Thafhan Muwaffaq
Universitas Al-azhar Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENGINTROSPEKSIKAN KEMUNCULAN DAN SIFAT ALAMI BERITA PALSU SEBAGAI GENRE DENGAN PARAMETER TEKSTUAL: PEMROSESAN TEKS SEMIOTIKA KOGNITIF (Introspecting the Emergence and Nature of Fake News as A Genre with Textual Parameter: Cognitive Semiotics Text Processing) Thafhan Muwaffaq; Lusi Lian Piantari
SAWERIGADING Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v28i2.1046

Abstract

Dalam makalah ini, kami mengintrospeksikan berita palsu sebagai genre yang pemroduksiannya diasumsikan sebagai terhubung dengan sosio-tekstual dinamik; parameter; dan intensionalitas tindak tutur. Literatur berita palsu sejauh ini belum menjelaskan secara terperinci bagaimana sifat alami dan dinamika teks berita palsu sebagai genre. Sebagai bagian dari kerangka kerja pemrosesan teks semiotika kognitif, kami menerapkan metode introspeksi atas 57 teks yang dilaporkan Kemenkominfo sebagai berita palsu pada bulan April 2020 dan Juni 2020. Sebagai tambahan, pesan terusan media whatsapp dan unduhan video media sosial yang telah diteruskan secara frekuen juga dijadikan objek introspeksi. Beberapa argumen hipotetikal yang kami ajukan adalah (1) kemunculan berita palsu sebagai genre adalah hasil dinamika sosio-tekstual yang meliputi penerimaan dan penolakan sosial terhadap teks yang kami sebut sebagai “berita rumor”. Kemunculan berita palsu sebagai genre mempercontohkan stabilitas genre, sementara proses dinamik yang mengubah berita rumor menjadi berita palsu adalah perkembangan genre. Selanjutnya, (2) tekstualitas berita rumor maupun berita palsu dikonstitusikan oleh unsur-unsur linguistik dan non-linguistik yang mengaktivasi bingkai pemberitaan. Aktivasi bingkai pemberitaan dalam berita rumor secara hipotetikal memberi efek penyita atensi pembaca, sehingga melemahkan daya kognitif yang dibutuhkan untuk bersikap kritis. (3) Kami memproposisikan terdapat perbedaan parametrik antara genre berita rumor dengan genre berita palsu, sekalipun keduanya termanifestasikan sebagai teks yang sama. Perbedaan parametrikal tersebut kami anggap sebagai ilustrasi perkembangan dinamik genre, teks, dan sosial yang dapat mengubah jenis teks seperti dicontohkan genre berita rumor dan berita palsu. (4) Terkait intensionalitas, kami menklaim pembuat teks (penutur) berita palsu melanggar aturan-aturan semantik dan pragmatik dalam prinsip illocutionary acts (selanjutnya tindakan-tindakan ilokusioner) dengan intensi deseptif dan penggunaan tuturan serius. Anonimitas pembuat teks senantiasa menyelamatkan pembuat teks dari intensionalitas tersebut, sementara menaruh penyebar teks naif atau propagator sebagai pengemban tanggung jawab dari fabrikasi dalam teks. Signifikansi penelitian kami adalah proposisi yang dapat dijadikan landasan untuk merumuskan hipotesis untuk pengujian di penelitian mendatang. Dengan poin-poin substansial yang kami paparkan, makalah ini menyediakan penggambaran sifat alami dan dinamika berita palsu sebagai genre secara komprehensif. 
Partial Experimental Findings on the Construal Base vs. Affixed Lexical Forms in Indonesian Measured through Drawing Duration Thafhan Muwaffaq; Lusi Lian Piantari
Linguistik Indonesia Vol. 44 No. 1 (2026): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v44i1.917

Abstract

Our study investigated whether Indonesian affixations affect speakers’ construal of base lexical forms. The participants in this study completed a drawing task with duration serving as an indirect index of construal. We hypothesized that affixed forms would require longer drawing durations due to the schematic meaning embedded by grammatical morphemes. Experiment 1 tested noun-based form batas, Experiment 2 tested verb-based form tumbuh, and Experiment 3 tested adjective-based form cepat, each with their respective affixed forms.  Experiment 1 yielded partial significant results: three affixed forms (batasan, pembatasan, and membatas) required significantly longer drawing durations than the base form. Experiment 2 showed no significant effects, while Experiment 3 suggested overall significance although post-hoc tests failed to validate specific pairwise differences. Despite mixed results, this study provides preliminary evidence that Indonesian derivational affixation influences construal, thus providing preliminary experimental evidence for construal effects of derivational morphology in Indonesian cognitive semantics.