Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengolahan Limbah Nasi Basi Sebagai Pupuk Organik dan Wisata Edukasi di Agro Wates Semarang Nina Mistriani; Ray Octafian; Nurdina Prasetyo
SEWAGATI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 1 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/sewagati.v1i4.394

Abstract

Agro Wates Semarang mempunyai masalah dalam pengelolaan agro yang erat kaitannya dengan pengembangan kawasan agro sebagai daya tarik wisata, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Pada umumnya Agro Wates hanya sebagai lahan Agro yang dikelola oleh kelompok tani, dengan adanya pendampingan Tim STIEPARI Semarang memberikan dampak pendampingan yang bermanfaat dalam pengembangan Agro Wates yaitu limbah Nasi Basi yang selalu mencemari lingkungan akibat dibuang oleh masyarakat, dan dianggap tidak penting. Dibutuhkannya peran penyuluh yang memberikan edukasi kepada masyarakat. Di sisi lain.lain, Pengolahan Limbah dapat diolah menjadi pupuk organik yang berkualitas dan dapat sebagai nutrisi unuk meningkatkan produktivitas tanaman. Hasil dari pendampingan masyarakat ini, pengelola, kelompok tani dan masyarakat sangat aktif berdiskusi dalam pemahaman dan keterampilan pengelolaan limbah nasi sebagai pupuk organik dapat menciptakan ketahanan pangan. Selain itu dapat dijadikan paket wisata agro yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Agro wates melalui paket wisata edukasi. Selain itu dapat menjadi guide lokal, memahami pengelolaan wisata agro sebagai edukasi, berwirausaha dan menghasilkan peningkatan pendapatan ekonomi.
Synthesizing Embodied Tourist Experience with Indigenous Epistemology: A Grounded Theory Approach to Sustainable Surf Tourism Development at Parangtritis Nurdina Prasetyo; Pranoto Pranoto; Sukrisno Sukrisno; Gana Wuntu; Haniek listyorini
EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis Vol 14 No 1 (2026): Januari
Publisher : UNIVED Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/ekombis.v14i1.9639

Abstract

ABSTRACT This study addresses theoretical fragmentation in surf tourism scholarship through systematic integration of embodied experience theory, sustainable livelihood frameworks, and indigenous knowledge systems. A comprehensive theoretical model was developed synthesizing affective tourist dimensions with indigenous epistemology in community based sustainable surf tourism management at Parangtritis Beach, Yogyakarta, Indonesia. Grounded theory methodology guided six month ethnographic fieldwork comprising semi structured interviews, focus group discussions, participant observation, and documentary analysis with diverse stakeholders including domestic and international surfers, instructors, community leaders, and destination managers. Three stage coding procedures utilizing MAXQDA2020 achieved theoretical saturation through rigorous data triangulation, member checking, and peer debriefing protocols. Analysis yielded the SEMO (Sensory Emotional Mystical Oneness) model, a substantive theoretical framework explicating how sensory engagement, emotional responses, mystical cultural dimensions rooted in Nyi Roro Kidul cosmology, and ecological oneness converge to constitute transformative surf tourism experiences while advancing local sustainability objectives. This investigation provides the inaugural theoretical integration of embodied experience with Indonesian indigenous epistemology in adventure tourism contexts, extending extant frameworks through incorporation of mystical spiritual dimensions heretofore absent from surf tourism scholarship. The SEMO model furnishes novel analytical perspectives for destination management that simultaneously optimize experiential quality and preserve Javanese cultural heritage, thereby bridging adventure tourism development imperatives with ecosystem sustainability through indigenous knowledge valorization. Keywords: surf tourism, sustainable livelihood, embodied experience, indigenous knowledge, SEMO model, Parangtritis Beach