Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TRANSFORMASI ALAT PERTANIAN TRADISIONAL KE ALAT PERTANIAN MODERN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA TENGAH Prembayun Miji Lestari; Retno Purnama Irawati; Mujimin Mujimin
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.455 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.312

Abstract

The ancestors of the Javanese community have knowledge of farming methods on agricultural land and various tra-ditional farming equipment passed down from generation to generation, which is still simple in nature, used by a group of hereditary communities and is part of the technology system they possess according to their cultural con-ception. There are two types of agricultural equipment used, namely traditional and modern farming tools. Traditi-onal farming tools are simple and driven using human labor, while modern agricultural tools are driven by machines. The transformation of traditional agricultural tools to modern agricultural tools needs to be studied more deeply. This article will discuss about the traditional agricultural tools used by the Javanese people, especially Cen-tral Java, along with the transformation of traditional agricultural tools into modern agricultural tools. This article is derived from research that utilizes qualitative descriptive research approach. Data were collected using interview technique, observation, and literature study. Interviews were conducted with informants (rice farmers and owner of agricultural land) who were considered to know and master the problems of traditional farming equipment in Klaten District. The reasons for use of traditional farming tools by farmers are (1) farmers feel that traditional farming tools are more appropriate than modern farming tools, (2) unprocessed areas, (3) able to reach narrow areas, (4) practical and easy to carry as well as used, and (5) low prices and such tools are easy to find. Some traditional farming tools have undergone transformation into modern agricultural tools. These modern agricultural tools are operated by machines, can be grouped into (1) modern soil implements, (2) modern cultivators, and (3) modern harvesters.Nenek moyang masyarakat Jawa memiliki pengetahuan cara bercocok tanam di lahan pertanian dan berbagai macam peralatan pertanian tradisional yang diwariskan secara turun temurun, yang masih sederhana sifatnya, digunakan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun dan merupakan bagian dari sistem teknologi yang mereka miliki menurut konsepsi kebudayaannya. Ada dua jenis alat pertanian yang digunakan, yakni alat pertanian tradisional dan mo-dern. Alat pertanian tradisional bentuknya sederhana dan digerakkan menggunakan tenaga manusia, sedangkan alat pertanian modern digerakkan dengan menggunakan mesin. Transformasi alat pertanian tradisional menuju alat pertanian modern perlu untuk dikaji lebih dalam. Artikel ini akan membahas tentang alat pertanian tradisional yang dimanfaatkan masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, berikut transformasi alat pertanian tradisional menjadi alat pertanian modern. Artikel ini berasal dari penelitian yang memanfaatkan pen-dekatan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan para informan (para petani padi dan petani ladang) yang dianggap mengetahui dan menguasai masalah alat pertanian tradisional di Kabupaten Klaten. Penggunaan alat pertanian tradisional oleh petani ini dengan alasan (1) petani merasa alat pertanian tra-disional lebih tepat dipergunakan daripada alat pertanian modern, (2) area yang diolah tidak luas, (3) mampu menjangkau area yang sempit, (4) praktis dan mudah dibawa serta digunakan, dan (5) harga murah dan alat tersebut mudah ditemukan. Beberapa alat pertanian tradisional telah mengalami transformasi menjadi alat pertanian modern. Alat pertanian modern ini dioperasikan dengan mesin, da-pat dikelompokkan menjadi (1) alat pengolah tanah modern, (2) alat tanam modern, dan (3) alat pemanen modern. 
Nilai-Nilai Profil Pelajar Pancasila dalam Bahan Ajar Bahasa Jawa Elsa Diana Rahmawati; Mujimin Mujimin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i3.3507

