Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah masalah kesehatan global yang signifikan dan seringkali tidak terdeteksi hingga mencapai stadium lanjut. PGK juga menjadi salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab kematian terbanyak dalam lingkup global. Oleh karena itu, deteksi dini PGK sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi. Studi ini membandingkan dua algoritma klasifikasi, yaitu Support Vector Machine (SVM) dan Random Forest (RF). Algoritma SVM dikenal karena tingkat akurasinya yang tinggi, efisien dalam penggunaan memori, dan kemampuannya untuk menangani data dengan distribusi yang tidak normal. Sementara itu, algoritma RF dikenal karena kemampuannya dalam mengatasi overfitting dan menghasilkan prediksi yang lebih akurat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pasien PGK yang diperoleh dari UCI Machine Learning Repository, yang terdiri dari 400 catatan pasien dengan 25 fitur. Optimalisasi parameter dilakukan menggunakan GridSearchCV untuk mendapatkan parameter terbaik untuk kedua algoritma. Hasil penelitian ini, algoritma Random Forest (RF) menunjukkan performa yang lebih baik daripada algoritma SVM, dengan akurasi sebesar 98,75%, precision 98,48%, recall 98,96%, dan F1-score 98,70%. Algoritma Random Forest (RF) lebih efektif dalam klasifikasi PGK pada dataset ini dibandingkan SVM. Studi ini menekankan pentingnya pemilihan algoritma yang tepat dan optimasi parameter dalam mengembangkan model klasifikasi yang andal dan akurat. Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah masalah kesehatan global yang signifikan dan seringkali tidak terdeteksi hingga mencapai stadium lanjut. PGK juga menjadi salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab kematian terbanyak dalam lingkup global. Oleh karena itu, deteksi dini PGK sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi. Studi ini membandingkan dua algoritma klasifikasi, yaitu Support Vector Machine (SVM) dan Random Forest (RF). Algoritma SVM dikenal karena tingkat akurasinya yang tinggi, efisien dalam penggunaan memori, dan kemampuannya untuk menangani data dengan distribusi yang tidak normal. Sementara itu, algoritma RF dikenal karena kemampuannya dalam mengatasi overfitting dan menghasilkan prediksi yang lebih akurat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pasien PGK yang diperoleh dari UCI Machine Learning Repository, yang terdiri dari 400 catatan pasien dengan 25 fitur. Optimalisasi parameter dilakukan menggunakan GridSearchCV untuk mendapatkan parameter terbaik untuk kedua algoritma. Hasil penelitian ini, algoritma Random Forest (RF) menunjukkan performa yang lebih baik daripada algoritma SVM, dengan akurasi sebesar 98,75%, precision 98,48%, recall 98,96%, dan F1-score 98,70%. Algoritma Random Forest (RF) lebih efektif dalam klasifikasi PGK pada dataset ini dibandingkan SVM. Studi ini menekankan pentingnya pemilihan algoritma yang tepat dan optimasi parameter dalam mengembangkan model klasifikasi yang andal dan akurat.