Darni
Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG TAK MEMILIKI KUASA DALAM KUMPULAN CERPEN “SIHIR PEREMPUAN” KARYA INTAN PARAMADITHA (KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI) Icha Fadhilasari; Haris Suprapto; Darni; Tengsoe Tjahjono
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 8 No. 1 (2023): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v8i1.156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk hegemoni dalam kumpulan cerpen “Sihir Perempuan”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa teks sastra (cerpen) karya Intan Paramadhita yang dianggap merepresentasikan bentuk-bentuk hegemoni Gramscian, terutama pada beberapa tokoh dalam kisah cerpen. Dalam konsep hegemoni, Gramsci melanjutkan tradisi konsep dialektika Marx dan menekankan dialektika antara ide dan material, dialektika antara proses material dengan kesadaran. Namun berbeda dengan Marx, Gramsci meyakini dalam masyarakat selalu terdapat pluralitas pandangan dunia (pluralitas ideologi, pokok yang oleh Bakhtin disebut karnivalisme naratif). Pandangan dunia yang valid bagi Gramsci adalah rasionalitas, tidak sekadar otoritas namun kemampuan memobilisasi, memolitisasi, dan mereformasi. Ketiga kemampuan tersebut merupakan solidaritas, elemen paling menentukan dan memungkinkan terbentuknya blok historis, yaitu kesatuan antara infrastruktur dengan superstruktur. Sebelum menguasai seseorang (materi), terlebih dahulu seseorang harus menguasai pikiran atau kesadaran (abstrak). Sedangkan sumber data penelitian berasal dari narasi teks kumpulan cerpen “Sihir Perempuan” karya Intan Paramaditha, diambil tiga cerpen yaitu “Vampir”, “Misteri Polaroid” dan “Sang Ratu”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ditemukan bentuk-bentuk hegemoni yang dilakukan oleh kaum dominan. Sedangkan kaum subordinat menerima, menyetujui tanpa perlawanan. Pendek kata, hegemoni dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kuasa seperti yang dilakukan tokoh Jose dan seorang bapak.
KUASA SIMBOLIK PIERRE BOURDIE DALAM NOVEL “BIDADARI BERMATA BENING” KARYA ABIBURAHMAN EL SHIRAZY DAN NOVEL “SURGA YANG TAK DIRINDUKAN” KARYA ASMA NADIA Indah Puspitasari; Haris Supratno; Darni; Tengsoe Tjahjono
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 8 No. 1 (2023): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v8i1.155

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kuasa simbolik pada novel Bidadari Bermata Bening karya Habiburahman El Shirazy dan novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah novel “Bidadari Bermata Bening” Karya Habiburrahman El Shirazy dan novel “Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia. Data penelitian ini adalah informasi tentang kuasa simbolik dalam novel “Bidadari Bermata Bening” Karya Habiburrahman El Shirazy dan novel “Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka dan baca catat. Pada teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menarik simpulan. Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa “Bidadari Bermata Bening” Karya Habiburrahman El Shirazy dan novel “Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia kuasa simbolik dapat terjadi karena didukung habitus, arena, dan modal pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel. Ketiganya berpengaruh besar dala mendukung kuasa simbolik yang pada akhirnya membuat tokoh perempuan dalam kedua novel tersebut seakan pasrah pada keadaan yang ada. Setelah melakukan penelitian, mengumpulkan data kemudian mengalisisnya, diperoleh simpulan, yakni, terdapat kuasa simbolik dalam novel “Bidadari Bermata Bening” Karya Habiburrahman El Shirazy dan novel “Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia karena didukung habitus, arena, dan modal.