Elvy L. Ginting
Universitas Sam Ratulangi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

MORFOMETRIK DAN MERISTIK LAMUN DI PANTAI BORGO KECAMATAN BELANG DAN PANTAI BASAAN I KECAMATAN RATATOTOK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Willy Kaparang; Billy Th. Wagey; Chatrien A. Sinjal; Sandra O. Tilaar; Elvy L. Ginting; Frans Tilaar
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.52706

Abstract

Seagrasses are flowering plants (Angiosperms) that are fully adapted to aquatic environments. Seagrasses are capable of living in salt water; even though it is immersed in salty water, it still functionsnormally. The function and role of seagrasses depend on the number of leaf blades, leaf length, leafwidth, and total biomass, all of which are highly determined by local conditions. This research wasconducted in Southeast Minahasa Regency in Pantai Borgo Village, Belang District and Beach Villageof Basaan I, Ratatotok District. This study aims to measure the morphometrics and meristics of seagrassspecies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii and Syringodium isoetifolium. Sampling of seagrasswas carried out using the cruising survey method, as many as 10 individuals for each species at eachstudy location, samples were taken using a knife and washed and put into plastic samples. Thenmeasured using a caliper ruler. The results obtained from the three seagrass species Enhalusacoroides, Thalassia hemprichii and Syringodium isoetifolium are different in morphometric and meristicsizes of the three seagrasses which are larger in Basaan I Beach compared to those in Borgo Beach.This is because in Borgo Beach there are many human activities that greatly affect the activity ofmorphometric and meristic sizes which in turn also affect the growth of seagrass. This difference isthought to be due to the high activity of the people who live around Borgo beach in the form of householdwaste disposal and fishing activities, namely the intensity of boat traffic and boat moorings, while onPasir Panjang Beach, Basan I Village is far from residential areas and is a tourist area that is not yetvery touristy. Stout is known by many people so it is still in good condition and maintained. Measurementof environmental parameters of the waters of Borgo Village Beach and Basaan I Village Beach are stillin optimum conditions for seagrass plants and development. Keywords: Seagrass, Morphometrics, Meristic, Borgo Village, Basaan I VillageABSTRAK Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang secara penuh beradaptasi pada lingkungan perairan. Lamun mampu hidup di air asin; meski terbenam dalam air asin lamun tetapberfungsi normal. Fungsi dan peranan lamun, bergantung pada jumlah helaian daun, panjang daun,lebar daun, serta biomassa total, yang kesemuanya itu sangat ditentukan kondisi setempat. Penelitianini dilakukan di Kabupaten Minahasa Tenggara di Pantai Desa Borgo Kecamatan Belang dan PantaiDesa Basaan I Kecamatan Ratatotok. Penelitin ini bertujuan untuk mengukur morfometrik dan meristiklamun jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium. Pengambilansampel lamun dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sebanyak 10 individu untukmasing-masing jenis di setiap lokasi penelitian, sampel diambil dengan mengunakan pisau dicuci dandimasukkan kedalam plastik sampel. Kemudian diukur dengan menggunakan mistar kaliper. Hasil yangdiperoleh dari ketiga lamun jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifoliumadalah berbeda ukuran morfomertik dan meristik dari ketiga lamun tersebut lebih besar yang berada diPantai Basaan I dibandingkan dengan yang ada di Pantai Borgo. Hal ini di karenakan di Pantai Borgobanyak terjadi aktivitas manusia yang sangat mempegaruhi aktivitas ukuran morfometrik dan meristik yang akhirnya juga berpengaruh pada pertumbuhan lamun. Perbedaan ini diduga karena tingginyaaktifitas penduduk yang bermukim disekitar pantai Borgo berupa pembuangan limbah rumah tanggaserta aktivitas kegiatan perikanan yaitu intensitas lalu lalang perahu serta tempat tambatan perahu,sedangkan di Pantai pasir panjang Desa Basan I jauh dari pemukiman warga dan merupakan daerahwisata yang belum terlalu bayak diketahui oleh banyak orang sehingga masih memiliki kondisi yangbaik dan terjaga. Pengukuran parameter lingkungan perairan Pantai Desa Borgo dan Pantai DesaBasaan I masih dalam kondisi yang optimum bagi tumbuhan dan perkembangan lamun. Kata Kunci: Lamun, Morfometrik, Meristik, Desa Borgo, Desa Basaan I
PENAPISAN BAKTERI SIMBION LAMUN Thalassia hemprichii PENGHASIL ENZIM HIDROLASE Rizky I. Moroki; Elvy L. Ginting; Stenly Wullur; , Sandra Tilaar; Veibe Warouw; Edwin L.A. Ngangi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.55000

