This Author published in this journals
All Journal LOKO KADA
Francis bin Danil
Sabah Theological Seminary (STS)

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Teologi dan Ilmu Pengetahuan: Konteks dan Tantangan bagi Sekolah-sekolah Teologi di Sabah, Malaysia Francis bin Danil
Jurnal Loko Kada Vol 2 No 01 (2022): LOKO KADA : JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN OIKUMENIS
Publisher : STT Mamasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.741 KB)

Abstract

Apakah teologi dapat dikatakan ilmu pengetahuan? Apakah pendidikan agama Kristen bisa disejajarkan dengan ilmu-ilmu pendidikan lain seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah? Pergumulan ini dialami oleh masyarakat Kristen di Malaysia. Sebuah negara yang memiliki sensitivitas keagamaan yang tinggi, negara yang mengakui Islam sebagai satu-satunya agama resmi. Dengan sistem pendidikan keagamaan yang dibangun berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, saya termotivasi dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menerima baik teologi dalam sistemnya, ini menjadi perbandingan dalam tulisan ini. Tulisan ini membawa kita untuk memahami sejauhmana teologi dipahami sebagai ilmu dalam konteks kekristenan di Malaysia, dan sekaligus menjadi tantangan bagi sekolah-sekolah teologi di Sabah. Belajar agama di dalam konteks yang unik seperti Malaysia bukanlah sesuatu yang mudah. Teologi (agama) harus dilihat dengan cara berpikir yang radikal, yaitu semua agama termasuk Islam dan Kristen perlu membuka diri untuk diselidiki dan menyelidiki sama seperti ilmu-ilmu lain. Hal ini tidak bisa dielak oleh semua agama (termasuk dari agama resmi) karena realitas (kenyataan di masyarakat) mau tidak mau mendesak untuk dibicarakan. Walaupun dengan ada unsur paksaan, dan mungkin juga ada kekerasan, ia tidak dapat dielakkan lagi, dengan harapan bahwa orang akan lebih jelas, kritis dan meyakinkan terhadap apa yang berlaku dalam jemaat dan masyarakat di sekelilingnya. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama menggerakkan perubahan. Ketegangan antara teologi sebagai ilmu dapat diatasi dengan mempertimbangkan semua hasil-hasil penemuan ilmuan dalam rangka berpikir para agamawan secara positif. Artinya tidak dapat diabaikan ilmu-ilmu sosial antropologi dan agama dalam pendidikan teologi. Ia membantu kita mengenal masyarakat dan memahami manusia (melalui metode penafsiran dan menginterpretasi semua gejala sosial atau tradisi), khususnya orang-orang beragama dengan lebih baik. Mempelajari agamaagama berarti kita tidak selalu bertemu dengan ajaran yang abstrak, melainkan dengan manusia, sesama kita. Yaitu kita sebagai manusia yang diciptakan dan dikasihi Allah, dan yang hidup dalam masyarakat dan dunia yang sama. Dalam masa yang sama ia berarti menghargai kepelbagaian gambaran dunia, masing-masing tetapi sekaligus mengakui keterbatasan.