Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Skin Manifestations due to Arthropod Bites and Stings Feisy P. Matindas; Pieter L. Suling; Nurdjannah J. Niode
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37601

Abstract

Abstract: In tropical and subtropical areas, invertebrates that threaten human health are often found inter alia arthropods. Arthropod bites and stings can cause pain and discomfort, severe tissue damage, and even death. This study aimed to determine the skin manifestations caused by arthropod bites and stings. This was a literature review study using two databases, science direct and pubmed.The keywords were arthropods AND bites and stings AND skin manifestation. The results obtained eight articles consisting of four case reports and four research articles. The most common arthropod genus invading human beings were insects and spiders.  Skin manifestations were reported as erythema, urticaria, prurigo, papula, and necrotic tissue. Atopic individual showed allergic reaction that could lead to death. Bee and wasp stings were potential to cause anaphylactic reaction that needed emergency care. Arthropod habitat could influence the invasion level and or location of bites and stings. In Europe and United States, the most frequently found were spider bites meanwhile in Asia, the mosquito bites and bee stings. In conclusion, skin manifestations due to arthropod bites and stings are erythema, urticaria, prurigo, papula, and necrotic tissue. In atopic individual, these bites and stings could lead to deathKeywords: arthropod; bites and stings; skin manifestation Abstrak: Di daerah tropis dan subtropis sering dijumpai hewan invertebrata yang mengancam kesehatan manusia, antara lain golongan artropoda. Gigitan dan sengatan artrropoda dapat menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan, kerusakan jaringan yang parah, dan menjadi penyebab beberapa kasus kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan manifestasi kulit akibat gigitan dan sengatan artropoda. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan database science direct dan pubmed. dan kata kunci arthropods AND bites and stings AND skin manifestation. Hasil penelitian mendapatkan delapan literatur, terdiri dari empat laporan kasus dan empat artikel penelitian. Genus artropoda yang paling banyak menginvasi manusia ialah serangga dan laba-laba. Manifestasi kulit yang sering dijumpai berupa eritema, urtikaria, prurigo, papula, dan nekrosis jaringan. Pada individu atopik sering dijumpai reaksi alergi bahkan mengarah kepada kematian. Manifestasi oleh sengatan lebah dan tawon juga berpotensi menyebabkan reaksi anafilaksis yang memerlukan penanganan segera. Habitat artropoda juga berpengaruh terhadap tingkat invasi dan atau lokasi dari gigitan dan sengatan. Di benua Eropa dan Amerika, kasus yang sering dijumpai berupa gigitan laba-laba sedangkan di wilayah benua Asia ialah gigitan nyamuk dan sengatan lebah. Simpulan penelitian ini ialah manifestasi kulit akibat gigitan dan sengatan artropoda berupa eritema, urtikaria, prurigo, papula, dan nekrosis jaringan. Pada individu yang atopik gigitan dan sengatan artropoda dapat berakibat fatal.Kata kunci: artropoda; gigitan dan sengatan; manifestasi kulit
Prevalensi Skabies pada Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado Raul C. Zachawerus; Nurdjannah J. Niode; Marlyn. G. Kapantow
Medical Scope Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v6i2.53598

