Putu Maria Ratih Anggraini
STAH N Mpu Kuturan Singaraja

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ASPEK TEOLOGI HINDU DALAM TRADISI NERANG UJAN DI BALI Putu Maria Ratih Anggraini
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2386

Abstract

Artikel ini memuat tentang tradisi nerang ujan di Bali dalam persepktif Teologi Hindu. Tradisi nerang hujan sudah diwarisi oleh masyarakat Bali secara turun-temurun dan masih tetap eksis sampai sekerang. Tidak hanya di Bali hampir diseluruh wilayah nusatara memiliki tradisi yang sama yaitu menolak kedatangan hujan atau memanggil hujan. Di Bali sumber-sumber tradisi nerang hujan  banyak ditemukan pada naskah lontar yang tersimpan diperpustakaan maupun yang masih berada di rumah-rumah masyarakat. Biasanya orang yang melakukan nerang hujan  selalu menggunkan sarana dan mantra untuk memuja salah satu Ista Dewata. Jika pelaksanaannya di areal rumah, cukup nunas (meminta) panerangan hujan di sanggah kemulan atau pangijeng karang, Jika dilaksanakan pada tingkatan Banjar maka nunas (meminta) pada Palinggih Bhagawan Penyarikan, dan jika pada tingkatan Desa biasanya nunas di Pura Khayangan Tiga