Budianastas Prastyatama
Universitas Katolik Parahyangan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? Prastyatama, Budianastas
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).  Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation AbstrakBandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.  Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang
LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? Prastyatama, Budianastas
TATANAN Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).  Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation AbstrakBandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.  Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang
PENINGKATAN DURABILITAS BAMBU SEBAGAI KOMPONEN KONSTRUKSI MELALUI DESAIN BANGUNAN DAN PRESERVASI MATERIAL EB. Handoko; Anastasia Maurina; Budianastas Prastyatama; Ricky Gustin; Bernadette Sudira; Jesslyn Priscila
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12858.145 KB)

Abstract

Bambu mulai (kembali) dipertimbangkan sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Faktor penyebabnya adalah kelangkaan suplai kayu mendorong peningkatan harga bahanini sehingga tidak terjangkau lagi oleh kebanyakan masyarakat yang membutuhkan hunian atau bangunan lain. Secara tradisional bambu sudah sangat banyak digunakan dalam penyediaan bangunan secara mandiri dan tradisional di masyarakat Jawa Barat. Secara populer bambu sudah diakui memiliki kekuatan cukup tangguh sebagai penunjangproses konstruksi.Walaupun demikian, bambu memiliki kelemahan dalam hal daya tahan dan keawetan. Umur bambu yang digunakan pada bangunan atau konstruksi tergolong pendek, hanya 1-5 tahun. Ini terjadi karena ada dua faktor utama yang berpengaruh, yaitu cuaca (hujan, panas matahari) dan serangan serangga (kutu bubuk). Karenanya selama ini bambu hanya dikenal sebagai bahan bangunan untuk konstruksi temporer atau sebagai bahan bangunan kelas 3. Kelemahan dan citra buruk tersebut menenggelamkan potensi besar bambu sebagai bahan bangunan alternatif di tengah kelangkaan kayu.Bambu secara biologis tumbuh dan mencapai usia siap pakai jauh lebih cepat daripada pohon kayu pada umumnya. Kekuatan dan kelenturannya secara populer sudah diakui. Maka pertanyaan penelitiannya adalah “Bagaimana upaya perancangan bangunan dengan material bambu dapat ditingkatkan durabilitasnya sebagai bahan bangunan?” dan“Bagaimana upaya untuk meningkatan durabilitas dan kelas awet bamboo melalui tindakan preservasi?”Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggabungkan 2 (dua) metode penelitian yaitu Field Research dan Experimental Research. Field Research dilakukan dengan menganalisi secara deskriptif kualitatif objek penelitian untuk menganalisis upaya peningkatan durabilitas melalui rancangan ataupun preservasi materialnya. Objek Penelitian pada penelitian ini adalah Bamboe Kuning Restaurant (Ubud, Bali), OBI Campus (Jatiluruh), dan Bamboo Musholla (Desa Cibodas). Sedangkan Experimental Research dilakukan untuk menguji teknik preservasi material bambu.Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan penerapan material bambu dalam arsitektur. Pemanfaatan material bambu sebagai material yang berkelanjutan tidakakan berkembang tanpa meningkatan durabilitas bambunya. Perancangan arsitektur bambu yang baik harus didukung oleh kualitas material yang baik.Kata kunci: bambu, durabilitas, preservasi melalui rancangan, pengawetan bambu
LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? Budianastas Prastyatama
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).  Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation AbstrakBandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.  Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang