk.v10i2.5944

Abstract

Keberadaan teknologi informasi, memberikan banyak sekali manfaat dalam menunjang aktivitas manusia, termasuk dalam bidang kepustakaan. Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan atau biasa disebut otomasi perpustakaan merupakan pemanfaatan teknologi dalam bidang manajemen dan administrasi perpustakaan. Salah satu perangkat lunak yang banyak digunakan di perpustakaan Indonesia sebagai sistem otomasi adalah SLiMS (Senayan Library Management System). Untuk mengetahui mengenai sejauh mana pemanfaatan SLiMS dalam sistem otomasi perpustakaan, penelitian pun dilakukan. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan literature view. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui observasi dan dokumentasi. Objek dalam penelitian ini adalah perpustakaan pribadi ‘Andalus Library’, terkait seberapa berdaya gunanya SLiMS 9 Bulian dan apa saja kendalanya. Untuk memulai mengelola perpustakaan pribadi, nyatanya tidak mudah, dikarenakan kurangnya sumber daya khususnya manusia. Sehingga bimbang dalam menentukan apakah proses pengelolaan dari perpustakaan sudah benar atau belum. Meskipun begitu manfaat penggunaan SLiMS yang begitu terasa adalah penggunaannya yang mudah untuk dipahami dan dapat mengefisiensikan waktu dan tenaga. Sedangkan kendala yang dialami lebih kepada kendala secara teknis. Secara keseluruhan, dari apa yang telah di dapat adalah bahwa jelas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan, khususnya dalam sistem otomasi perpustakaan, sangat memudahkan dan memberikan banyak kebermanfaatan. Kendala-kendala yang dialami lebih kepada kurangnya penguasaan pengelola perpustakaan dalam menggunakan perangkat lunak SLiMS
Program Inovasi Tatalepa Museum Gedung Sate sebagai Upaya Pelestarian Pengetahuan Lokal Jawa Barat Jasmin Pratiwi Mulyadi; Dian Sinaga; Asep Saeful Rohman
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 10, No 1 (2026): Maret
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/anuva.10.1.108

Abstract

Tatalepa merupakan program milik Museum Gedung Sate yang fokus dengan tujuannya dalam melestarikan pengetahuan dan kebudayaan lokal lewat pendokumentasian budaya dalam bentuk konten video. Program Tatalepa merupakan salah satu contoh upaya pelestarian pengetahuan lokal Jawa Barat yang memiliki banyak peluang untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan dari program Tatalepa sebelumnya dengan menggunakan analisis SWOT, membuat rancangan pedoman inovasi program Tatalepa, dan menganalisis rancangan dengan kajian atau teori yang berhubungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan R&D (Research and Development) dan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, FGD (Focus Group Discussion), studi dokumentasi, dan analisis SWOT. Penelitian dilakukan di Museum Gedung Sate pada Agustus 2024 hingga Februari 2025 dengan mengikuti lima tahap awal model penelitian dan pengembangan serta melibatkan staf Museum Gedung Sate selaku penanggung jawab program Tatalepa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program Tatalepa memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sarana pelestarian pengetahuan lokal Jawa Barat. Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan inovasi program Tatalepa yang disusun berdasarkan analisis dari program sebelumnya dan mengidentifikasi kebutuhan Museum Gedung Sate dalam proses pengembangan program yang berkelanjutan. Rancangan tersebut memuat tiga komponen utama, yaitu pendokumentasian pengetahuan lokal, aktivitas interaktif untuk pemajuan budaya, serta kolaborasi dan edukasi, yang sekaligus mencerminkan praktik knowledge sharing di tengah masyarakat.