Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LIRIK LAGU DOLANAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK KOMUNIKASI BERBAHASA JAWA: ANALISIS FUNGSI Daru Winarti
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.36 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.4

Abstract

Penelitian ini mengkaji fungsi bahasa dalam lirik lagu dolanan. Tujuannya ialah untuk mengetahui berbagai fungsi yang ada dalam lirik lagu dolanan sebagai salah satu bentuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik yang memperhatikan bagaimana pemakaian bahasa sehingga dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dalam lirik lagu dolanan memiliki beberapa fungsi, seperti fungsi regulatoris, fungsi interaksi, fungsi personal, fungsi heuristik, fungsi informatif, dan fungsi puitik.This research discusses the function of language in the lyrics of lagu dolanan. The research is aimed to investigate the functions of the lyrics of lagu dolanan as a form of communication in Javanese language. This research is conducted by using sociolinguistic approach that concerns about how language is used, so that it can carry out its function optimally. The result of this research shows that the language in the lyrics of lagu dolanan has saveral functions, such as regulatoric, interactive, personal, heuristic, informative, and poetic function.
Komponen Makna Leksikon ‘Makan’ Dalam Bahasa Jawa di Yogyakarta Chusna Amanda Mauliza; Daru Winarti
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi Mei)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i5.336

Abstract

Setiap leksem yang menggambarkan tindakan 'makan' dalam bahasa Jawa tidak hanya menggambarkan tindakan makan secara literal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan variasi makna dan penggunaan leksikon 'makan' secara rinci, dengan menyoroti bagaimana leksem-leksem tersebut mencerminkan budaya masyarakat Yogyakarta. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan narasumber berusia minimal 40 tahun, untuk mendapatkan wawasan langsung dari penutur asli. Melalui analisis komponensial, penelitian ini mengungkap kekayaan dan variasi leksikon 'makan' dalam bahasa Jawa di Yogyakarta, yang menjadi cerminan kuat dari struktur sosial dan tradisi budaya masyarakat Jawa. Leksikon makan dalam bahasa Jawa sangat kaya dan bervariasi, mencerminkan berbagai aspek hubungan sosial, tingkat formalitas, keakraban, dan nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta. Pemilihan kata yang tepat dalam konteks tertentu dapat membantu menjaga harmoni sosial, menunjukkan rasa hormat, serta memperkuat ikatan antara individu-individu yang terlibat dalam komunikasi.
TRANSFORMASI NAMA DESA DI KABUPATEN KEPAHIANG: ANALISIS BENTUK KEBAHASAAN Putra, Libra Dui; Libra Dui Putra; Daru Winarti
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/7xtz6080

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji transformasi linguistik nama-nama desa di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, yang telah mengalami pergeseran dari bahasa Rejang ke bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis 18 nama desa berdasarkan struktur morfologisnya, dengan fokus pada proses pergeseran bahasa serta dampaknya terhadap nilai-nilai budaya dan linguistik lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toponim yang dianalisis tergolong monomorfemik dan polimorfemik. Transformasi ini sering kali menyebabkan hilangnya unsur budaya dan historis yang melekat dalam toponim asli, mencerminkan ketegangan antara pelestarian tradisi linguistik dan pemenuhan kebutuhan administratif modern. Analisis menunjukkan bahwa bahasa Rejang menggunakan pola morfologis aglutinatif untuk menyampaikan makna geografis sekaligus mencerminkan hubungan sosial, historis, dan kultural masyarakat setempat.Kata kunci: Transformasi, Morfologi, Rejang, Budaya, Toponimi. Abstract This study examines the linguistic transformation of village names in Kepahiang Regency, Bengkulu Province, which have shifted from the Rejang language to Indonesian. The study employs a qualitative descriptive method to analyze 18 village names based on their morphological structures, focusing on the language shift process and its impact on local cultural and linguistic values. The findings indicate that all analyzed toponyms are classified as monomorphemic and polymorphemic. This transformation often results in the loss of cultural and historical elements embedded in the original toponyms, reflecting the tension between preserving linguistic traditions and meeting modern administrative needs. The analysis reveals that the Rejang language employs an agglutinative morphological pattern to convey geographic meaning while reflecting the social, historical, and cultural relationships of the local community. Keywords: Transformation, Morphology, Rejang, Culture, Toponymy
Menjajaki Relevansi Folklor dengan Toponimi Lima Desa Kawasan Situs Adipati Panjer sebagai Pemertahanan Konstruksi Sejarah Lisan : Kajian Linguistik Antropologis Eliesa Ratih Anggraeni; Daru Winarti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/qcy6ey10

Abstract

Penelitian ini membahas toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, yang berkaitan dengan folklor tentang peperangan antara Adipati Panjer dan Gendam Semaradana. Kajian ini bertujuan mengungkap makna dan fungsi penamaan lima desa di kawasan tersebut yaitu Gondang, Kenep, Kayunan, Jarak, dan Kalasan berdasarkan perspektif linguistik antropologis dan semiotika Ferdinand de Saussure, serta klasifikasi makna toponimi menurut Sudaryat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi data yang melibatkan wawancara mendalam dengan juru kunci dan kepala desa, observasi lapangan, serta studi literatur terhadap naskah Babad Khadiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penamaan lima desa di sekitar Situs Adipati Panjer merefleksikan nilai-nilai historis, geografis, dan budaya masyarakat setempat yang berakar pada folklor. Temuan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa konsep arbitraritas bahasa yang dikemukakan Ferdinand de Saussure berlaku pada penamaan desa yang berasal dari latar belakang folklor, seperti desa Gondang mempunyai makna referensial kebo ghondangen, desa Kenep mempunyai makna nginep, desa Kayunan mempunyai makna ayun, desa Jarak mempunyai makna pohon jarak, desa Kalasan mempunyai makna alas. Berdasarkan klasifikasi makna toponimi Sudaryat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, Desa Gondang dan Kayunan menunjukkan aspek kebudayaan, Kenep menunjukkan aspek kemasyarakatan, sedangkan Jarak dan Kalasan merepresentasikan aspek perwujudan atau alam. Dengan demikian, toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai sistem tanda budaya yang menyimpan sejarah lisan di Kabupaten Kediri dan pemertahanan identitas daerah.