Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UPAYA PENCEGAHAN RADIKALISME BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI SOSIALISASI KEPADA MAHASISWA BARU UNIVERSITAS KHAIRUN Arlinah Madjid; Noor Fahmi Pramuji
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v9i2.5768

Abstract

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar terkait radikalisme dan potensinya serta sebagai bentuk pencegahan berkembangnya paham radikalisme di lingkup perguruan tinggi. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pendekatan diskusi/ceramah berbentuk sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan secara tatap-muka mengundang narasumber dari Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku Utara Bidang Penelitian dan Pengkajian. Adapun peserta kegiatan yakni sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya diantaranya tenaga pengajar/ dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa (organisasi mahasiswa, lembaga kajian/ kelompok studi mahasiswa). Kegiatan sosialisasi ini akan dilaksanakan dengan tema “Pencegahan Radikalisme Berbasis Kearifan Lokal di Lingkup Perguruan Tinggi”. Narasumber menyajikan materi seputar pengenalan dasar tentang radikalisme dan upaya pencegahan paham radikalisme berbasis kearifan lokal. Pada penjelasan awal, narasumber memaparkan perbedaan terorisme dan radikalisme dikarenakan kedua istilah tersebut sering disamakan padahal memiliki aktivitas yang berbeda. Selanjutnya, narasumber memberikan penjelasan tambahan terkait intoleransi dikarenakan fenomena intoleransi juga berhubungan langsung munculnya paham radikalisme yang mengakibatkan aktivitas teroris. Istilah selanjutnya, yang juga sering disamakan dengan tiga istilah sebelumnya (terorisme, radikalisme, intoleransi) adalah ektremisme. Setelah itu, narasumber menjelaskan alasan mengapa paham radikalisme rentan di lingkup perguruan tinggi khususnya kalangan mahasiswa. Di akhir penjelasannya, narasumber kemudian memaparkan keterampilan yang dibutuhkan dan dikembangkan di kalangan sivitas akademika khususnya mahasiswa sebagai bentuk tindak pencegahan berkembangnya pemahaman radikal di kalangan mahasiswa. Sebagai bentuk evaluasi dan kebutuhan tindaklanjut terhadap kegiatan berupa komitmen bersama yang dapat diimplementasikan dalam bentuk keputusan rektor untuk di setiap jenjang petinggi kampus agar bersama mengupayakan dan menindak segala bentuk/upaya penyebaran paham radikal. Namun sebelumnya, dibutuhkan langkah identifikasi awal melalui kajian akademis terkait ada atau tidaknya kerentanan radikalisme di lingkup perguruan tinggi, identifikasi kelompok kajian/mahasiswa yang terindikasi, serta kajian lainnya yang relevan. Kemudiaan dilakukan upaya diseminasi ke seluruh sivitas akademika kampus. Kata kunci: Kearifan, Lokal, Pencegahan, Perguruantinggi, Radikalisme 
Pariwisata Inklusif Ramah Disabilitas: Studi Kasus Kota Ternate Halida Nuria; Noor Fahmi Pramuji; Anastazia Niatri Wattimena
Tekstual Vol 24 No 1 (2026): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tekstual.12493

Abstract

Pariwisata inklusif merupakan mandat global untuk menjamin kesetaraan akses, namun implementasinya di destinasi berkembang seringkali menghadapi tantangan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pariwisata ramah disabilitas di Kota Ternate, Indonesia, sebuah kota dengan warisan sejarah yang kaya namun berada di luar jalur pariwisata utama. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan kunci (pemerintah, pengelola wisata, dan organisasi penyandang disabilitas) serta kuesioner terstruktur kepada penyandang disabilitas. Hasil penelitian mengungkapkan kondisi tingkat penerimaan dan keramahan sosial yang sangat tinggi terhadap penyandang disabilitas kontras secara tajam dengan eksklusi struktural yang rendah. Ini diakibatkan minimnya aksesibilitas fisik, ketiadaan transportasi inklusif, dan kesenjangan informasi. Meskipun penyandang disabilitas merasa aman dan diterima, partisipasinya secara mandiri dan bermartabat terhambat oleh lingkungan binaan yang tidak akomodatif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengusulkan "paradoks inklusivitas" sebagai kerangka analitis baru untuk memahami dinamika pariwisata aksesibel pada konteks serupa. Secara aplikatif, temuan ini menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi pemerintah kota untuk menjembatani kesenjangan antara modal sosial dan kesiapan infrastruktur.