Yayat Hidayat
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TETANUS TOKSOID BAGI CALON PENGANTIN DALAM PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH Wahyuni Wahyuni; Yayat Hidayat; Ari Apriansyah
El 'Ailaah Vol 1 No 1 (2022): El 'Aailah: Jurnal Kajian Hukum Keluarga
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.568 KB)

Abstract

Islam memandang bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang luhur dan sakral, bermakna ibadah kepada Allah SWT., serta mengikuti Sunnah Rasulullah SAW., dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan, tanggung jawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus dipatuhi. Salah satu tujuan perkawinan adalah untuk memperbanyak keturunan, bahkan menjadi faktor asasi dalam mempertahankan generasi dan memelihara nasab. Maka langkah penting yang sebaiknya dilakukan oleh calon pengantin adalah menyiapkan kesehatan fisiknya sebaik mungkin. Tetanus merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. Tetanus dapat terjadi pada orang yang belum diimunisasi, orang yang diimunisasi sebagian, atau telah diimunisasi tetapi tidak memperoleh imunitas yang cukup karena tidak melakukannya secara berkala, akibatnya angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi. Imunisasi dengan Tetanus Toksoid (TT) adalah salah satu pencegahan yang sangat efektif. Sejak tahun 1989 telah ditetapkan Instruksi bersama untuk melakukan suntik Tetanus Toksoid (TT) bagi calon pengantin yang belum dilakukannya pembaruan sampai saat ini, hal tersebut perlu diketahui sejauh mana manfaat suntik tetanus toksoid dan bagaimana hukumnya suntik tetanus toksoid tersebut bagi wanita usia subur khususnya calon pengantin dan ibu hamil. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dengan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi di UPTD Puskesmas Kecamatan Maleber data yang telah penulis peroleh kemudian direduksi, disajikan, kemudian disajikan dengan teknik analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis maka dapat disimpulkan bahwa manfaat dilakukannya suntik imunisasi tetanus toksoid terhadap calon pengantin adalah untuk mencegah timbulnya tetanus pada luka yang dapat terjadi akibat hubungan sesksual pertama, mencegah penularan kuman tetanus ke janin melalui aktifitas pemotongan tali pusat, melindungi ibu melahirkan yang kemungkinan terserang tetanus saat terluka dalam proses persalinan, memberikan kekebalan pasif terhadap tetanus sehingga apabila tetanus tidak dapat dihindari tidak menyebabkan penyakit yang berat. Hal ini sesuai dengan kaidah bahwa menghilangkan kemudharatan itu harus diupayakan dan lebih diutamakan demi menghindar dari segala sesuatu yang dapat mengancam lima tujuan pokok hukum Islam yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga akal, dan menjaga harta, dalam hal ini suntik imunisasi tetanus toksoid lebih ditekankan pada upaya menjaga jiwa dan menjaga keturunan, serta menempati tingkatan hajiyat atau kebutuhan sekunder.
Praktik Arisan Gabah di Kalangan Petani Perspektif Hukum Islam Rimah; Yayat Hidayat
Al Barakat Vol 6 No 1 (2026): Al Barakat: Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59270/jab.v6i1.402

Abstract

Rice-Arisan is a community-based rotating savings activity carried out in Bondan Village, Sukagumiwang District, Indramayu Regency. The process of this rice-arisan is conducted twice a year, with contributions paid in the form of rice harvested by the farmers. There is a condition in which the price of rice may fluctuate, while the contribution amount remains unchanged. This study aims to examine how the rice-arisan is practiced in Bondan Village, Sukagumiwang District, Indramayu Regency, and to analyze it from the perspective of Islamic law. The research method used in this study is qualitative research with a field research approach. Data collection techniques employed include interviews and documentation. The results of the study show that: first, in practice, the rice-arisan involves differences in the type and quality of rice, which lead to variations in the sales value. However, there is an agreement among the farmers based on mutual consent at the beginning of the arisan arrangement. Second, from the perspective of Islamic law, the rice-arisan falls under the category of mutual assistance among members and is classified as qardh (loan), as it fulfills the requirement of mutual consent among all participants regarding the contributions. However, it still contains an element of riba (usury), due to the obligation to provide an additional item in the form of cigarettes to the winner, which renders the transaction usurious. In addition, the practice of rice-arisan also contains an element of gharar (uncertainty). Nevertheless, in this context, the gharar is considered minor and does not invalidate the qardh.