Abstract

The research aims to determine the ability of the seagrass symbiont bacteria Thalassia hemprichii to produce protease and amylase. The symbiont bacteria T. hemprichii had been cultured in the laboratory. Five isolate bacteria namely 3M.2, E2.2, E3.2, 6.2 and 5.2 were analyzed in this research. Bacterial enzyme activity was screened by growing the bacterium using the paper disc on skim milk agar and starch agar media for 2 x 24 hours. Enzyme activity was indicated by the formation of a clear zone around the bacterial colonies. The proteolytic (IP) and amylolytic indexes (IA) were calculated by dividing the diameter of clear zone with the bacterium colonies. The results showed that the bacterial isolate 3M.2, E2.2 and 6.2 could produce proteases in 24 hours incubation with IP of 1,67, 1,20 and 1,33, respectively. While isolate 5.2 could produce protease after being incubated for 48 hours with an IP of 1,03. During the 48 hours incubation time, there were decrease in the IP of bacterial isolates of 3M.2, E2.2 and 6.2. Furthermore, 3M.2 bacterial isolate was able to produce amylase in 24 hours of incubation with an IA of 1,27. Meanwhile, bacterial isolate E2.2 could produce amylase after being incubated for 48 hours with an IA of 1,17. Keywords: Seagrass T. hemprichii, hydrolase enzymes, amylase, protease ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan bakteri simbion lamun Thalassia hemprichii dalam menghasilkan enzim protease dan amilase. Sampel bakteri yang diuji merupakan bakteri yang telah dikultur di Laboratorium, berjumlah 5 isolat yakni 3M.2, E2.2, E3.2, 6.2 dan 5.2. Pengujian aktivitas enzim bakteri dilakukan dengan menumbuhkan bakteri pada media skim milk agar dan media amilum selama 2 x 24 jam dengan menggunakan metode kertas cakram. Aktivitas enzim ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar koloni bakteri yang tumbuh, dan selanjutnya dihitung indeks proteolitik dan amilolitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri 3M.2, E2.2 dan 6.2 dapat menghasilkan protease selama waktu inkubasi 24 jam dengan IP sebesar 1,67 dan 1,20 dan 1,33 secara berurutan. Sedangkan isolat 5.2 dapat menghasilkan protease setelah diinkubasi selama 48 jam dengan IP sebesar 1,03. Pada waktu inkubasi 48 jam, terjadi penurunan IP dari isolat bakteri 3M.2, E2.2 dan 6.2. Isolat bakteri 3M.2 mampu menghasilkan amilase pada waktu inkubasi 24 jam dengan IA sebesar 1,27, sedangkan isolat bakteri E2,2 dapat menghasilkan amilase setelah diinkubasi selama 48 jam dengan IA sebesar 1,17. Kata Kunci : Lamun T. hemprichii, enzim hidrolase, amilase, proteas
KOMPOSISI DAN KEPADATAN SAMPAH DASAR LAUT BERUKURAN MESO DAN MAKRO DI PERAIRAN PANTAI MANADO Septian Z. Supit; Wilmy E. Pelle; James J. H. Paulus; Indri S. Manembu; Elvy L. Ginting; Joudy Sangari
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55011

