M. Oktavia Vidiyanti
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

OPOSISI BINER PADA TOKOH PERAWAN SUNTHI DALAM SASTRA LISAN KENTRUNG PERAWAN SUNTIHI TUBAN M. Oktavia Vidiyanti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2380.832 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.87

Abstract

Tulisan ini mengungkap aspek-aspek ketertindasan perempuan atas diri laki-laki yang dialami tokoh bernama Perawan Sunthi yang terdapat dalam lakon kentrung Tuhan Jawa Timur. Dalam cerita kentrung tersebut, Perawan Sunthi sebagai tokoh utama perempuan mengalami penindasan structural yang berfokus pada struktur patriarki. Struktur itu berupa oposisi biner yang menunjukkan ketidakadilan yaitu melemahkan posisi perempuan melalui pelabelan negatif terhadap perempuan sehingga meletakkan perempuan pada posisi inferior. Dengan menggunakan konsep oposisi biner akan menunjukkan bahwa struktur laki-laki maupun perempuan yang hierarkis akan menimbulkan bentuk- bentuk oposisi biner yang akan memberikan wacana ketidakadilan gender sehingga dapat mengakibatkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian tulisan ini diharapkan dapat memberikan wacana gender dalam situasi sosial yang lebih egaliter. This paper reveals woman oppression under man authority that experienced by Perawan Sunthi in kentrung character, Tuban, East Java. Ln Kentrung story, Perawan Sunthiasa main character has undergone structural oppression focusing on patriarchal structure. The injustice binary opposition structure weakens woman position by giving negative label on woman that puts the woman on inferior position. By using binary opposition concept will show that hierarchal man or woman structure makes binary opposition forms giving gender injustice discourse so that it causes discrimination and violence against woman. Therefore, this paper is expected to contribute gender discourse in more egalitarian social situation.