Abstract

Abstract: Scabies is a contagious skin disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var, hominis. The prevalence of scabies in Indonesia in 2016 is estimated at 4.6-12.9% of the 261.6 million population. Scabies ranks 3rd out of the 12 most common skin infections. This study aimed to determine the prevalence of scabies among inmates in Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado (correctional insitution). This was a quantitative and descriptive study with a cross sectional design using The DeSkab (Deteksi Skabies) questionnaire. The results showed that 86 inmates out of a total of 190 inmates were detected of having scabies (45.3%) dominated by age 25-44 years (51.2%), middle education (76.7%), and unqualified occupancy density (100%). The most common distributions of lesions were between fingers (30.7%), followed by front part of wrist (20.2%), and elbow (13.5%). Cardinal signs of scabies were itching worse at night (98.8%), followed by lesions (86.1%), and itching complained by roommates (70.9%). In conclusion, the prevalence of scabies in Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado is 45.3%. Inmates with detected scabies are dominated by age 25-44 years, middle education, unqualified occupancy density, distribution of lesion between fingers, and cardinal sign as itching worse at night. Keywords: scabies; correctional institution; inmates    Abstrak: Skabies merupakan penyakit kulit menular yang diakibatkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var, hominis. Skabies menempati peringkat 3 dari 12 penyakit infeksi kulit tersering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi skabies pada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Tuminting Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang dan menggunakan kuesioner DeSkab (Deteksi Skabies). Hasil penelitian mendapatkan 86 warga binaan dari total 190 warga binaan yang terdeteksi skabies (45,3%), didominasi oleh usia 25-44 tahun (51,2%), tingkat pendidikan menengah (76,7%), dan kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat (100%). Sebaran lokasi lesi yang terbanyak ialah sela jari tangan (30,7%), diikuti pergelangan tangan depan (20,2%), dan siku luar (13,5%). Tanda kardinal skabies yang tersering muncul ialah keluhan gatal pada malam hari (98,8%), diikuti adanya bintil/lecet/borok (86,1%), dan keluhan gatal pada orang lain (sekamar) (70,9%). Simpulan penelitian ini ialah prevalensi skabies pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado sebesar 45,3%. Warga binaan terdeteksi skabies didominasi oleh usia 25-44 tahun, tingkat pendidikan menengah, kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat, sebaran lokasi lesi di sela jari tangan, dan tanda kardinal skabies keluhan gatal pada malam hari. Kata kunci: skabies; lembaga pemasyarakatan; warga binaan
Tingkat Pengetahuan Penggunaan Kosmetik pada Akne Vulgaris serta Sikap dan Perilaku Penggunaan Kosmetik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Sabrinna R. N. Hanumningtyas; Ferra O. Mawu; Nurdjannah J. Niode
Medical Scope Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v6i2.53657

Abstract

Abstract: Some cosmetics contain risky ingredients for the skin, especially for those with sensitive skin or acne. This study aimed to obtain the level of knowledge, attitude, and behavior towards cosmetics use in acne vulgaris (AV) among medical students. This was a descriptive categorial with a cross sectional design using primary data in the form of questionnaires. Respondents were students of Medical Faculty, Universitas Sam Ratulangi, Manado. The results showed that the level of knowledge of the cosmetics use in AV was in the moderate category (53.6%). The attitude of cosmetic use in the poor category was 100%. The behaviors of cosmetic use were, as follows: face cleaning twice a day (71.5%), using one type of facial cleanser (43.6%), using one facial cleansing device (71.5%), always using facial cream (36.9%), always using sunscreen (46.9%), and female respondents who used solid powder (41.8%). In conclusion, the level of knowledge of medical students at Universitas Sam Ratulangi was in moderate category, meanwhile the attitude was in poor category. Furthermore, the majority of students exhibited the behavior of cleansing their faces twice daily, using a singular type of facial cleanser and cleansing device. Additionally, most students consistently applied facial cream and sunscreen, while a significant portion of female respondents using compact powder. Keywords: level of knowledge; attitude; behavior; cosmetics; medical students    Abstrak: Beberapa jenis kosmetik mengandung bahan berisiko bagi kulit, terutama untuk yang berkulit sensitif atau berjerawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan penggunaan kosmetik pada acne vulgaris (AV) serta sikap dan perilaku penggunaan kosmetik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Jenis penelitian ialah deskriptif kategorik dengan desain potong lintang menggunakan kuesioner. Responden penelitian ialah mahasiswa FK Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Hasil penelitian memperlihatkan tingkat pengetahuan penggunaan kosmetik pada AV berada dalam kategori cukup sebesar 53,6%. Sikap penggunaan kosmetik responden berada dalam kategori kurang sebesar 100%. Perilaku penggunaan kosmetik responden dalam membersihkan wajah 2x/hari (71,5%), menggunakan satu jenis pembersih wajah (43,6%), menggunakan satu perangkat pembersih wajah (71,5%), selalu menggunakan krim wajah (36,9%), selalu menggunakan tabir surya (46,9%), dan responden perempuan yang menggunakan bedak padat (41,8%). Simpulan penelitian ini ialah tingkat pengetahuan mahasiswa FK Unsrat ialah cukup, sikap mahasiswa dalam penggunaan kosmetik ialah kurang, dan perilaku mahasiswa mayoritas membersihkan wajah dua kali sehari, menggunakan satu jenis pembersih dan perangkat pembersih wajah. Sebagian besar mahasiswa selalu menggunakan krim wajah dan tabir surya, serta sebagian besar responden perempuan menggunakan bedak padat.   Kata kunci:  tingkat pengetahuan; sikap; perilaku; kosmetik; mahasiswa fakultas kedokteran