Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENDIDIKAN TOLERANSI ANTAR AGAMA DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SMPN 2 KOTA MANNA BENGKULU Selly Moneca Sari; Moch. Iqbal
Jurnal Pendidikan "EDUKASIA MULTIKULTURA" Vol 4, No 1 (2022): Februari
Publisher : Pascasarjana s-3 IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jem.v4i1.9494

Abstract

AbstrakKesadaran dan pengetahuan akan pentingnya toleransi antar umat beragama perlu diberikan pendidikan sedini mungkin. Fakta dilapangan menunjukan masih rendah sekali rasa toleransi antar umat beragama di Indonesia. Fenomena ini terjadi tidak hanya terjadi pada remaja dan lingkungan saja, namun orang dewasapun masih banyak yang tidak memiliki rasa toleransi. Pebelajaran IPS dinilai sangat penting dalam memberikan pendidikan mengenai toleransi antar umat beragama dimulai sejak usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa praktik penerapan pembelajaran IPS terhadap kesadaran peserta didik akan pentingnya rasa toleransi antar agama. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi yang digunakan tidak hanya peserta didik tetapi dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Selanjutnya tahap mereduksi data dan penyajian data menggunakan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menytakan bahwa pembelajaran IPS dapat direalisasikan dalam pendidikan toleransi yang ada di sekolah. Pembelajaran IPS yang mengajarkan  pentingnya rasa toleransi antar sesama umat beragama akan menciptakan sekolah yang memiliki siswa dengan rasa toleransi yang tinggi agar tidak terjadi konflik antar agama.   
Spirit Agama dalam Aktifitas Ekonomi: Kritik Atas Tesis Weber Tentang Islam dan Kapitalisme Moch. Iqbal
Manthiq Vol 7, No 2 (2022): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i2.9673

Abstract

Abstrak, Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengkaji dan perpektif Weber tentang kapitalisme dalam masyarakat Islam. Pandangannya yang minor terhadap kelompok Islam menjadi lebih menarik bila didialkan dengan realitas masyarakat Islam sekarang yang memperlihatkan spirit kapitalisme sebagaimana di Barat. Menggunakan metode studi pustaka dengan menelusuri teks-teks yang berkaitan dengan Islam dan kapitalisme. Hasil penelitain ini menemukan bahwa pertama, kapitalisme yang dipelopori Barat tidak lepas dari revolusi industry yang berkembang di Eropa, bukan semata-semata spirit Protestan. Kedua, pandangannya Weber yang ‘tidak’ menemukan kapitalisme dalam Islam lebih merujuk pada realitas masyarakat pada masanya, dan tidak merujuk pada teks-teks agama.  Terlebih lagi kajian tentang Islam dan Kapitalisme belum tuntas, karena Weber meninggal terlebih dahulu sebelum risetnya selesai. Terlebih lagi sekarang, dimana masyarakat Islam sendiri sangat menganjurkan pengikutnya untuk bekerja keras dalam memenuhi kebutuhanya dan kewajiban menyantuni anak yatim dan fakir miskin.Kata Kunci: Weber, Protestan, Islam, Kapitalisme Abstract, The purpose of this research is to examine and Weber's perspective on capitalism in Islamic society. His minor views on Islamic groups become more interesting when compared with the reality of today's Islamic society which shows the spirit of capitalism as in the West. Using the literature study method by tracing texts related to Islam and capitalism. The results of this study found that first, capitalism pioneered by the West was inseparable from the industrial revolution that was developing in Europe, not merely the Protestant spirit. Second, Weber's view that 'does not' find capitalism in Islam refers more to the reality of the society of his time, and does not refer to religious texts. What's more, the study of Islam and Capitalism has not been completed, because Weber died before his research was completed. Even more so now, where the Islamic community itself strongly encourages its followers to work hard to meet their needs and the obligation to support orphans and the poor.Keywords: Weber, Protestant, Islam, Capitalism
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ORDE BARU Moch. Iqbal; Yesa Satriya Dwi Hardiyanti
Jurnal Pendidikan "EDUKASIA MULTIKULTURA" Vol 4, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Pascasarjana s-3 IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jem.v4i2.9811

Abstract

AbstrakPembelajaran Pendidikan Islam di Indonesia erat kaitannya dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Sejarah Pendidikan Islam dimulai saat Agama Islam masuk ke Indonesia itu sendiri. Masa orde baru adalah periode pemerintahan yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia. Kebijakan  pemerintah  tentang  sistem pendidikan nasional pada masa orde baru didasarkan pada Tap MPRS No.27, pasal 1 tanggal 5 Juli 1966; yang menetapkan bahwa "Pendidikan agama menjadi mata pelajaran pokok dan wajib diikuti oleh setiap murid/mahasiswa sesuai dengan agamanya masing-masing” Meskipun pemerintah Orde Baru lebih memberikan  prioritas pada aspek pembangunan  ekonomi daripada  aspek  pendidikan,  namun  pemerintah  tetap  berupaya  meningkatkan  aspek  pendidikan  agama, khususnya Islam seperti madrasah dan pesantren. Beberapa kebijakan pendidikan Islam masa Orde Baru membawa  perubahan  terhadap  pendidikan  Islam.  Lahirnya  SKB  3  Menteri  yang  menyatakan  bahwa alumni madrasah bisa melanjutkan ke sekolah umum, sehingga kurikulum madrasah pun harus diseimbangkan dengan kurikulum sekolah umum. Pada masa Orde Baru inilah pendidikan agama menjadi pelajaran wajib mulai dari Sekolah Dasar sampai universitas.Kata Kunci: Perkembangan, Pendidikan Islam, Orde Baru AbstractLearning Islamic Education in Indonesia is closely related to the history of the entry of Islam into Indonesia. The history of Islamic Education began when Islam entered Indonesia itself. The New Order period was a period of government that had an important role in the world of education, especially Islamic education in Indonesia. Government policy regarding the national education system during the New Order era was based on MPRS Decree No.27, article 1 dated 5 July 1966; which stipulates that "Religious education is a main subject and must be followed by every pupil/student according to their respective religion." Islam such as madrasah and pesantren. Several Islamic education policies during the New Order brought changes to Islamic education. The issuance of the Ministerial Decree of 3 stated that madrasah alumni could continue to public schools, so that the madrasah curriculum had to be balanced with the public school curriculum. It was during this New Order era Religious education is a compulsory subject starting from elementary school to university.Keywords: History, Islamic Education, New Order 
Analisis Corak Pemikiran Masyarakat Dalam Melaksanakan Sedekah Jumat Berkah Yuhaswita Yuhaswita; Imam Mahdi; Moch. Iqbal; Fatihatur Rahmi Azizah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.4984

Abstract

The Friday blessings charity movement has gained popularity and is being actively discussed and practiced by the community some years after the Covid-19 era. The community is competing to carry out Friday blessings charity, which is a manifestation of the community's concern for those in dire need of assistance to fulfill their food needs. The purpose of this study is to analyze the Friday Blessing charity activities using an Islamic Theology approach. The research method employed in this study is qualitative descriptive research, namely a literature review. The sources of data include journals and books on Islamic theology. The research findings reveal that the act of giving Friday alms is considered a virtuous deed due to its concern for fellow human beings. According to Islamic theology, those who engage in Friday alms have utilized their intellect to contemplate both good and evil. Furthermore, individuals who participate in the act of giving Friday alms are considered to be believers in their heart, speech, and actions. The community that has engaged in the blessed Friday activities is a community that thinks rationally, similar to the Mu'tazilah and Qadariyah schools of thought.