Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

Perbandingan Kadar IL-1α antara Tindakan Debridement Tajam Agresif dan Debridement Tajam Konservatif pada Penderita Kaki Diabetik Tjiptadi, Vincent D.; Tangkilisan, Adrian
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 10, No 1 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.1.2018.19000

Abstract

Abstract: Diabetic foot is a chronic complication of diabetes mellitus which is commonly found but very threatening due to its unsatisfied management, usually ended with amputation or death. Sharp debridement is the gold standard of diabetic foot, albeit, it has to be considered wisely due to the metabolic disorder, sepsis, and other comorbid factors of the patients. This study was aimed to compare the dynamics of Il-1α levels in patients with aggresive sharp debridement and with conservative sharp debridement associated with clinical improvement. This was an experimental analytical study. There were 38 patients with diabetic foot admitted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado with an age range of 30-60 years, obtained by using simple random sampling. The patients were divided inti two groups: aggressive sharp debridement dan conservative sharp debridement, each of 19 patients. Samples for laboratory examination were collected before and after debridement. In consevative sharp debridement group, the mean levels of IL-1α before treatment was 108,158±14,519 pg/ml meanwhile after treatment was 108,526±16,625 pg/ml that showed no significant elevation. In aggressive sharp debridement group, the mean levels of IL-1α before treatment was 93,263±15,172 pg/ml meanwhile after treatment was 104,052±18,807 pg/ml that showed a significant elevation. Conclusion: In patients with diabetic foot, elevation of IL-α levels after aggressive sharp debridement was greater than after conservative sharp debridement.Keywords: diabetic foot, sharp debridement, interleukin 1-αAbstrak: Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes melitus yang sering dijumpai dan ditakuti oleh karena pengelolaannya sering mengecewakan dan berakhir dengan amputasi, bahkan kematian. Penanganan dengan debridemen tajam pada pasien dengan kaki diabetik merupakan baku emas tetapi masih dipertimbangkan akibat adanya gangguan metabolik, sepsis dan faktor komorbid lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tindakan debridement tajam agresif dan konservatif pada pasien kaki diabetik dengan dinamika kadar IL-1α dan hasil perbaikan klinis. Jenis penelitian ialah eksperimental analitik. Populasi penelitian ialah pasien kaki diabetik yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan rentang usia 30-60 tahun. Subjek penelitian diperoleh dengan simple random sampling, terdiri dari 38 pasien, dibagi atas dua kelompok: tindakan debridemen tajam agresif dan debridemen tajam konservatif, masing-masing 19 pasien. Pengumpulan sampel untuk pemeriksaan laboratorik dilakukan sebelum dan setelah masing-masing tindakan. Pada kelompok tindakan konservatif didapatkan rerata nilai IL-1α sebelum tindakan ialah 108,158±14,519 pg/ml sedangkan setelah tindakan ialah 108,526±16,625 pg/ml yang menunjukkan tidak terdapat peningkatan bermakna. Pada kelompok tindakan agresif nilai IL-1α sebelum tindakan ialah 93,263±15,172 pg/ml sedangkan setelah tindakan ialah 104,052±18,807 pg/ml yang menandakan peningkatan bermakna. Simpulan: Peningkatan kadar IL-α setelah tindakan debrideman tajam agresif lebih besar dibandingkan setelah tindakan debrideman tajam konservatif pada penderita kaki diabetik.Kata kunci: kaki diabetik, debridemen tajam, interleukin 1-α
Thorax Trauma Severity Score sebagai Prediktor Acute Respiratory Distress Syndrome pada Trauma Tumpul Toraks Soesanto, Hendry; Tangkilisan, Adrian; Lahunduitan, Ishak
Jurnal Biomedik : JBM Vol 10, No 1 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.1.2018.18999

Abstract

Abstract: Thoracic trauma is a significant cause of mortality and morbidity. Difficulties in the management of blunt thoracic trauma patients are caused by the late presentation of acute respiratory distress syndrome (ARDS). Thorax trauma severity score (TTSS), introduced by Pape et al. in 2000, includes patient age, physiologic parameters, and thoracic radiological assessment. This study was aimed to assess the ability of TTSS in prediction of the occurence of ARDS in patients with blunt thoracic trauma. Statistical analysis performed was receiver operating characteristic (ROC) curve. In this study, there were 50 blunt thoracic trauma patients (45 males and 5 females), aged ≥18 years old, admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital during August 2016 to July 2017. Patients with penetrating thoracic trauma, history of any lung disease, and blunt thoracic trauma with onset >24 hours were excluded. The patient age range was 18-73 years with a mean of 39.02 years. Overall, 12 patients (24%) developed ARDS, 9 patients (18%) with pulmonary contusion, 20 patients (40%) with rib fracture, 25 patients (50%) with hematothorax, 6 patients (12%) with pneumothorax, and 5 patients (10%) with hypoxemia. TTSS got the most optimal value of sensitivity (100%) and specifity (92.1%) in cut-off point of 6. Conclusion: TTSS can be used as a diagnostic tool to predict ARDS in blunt thoracic trauma.Keywords: thorax trauma severity score, acute respiratory distress syndrome, blunt thoracic traumaAbstrak: Trauma toraks merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang signifikan. Kesulitan penanganan pasien dengan trauma tumpul toraks disebabkan keterlambatan terdeteksinya acute respiratory distress syndrome (ARDS). Thorax trauma severity score (TTSS) yang diperkenalkan oleh Pape dkk pada tahun 2000 mencakup usia, parameter fisiologik, dan penilaian radiologik toraks. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan TTSS dalam memrediksi kejadian ARDS pada pasien dengan trauma tumpul toraks. Analisis statistik menggunakan receiver operating characteristic (ROC) curve. Dalam studi ini terdapat 50 pasien dengan trauma tumpul toraks (45 laki-laki dan 5 perempuan), berusia ≥18 tahun yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada Agustus 2016 s/d Juli 2017. Pasien dengan trauma tembus toraks, riwayat penyakit paru, dan trauma tumpul toraks dengan onset >24 jam tidak diikut sertakan dalam penelitian. Hasil penelitian mendapatkan rentang usia pasien 18-73 tahun dengan rerata 39,02 tahun. Terdapat 12 pasien (24%) dengan ARDS, 9 pasien (18%) dengan kontusio paru, 20 pasien (40%) dengan fraktur kosta, 25 pasien (50%) dengan hematotoraks, 6 pasien (12%) dengan pneumotoraks, dan 5 pasien (10%) dengan hipoksemia. TTSS mendapatkan nilai paling optimal dari sensitivitas (100%) dan spesifitas (92,1%) pada cut-off point 6. Simpulan: TTSS dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk memrediksi kejadian ARDS pada pasien dengan trauma tumpul toraks.Kata kunci: thorax trauma severity score, acute respiratory distress syndrome, trauma tumpul toraks