sri marselina wati
sekolah tinggi agama hindu negeri mpu kuturan singaraja

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemujaan Siwa Durga di Pura Dalem Purwa Desa Pengastulan Kajian Filsafat Hindu sri marselina wati
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i2.2440

Abstract

Tubuh dalam filsafat hindu menjadi pertentangan disebutkan bahwa tubuh adalah kemelekatan dengan duniawi atau sumber pembawa dosa namun bagi pandangan yoga tubuh dipandang sebagai media penghantar pembebasan. Hal ini terbutkti di kuil-kuil Hindu khususnya di Pura Dalem Purwa Desa Pengastulan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng terdapat beberapa patung erotisme. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui makna pemujaan Siwa Durga di Pura Dalem Purwa Desa Pengatulan dalam pandangan filsafat Hindu. Dalam penelitian ini menggunakan format deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian. Adapun hasil penelitian ini adalah Kama dalam filsafat Hindu diperbolehkan karena Kama merupakan salah satu tujuan yang dicapai oleh umat Hindu. Pemujaan Siwa-Durga di Pura Dalem Purwa Desa Pengastulan adalah sebagai simbol purusha dan pradhana, asal usul dari setiap penciptaan. Lingga-yoni merupakan simbol pemujaan kepada Siwa Sahkti yang difungsikan sebagai lambang kesuburan. Hubungan seksualitas engan yoga erat kaitannya, membentuk pemahaman aktivitas seksual yang bertanggung jawab. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah beberapa patung-patung erotis adalah wujud lingga-yoni lambang Siwa Shakti yang merupakan sumber dari penciptaan.
Prosesi Pemujaan Ganesa di Pura Ponjok Batu sri marselina wati
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2499

Abstract

Pura Ponjok Batu merupakan Pura Kahyangan Jagat sehingga seluruh umat Hindu dapat bersembahyang ke tempat tersebut. Dewa Ganeśa telah dipuja sejak berdirinya Pura Ponjok Batu. Pada awal pemujaan ukuran arca Ganeśa lebih kecil dan ditaruh di tengah palinggih sehingga tidak semua umat yang datang mengetahui keberadannya. Berbeda dengan kondisi sekarang arca Dewa Ganeśa terlihat besar sehingga semua umat hindu yang datang bersembahyang dapat melihat keberadaan Beliau secara fisik. Masyarakat di Desa Pacung memuja Dewa Ganeśa dengan tujuan memohon keselamatan karena Dewa Ganeśa menganugerahkan keberhasilan dalam setiap usaha manusia. Keberadaan arca Ganeśa di Pura Ponjok Batu menarik perhatian peneliti untuk mengetahui pemujaan yang dipersembahkan warga di Desa Pacung. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif yang menggunakan metode Pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Pemujaan Dewa Ganeśa di Pura Ponjok Batu merupakan suatu persembahan dari masyarakat mengingat manusia adalah mahkluk religius. Pemujaan Dewa Ganeśa di Pura Ponjok Batu dibagi menjadi dua yaitu, pemujaan setiap hari dan pemujaan sewaktu-waktu.Kata Kunci: Pemujaan; Dewa Ganeśa, Pura Ponjok Batu       
Samkhya Dalam Teks Tattwa Sanghyang Mahajnana sri marselina wati
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v7i1.2831

Abstract

Samkhya is a very old Hindu philosophy, because both the sruti and smrti scriptures are influenced by this philosophy. Archipelago literary works such as lontar and kakawin also contain a lot of Samkhya philosophy in the concept of Shivaism, this study aims to find out the Samkhya teachings contained in the text Tattwa Sanghyang Mahajnana. This research is classified as a qualitative research because the data is presented descriptively by using data collection methods namely, interviews, literature studies, and observation. The Samkhya philosophy contained in the Tattwa Sanghyang Mahajnana is the evolution of the universe, ways of obtaining truth, and the concept of liberation in the Samkhya in the text of the Tattwa Sanghyang Mahajnana. The evolution of the universe originates from Purusa and Prakerti then tri guna is likened as a child, while intelligence and mind are likened as a plow, and the ten senses are oxen and the base of the heart is likened to rice field in the creation process of samkhya contained in the Tattwa Sanghyang Mahajnanama text which is still based on 25 elements. The process of seeking truth in Samkhya contained in the tattwa sanghyang mahajnana text is, pratyaksa pramana, anumana pramana, and sabda pramana. The concept of liberation in Samkhya contained in the Tattwa Sanghyang Mahajnana text is that humans are free from the causes of dukkha by means of tapa, bratha, yoga, and smadhi by saying the Om syllabel.