Abstract

Profil pelajar Pancasila menjadi landasan utama dalam penguatan karakter peserta didik pada kurikulum merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana nilai-nilai profil pelajar Pancasila terintegrasi dalam bahan ajar Bahasa Jawa kelas VII–IX pada elemen membaca di SMP Negeri 6 Pati. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi dokumen digunakan untuk menganalisis bahan ajar. Teknik pengumpulan data menggunakan metode simak, baca, dan catat lalu dikumpulkan melalui kartu data. Analisis mengikuti teknik Miles dan Huberman, dan validitas data dipastikan melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 38 temuan data yang mengindikasikan adanya implementasi nilai-nilai profil pelajar Pancasila. Dimensi yang paling dominan adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia (28,95%), diikuti oleh gotong royong (26,32%), berkebinekaan global (18,42%), bernalar kritis (13,16%), mandiri (7,89%), dan kreatif (5,26%). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun nilai-nilai tersebut telah diintegrasikan, penyebarannya belum merata pada seluruh materi pembelajaran.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI KECERDASAN BUATAN, PROGRAM CANVA DAN TIKTOK : UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KINERJA GURU ERA DIGITAL Prembayun Miji Lestari; Retno Purnama Irawati; Mujimin Mujimin; Siminto Siminto; Indira Duaty
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.35068

Abstract

Perkembangan teknologi digital utamanya di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, disingkat AI) sangat melesat saat ini. Perubahan teknologi besar yang memberikan peluang positif bagiproduktivitas kinerja, tentu berdampak pada SDM (Sumber Daya Manusia) di berbagai lini untuk beradaptasi. Penggunaan media sosial dan AI khususnya bagi para guru menjadi tuntutan penting guna menunjang kinerja dan performa profesional. Para guru perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terkait ini, mengingat di lapangan masih banyak yang mengalami gagap teknologi(gaptek) dan kurang up date mengikuti inovasi teknologi terbaru. Sementara para siswa generasi saat ini tumbuh berkembang dengan teknologi digital, media sosial, smartphone, dan internet dalamkeseharian. Berangkat dari kondisi tersebut, pengabdian kepada masyarakat ini bertujuanmeningkatkan literasi digital dan produktivitas kinerja para guru di Kabupaten Klaten melalui pelatihanpemanfaatan teknologi AI, program Canva, dan Tiktok. Program pengabdian ini dipilih lantaran para guruyang dijadikan sasaran pengabdian mengalami kendala menggunakan aplikasi teknologi digital berbasis AI, program Canva, dan Tiktok. Selain itu masih terbatas pengetahuan para guru memanfaatkan teknologi terkait, sementara keterampilan itu menjadi kebutuhan pokok zaman sekarang. Berdasarkan analisis situasi,permasalahan, dan kebutuhan mitra, dapat disimpulkan kegiatan ini sangat penting dilakukan. Teknis pelaksanaan pengabdian dilakukan dua kali: 1) penyampaian materi, diskusi, dan praktik pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, program canva, dan Tiktok; 2) pendampingan praktik pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, program Canva, dan Tiktok. Hasil evaluasi menunjukkan setelah pelatihan, para guru mampu memanfaatkan teknologi IA, menggunaan program Canva dan Tiktok dengan lebih maksimal.
Development of a Javanese Script Learning Website Based on Experiential Learning and Audio Instructional to Enhance Javanese Script Grapheme Literacy of Visually Impaired Children Risywan Taufiq; Nur Hanifah Insani; Mujimin Mujimin
Pedagogy Review Vol 5, No 1 (2026): Pedagogy Review
Publisher : Institute of Multidisciplinary Research and Community Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61436/pedrev/v5i1.pp107-123

