Aktivitas perdagangan melalui jalur laut tidak dapat dipisahkan dari letak strategis lokasi situs–situs yang ditemukan di pesisir timur Sumatera yang secara langsung berhadapan dengan selat Malaka. Pesisir timur Sumatera Utara yang tepat menghadap ke Selat Malaka memiliki potensi data arkeologis yang melimpah. Kuantitas data arkeologi tersebut dikaitkan dengan jejak kejayaan aktivitas maritim masa lalu di pesisir timur Sumatera Utara dalam konteks interaksi manusia dan budayanya banyak ditemukan di wilayah Situs Kota Cina.Keberadaan Situs Kota Cina menunjukkan bahwa disepanjang Pantai Timur Sumatera sejak berabad lampau telah berdiri sebuah bandar dagang yang memainkan peranan penting. Situs ini pada masanya merupakan suatu pelabuhan yang menjadi bandar perdagangan yang sangat ramai dan kompleks. Alasannya adalah posisi Kota Cina yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka (malaka strait) yang memegang peranan penting sebagai “jalur maritim sutra” yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Mesir (Afrika). Akibat dari proses aktivitas itu melahirkan Kota Cina sebagai bandar perdagangan yang menghubungkan pedagang-pedagang Tamil, Cina, Arab, Srilanka, Gujarat, Thai, dan Siam dengan penduduk lokal dari pedalaman Sumatera Utara. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji Situs Kota Cina secara historis yang penulisannya menggunakan studi literatur sebagai rujukan utama. Sumber-sumber referensi tersebut dianalisis dengan menggunakan prinsip-prinsip pendekatan metode sejarah. Eksistensi Situs Kota Cina akan semakin bermakna bila dimanfaatkandalam pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah dimasa kehidupan abad 21 ini harus mengembangkan pembelajarannya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan situs sejarah sebagai sumber belajar. Bahasan pembelajaran tersebut disusun menggunakan metode deskriptif eksplanatif untuk membangun gambaran umum desain pembelajaran sejarah yang dapat membentuk kecakapan abad 21 dengan pemanfaatan Situs Kota Cina sebagai sumber belajar.