Abstract

Manado shore is one of the water areas in North Sulawesi that has potential in coastal tourism. This is proved through the presence of tourists who want to enjoy the underwater beauty by diving either by snorkeling or by scuba. This study aimed to determine the density and composition of seabed waste in the waters of Manado shore. Sampling was carried out at 2 stations, the first station was in the estuary area of the Malalayang River and the second station was in the waters of the Megamas Manado area. The sampling method was carried out using the belt transect method by conducting SCUBA dives with a sampling area of 100 meters long and 2 meters wide. The identification results obtained 7 types of macro-sized marine debris which were classified into 17 types, while meso- sized garbage found 6 types of marine debris which were classified into 11 types. The composition for macro-sized waste is dominated by the type of plastic material (PL code; composition of 31%; weight of 7,990.025 g) while up to meso is dominated by the type of glass & ceramic material, (GC; 39%; 120.5 g). Macro and meso size marine debris density at the Manado Beach location, for macro size is dominated by the type of plastic material (PL code; 1.9 items/m2), while the meso size is dominated by the type of plastic material (PL; 1.42 items/m2). m2). Keywords: Meso Trash Composition, Density, Seabed ABSTRAK Pantai Manado merupakan salah satu wilayah perairan yang ada di Sulawesi Utara yang memiliki potensi dalam kepariwisataan pantai. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya para wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut dengan menyelam baik dengan snorkeling maupun dengan SCUBA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah kepadatan dan komposisi sampah dasar laut di perairan Pantai Manado. Pengambilan sampel dilakukan pada 2 stasiun, stasiun yang pertama berada pada daerah estuari muara Sungai Malalayang dan stasiun kedua berada pada daerah perairan kawasan Megamas Manado. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode belt transek dengan cara melakukan penyelaman SCUBA dengan luasan pengambilan sampel panjang 100 meter dan lebar 2 meter. Hasil identifikasi didapatkan 7 jenis sampah laut berukuran makro yang diklasifikasi kedalam 17 jenis, sedangkan sampah berukuran meso ditemukan 6 jenis sampah laut yang diklasifikasi kedalam 11 jenis. Komposisi untuk sampah ukuran makro didominasi jenis bahan plastik (kode PL; komposisi sebesar 31 %; berat sebesar 7.990,025 g) sedangkan sampai meso didominasi jenis bahan kaca & keramik, (GC; 39 %; 120,5 g). Kepadatan sampah laut ukuran makro dan meso di lokasi Pantai Manado, untuk ukuran makro didominasi oleh jenis bahan plastik (kode PL; sebanyak 1,9 item/m2), sedangkan ukuran meso didominasi oleh jenis bahan plastik (PL; sebanyak 1,42 item/m2). Kata Kunci: Sampah Meso, Sampah Makro, Komposisi, Kepadatan, Dasar Laut
The Abundance of Microplastics in Gastropods in The Molas Waters of North Sulawesi Nadia I. Khoirunnisa; Nickson J. Kawung; Natalie D. C. Rumampuk; Elvy L. Ginting; N. Gustaf F. Mamangkey; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64778

Abstract

Marine debris is a global problem faced by many countries. One of the most common types of waste found in marine environments is plastic. Plastic takes about 200–1000 years to fragment without being completely degraded. In aquatic environments, plastics are exposed to ultraviolet rays, causing degradation and breaking down into smaller sizes known as microplastics. Microplastics are particles less than 5 mm in size derived from the breakdown of larger plastics. The types of microplastics include film, fiber, fragment, granule, and foam. Microplastics can enter gastropods through contaminated water or sediments. This study aims to identify the types and abundance of microplastics in gastropods. Samples were collected in Molas Waters at two different times, July 2024 and April 2025, using the roaming method. The gastropods sampled were Tylothais sp. and Terebralia sp.. The results showed that in July 2024, the number of microplastics was 3.05 particles/20 individuals, while in April 2025 it decreased to 2.2 particles/20 individuals. There was a difference in abundance between the two species, where in July 2024 Tylothais sp. had the highest number, whereas in April 2025 Terebralia sp. showed the highest. The most common type of microplastic found was fiber. Keywords: plastic, mikroplastic, particle, gastropod, abundance   Abstrak Sampah laut merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan di perairan adalah plastik. Plastik membutuhkan waktu 200–1000 tahun untuk terpecah tanpa bisa benar-benar terurai. Di perairan, plastik terpapar sinar ultraviolet sehingga mengalami degradasi dan berubah menjadi ukuran lebih kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik adalah partikel berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari pecahan plastik lebih besar. Jenis mikroplastik meliputi film, fiber, fragmen, granul, dan foam. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh gastropoda melalui air maupun sedimen yang terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan mikroplastik pada gastropoda. Sampel diambil di Perairan Molas pada dua waktu berbeda, yaitu Juli 2024 dan April 2025, menggunakan metode jelajah. Gastropoda yang dijadikan sampel adalah Tylothais sp. dan Terebralia sp.. Hasil analisis menunjukkan pada Juli 2024 jumlah mikroplastik sebesar 3,05 partikel/20 individu, sedangkan pada April 2025 turun menjadi 2,2 partikel/20 individu. Terdapat perbedaan kelimpahan antara kedua spesies, di mana pada Juli 2024 Tylothais sp. memiliki jumlah tertinggi, sedangkan pada April 2025 tertinggi terdapat pada Terebralia sp.. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber. Kata kunci: plastik, mikroplastik, partikel, gastropoda, kelimpahan