Abstract

The fostering of Javanese script literacy should be implemented across all levels of Javanese society, including visually impaired children, as part of an inclusive effort to preserve cultural heritage. However, the limited availability of accessible learning media remains a major challenge in Javanese script instruction. Therefore, this study aims to develop an audio-instruction-based learning website for visually impaired students, integrated with the experiential learning model and packaged as a game-based challenge called Bagong’s Smart, to introduce and train students in writing complete and accurate Javanese script graphemes. This study employed the Four-D (4D) development model, consisting of the define, design, develop, and disseminate stages. Website development was carried out using PHP and the Laravel framework in Visual Studio Code. The Javanese script font used was Mbata Sarimbag, which has been shown to help visually impaired students more easily recognize and map grapheme patterns in Javanese script. The research was conducted at SLB Negeri Semarang using observation, interviews, and questionnaires as data collection techniques. Data analysis was carried out through media feasibility testing, Javanese script material feasibility testing, and evaluation of the media’s potential to support learning. The results indicate that Bagong’s Smart is highly feasible for use in learning the Javanese script by students with disabilities. This feasibility is supported by the media validation results, which achieved an average score of 91.1%, and the material validation results, which reached an average score of 97.3%. In addition, the Bagong’s Smart website demonstrated the potential to support visually impaired students’ ability to write complete and accurate Javanese script graphemes, as evidenced by the average score for students’ independent Javanese script writing, which reached 81.9%. This study offers an alternative website-based digital learning platform that optimizes audio instructional features and direct learning experiences to expand educational accessibility for visually impaired students. Keywords: Experiential learning, Javanese script grapheme, visual impairment, web accessibility.
KEMAMPUAN GURU BAHASA JAWA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN BERMAKNA DI SMA NEGERI 1 PAMOTAN KABUPATEN REMBANG Fitriyah Fitriyah; Mujimin Mujimin; Ucik Fuadhiyah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.13374

Abstract

Teachers play a crucial role in fostering meaningful learning, yet empirical studies investigating teachers' pedagogical competencies in implementing meaningful learning within local language subjects remain limited. This study aims to analyze the pedagogical competencies of a Javanese language teacher in executing meaningful learning on the topic of unggah-ungguh basa (Javanese speech levels) at SMA Negeri 1 Pamotan, Rembang Regency. This study employed a descriptive qualitative approach. The research subjects were selected using a purposive sampling technique, involving one tenth-grade Javanese language teacher and 36 tenth-grade students as learning participants. Data collection techniques included direct classroom observation, instructional video documentation, and teaching module document analysis. The research instruments were structured based on Ausubel's meaningful learning theory and modern pedagogical assessment frameworks. The findings reveal that the teacher's capability in implementing meaningful learning achieved a "very good" category, with an average score of 3.85 out of a 4.00 scale. The teacher consistently connected new instructional materials to students' prior knowledge, prioritized conceptual comprehension over rote memorization, contextualized linguistic etiquette within daily life, facilitated dialogic peer interactions, and executed reflective formative assessments. However, the teacher's competence in delivering probing questions based on higher-order thinking skills (HOTS) requires further enrichment. Overall, the Javanese language teacher demonstrated proficient pedagogical competencies in establishing meaningful learning that promotes student engagement and sociolinguistic etiquette. ABSTRAK Guru berperan penting dalam menciptakan pembelajaran bermakna, sementara kajian tentang kemampuan pedagogis guru terkait implementasi pembelajaran bermakna pada muatan lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pedagogis guru Bahasa Jawa dalam mengimplementasikan pembelajaran bermakna pada materi unggah-ungguh basa di SMA Negeri 1 Pamotan, Kabupaten Rembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yang terdiri atas 1 orang guru Bahasa Jawa kelas X dan 36 peserta didik kelas X-E sebagai partisipan pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di kelas, perekaman dokumentasi video, dan telaah dokumen modul ajar. Instrumen penelitian dikembangkan berdasarkan teori meaningful learning Ausubel dan prinsip asesmen pedagogis modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran bermakna berada pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata 3,85 dari skala 4,00. Guru secara konsisten mampu mengaitkan materi baru dengan pengetahuan awal siswa, mendorong pemahaman konsep tanpa hafalan mekanis, mengontekstualisasikan kaidah bahasa dengan realitas pergaulan sehari-hari, memfasilitasi interaksi dialogis, serta melaksanakan asesmen formatif reflektif. Namun demikian, keterampilan guru dalam merumuskan pertanyaan pelacak berbasis higher-order thinking skills (HOTS) yang menantang pemikiran kritis mendalam masih memerlukan penguatan. Secara keseluruhan, guru Bahasa Jawa telah menguasai kompetensi pedagogis pembelajaran bermakna yang adaptif dalam mendukung internalisasi nilai kesantunan berbahasa.