Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Aplikasi Pupuk Guano Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Cabai Rawit (Capsicum Frutescens) Harizal Firdaus Syaiful Ramli; Cahyoadi Bowo
AGRITROP Vol 20, No 2 (2022): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agritrop.v20i2.8268

Abstract

Cabai rawit merupakan tanaman yang berkomoditas hortikultura. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani cabai rawit adalah ketersediaan benih bermutu tinggi diantaranya varietas cakra putih dan varietas cakra hijau. Media tanam yang umumnya digunakan dalam budidaya tanaman cabai yakni tanah Inceptisol. Tanah Inceptisol merupakan tanah yang memiliki kandungan liat cukup tinggi dengan pH antara 6,0-7,5. Kandungan bahan organik umumnya kurang dari 3%, sehingga diperlukan penambahan bahan organik untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dan kesuburan tanah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pupuk guano terhadap tanah Inceptisols serta pada dua varietas tanaman cabai rawit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama yaitu 2 varietas cabai rawit yang terdiri atas varietas cakra putih (V1) dan varietas cakra hijau (V2). Faktor kedua yaitu dosis pupuk guano yang terdiri atas 5 level yaitu 0 g/polybag (P1), 100 g/polybag (P2), 200 g/polybag (P3), 300 g/polybag (P4), 400 g/polybag (P5). Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman dan berat buah. Penelitian menunjukkan aplikasi dosis pupuk guano menghasilkan respon yang baik dalam meningkatkan sifat kimia tanah Inceptisols, akan tetapi tidak terdapat interaksi antara perlakuan dua varietas dan dosis pupuk guano pada semua perlakuan.
Pemanfaatan Mulsa dan Pupuk Kandang Sapi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana Bert.) Erlin Rohaini; Cahyoadi Bowo
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/10.21776/ub.jpt.2023.008.1.10

Abstract

Produksi GKP (Gula Kristal Putih) periode 2015-2021 diestimasikan menurun hingga 0,66% setiap tahunnya, padahal gula menjadi salah satu komoditi pokok di Indonesia. Perlu adanya diversifikasi pemanis alami yaitu dengan memanfaatkan tanaman stevia. Upaya meningkatkan produksi stevia adalah dengan menggunakan pupuk kandang sapi dan pengaplikasian mulsa. Penelitian dilaksanakan di Lahan Agriranch, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada bulan November 2021 hingga Februari 2022. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Faktor petak utama ialah jenis mulsa dengan 3 taraf M0 (tanpa mulsa), M1(mulsa plastik hitam putih) (MPHP), M3 (mulsa jerami). Faktor anak petak ialah dosis pupuk kandang sapi dengan 3 taraf P1 (6 t ha-1), P2 (12 t ha-1), P3 (20 t ha-1). Metode analisis data menggunakan ANOVA (Analysis of Varians) dengan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan mulsa jerami dan mulsa plastik hitam putih (MPHP) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman stevia. Perlakuan pupuk kandang sapi dosis 20 t ha-1 menghasilkan pertumbuhan terbaik tanaman stevia pada beberapa variabel pengamatan. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan dosis pupuk kandang sapi, tetapi masing-masing faktor tunggal memengaruhi pertumbuhan stevia. Mulsa jerami memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan kadar air tanah, sedangkan MPHP memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan panjang akar, bobot kering hasil panen, suhu tanah, dan kadar air tanah. Pupuk kandang sapi dosis 20 t ha-1 memberikan hasil terbaik pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar.
Land Suitability Evaluation for Sugarcane (Saccharum officinarum L.) Cultivation in the Rejoso Watershed, Pasuruan Regency Ani Acfiyatul Fardila; Bambang Hermiyanto; Cahyoadi Bowo; Basuki; Subhan Arif Budiman
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol. 31 No. 2: May 2026 (In Press)
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts..v31i2.%p

Abstract

Land suitability evaluation is essential for optimizing crop productivity and promoting sustainable land use. In the Rejoso Watershed, Pasuruan Regency, sugarcane production remains suboptimal due to limited integration of biophysical land characteristics into cultivation management. This study aims to assess land characteristics, classify land suitability, identify limiting factors, and provide land management recommendations for sugarcane cultivation. The analysis considered key variables including temperature, rainfall, drainage, soil texture, effective depth, cation exchange capacity (CEC), base saturation, pH (H₂O), organic carbon, total nitrogen, available phosphorus (P₂O₅), available potassium (K₂O), slope, erosion risk, and flood risk. Land suitability was evaluated using a matching approach based on the Buku Pedoman Penilaian Kesesuaian Lahan Komoditas Strategis Tahun 2016. The results showed that actual land suitability consists of class S3 (Marginally Suitable) covering 22.262 ha (64.3%) and class N (Not Suitable) covering 12.342 ha (35.7%). Potential land suitability includes class S2 (Moderately Suitable) covering 8.562 ha (24.7%), class S3 covering 13.701 ha (39.6%), and class N covering 12.342 ha (35.7%). The main limiting factors identified were temperature, drainage, soil texture, effective depth, nitrogen, phosphorus, base saturation, slope, erosion risk, and flood risk. Recommended management strategies include improving drainage using the Reynoso system, applying dolomitic lime, and SP36 fertilizer. Overall, the Rejoso Watershed demonstrates substantial potential for sugarcane development through improved land management. contributing to national sugar self-sufficiency.