Inneke F. M. Rumengan
Universitas Sam Ratulangi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

KEMAMPUAN SENYAWA PATELAMIDA E DARI Prochloron didemni ASAL TELUK MANADO SEBAGAI INHIBITOR REPLIKASI SARS-CoV-2 BERDASARKAN KAJIAN PENAMBATAN MOLEKULER DENGAN AUTODOCK Trezya Nilam Sari Pangemanan; Eliza J. Sumampouw; Maria M. Lenak; Inneke F. M. Rumengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54943

Abstract

he COVID-19 pandemic caused by the severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) has lead to a global health emergency. The outbreak of COVID-19 to date indicates an urgency to find and develop effective therapeutic agents. One alternative that needs to be explored is to design drug candidates from marine fauna. Marine microbes have promising molecular potential as a source of pharmaceutical biomaterials, including Prochloron didemni which associated with Ascidiacea belongs to the invertebrate subphylum Tunicata in Manado Bay, North Sulawesi. This microbe has been isolated from its host Lissoclinum patella and cultivated in the laboratory. P. didemni has been reported to produce several cyclic peptides including patelamide E compound. One approach to develop this compound as antiviral drug is in silico analysis using AutoDock. This analysis aims to predict the ability of patelamide E compounds to inhibit the activity of the non-structural protein (nsp13) SARS-CoV-2 which is known to play an important role in the viral replication. Its molecular structure was downloaded from the RCSB Protein Database with ID 6ZSL. As ligands, the molecular structure of patelamide E and the recommended drugs for COVID-19 (ivermectin, remdesivir, malnupiravir, favipiravir and oseltamivir) were downloaded from https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/. The binding affinity between the protein and the ligand was assessed using AutoDock and visualized by PyMol. The results show that the free energy (∆G) value of -15.4 kcal/mol was obtained for binding affinity of patelamide E towards nsp13 SARS-CoV-2, indicating that this compound could inhibit the viral replication. The inhibitory ability of patelamide E is stronger than the recommended drugs (ivermectin, remdesivir, malnupiravir, favipiravir and oseltamivir) with ∆G values ranged from -6.7 to -13.7 kcal/mol. This analysis is obviously necessary to accomplish with further computer simulation for assesing the binding stability. The potential of patelamide E as an anti-SARS-CoV-2 drug candidate should be more clinically assayed after in vitro and in vivo analyses.Keywords: Molecular docking, nsp 13, patellamide E, SARS-CoV-2, marine microbes ABSTRAKPandemi COVID-19 yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah menyebabkan situasi darurat kesehatan secara global. Hal ini jelas memunculkan kebutuhan untuk menemukan dan mengembangkan agen terapeutik yang efektif. Alternatif yang perlu dijajaki adalah mendesain kandidat obat dari fauna laut. Mikroba laut memiliki potensi molekuler yang menjanjikan sebagai sumber bahan farmasi, termasuk Prochloron didemni yang ditemukan hidup berasosisasi dengan golongan Ascidiacea, avertebrata dari subfilum Tunikata di Teluk Manado, Sulawesi Utara. Mikroba ini telah berhasil diisolasi dari inangnya Lissoclinum patella dan dikultivasi di laboratorium. P. didemni dilaporkan menghasilkan beberapa peptida siklik termasuk senyawa patelamida E. Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh yaitu analisis in silico menggunakan perangkat lunak AutoDock. Analisis ini bertujuan untuk memprediksi kemampuan senyawa patelamida E dalam menghambat aktivitas protein nonstruktural (nsp13) SARS-CoV-2 yang diketahui berperan dalam proses replikasi virus tersebut. Struktur protein diunduh dari RCSB Protein Data Bank dengan ID 6ZSL. Sebagai ligan, struktur molekul patelamida E dan obat yang direkomendasikan untuk COVID-19 (ivermectin, remdesivir, malnupiravir, favipiravir dan oseltamivir) diunduh dari https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/. Afinitas ikatan antara protein dan ligan didapatkan dari pengoperasian perangkat lunak AutoDock dan divisualisasikan menggunakan PyMol. Hasil penambatan patelamida E pada nsp13 SARS-CoV-2 dalam parameter energi bebas (∆G) sebesar -15.4 kcal/mol mengindikasikan bahwa senyawa ini dapat menghambat replikasi virus tersebut. Kemampuan hambat patelamida E lebih kuat dari obat-obat yang direkomendasikan (ivermectin, remdesivir, malnupiravir, favipiravir dan oseltamivir) yang nilai ∆G-nya berkisar -6.7 hingga -13.7 kcal/mol. Analisis ini perlu dilanjutkan dengan simulasi komputer untuk mengkaji kestabilan ikatan antara ligan dan protein. Potensi senyawa patelamida E sebagai kandidat obat anti SARS-CoV-2 perlu diuji klinis yang didahului dengan analisis in vitro dan in vivo. Kata kunci: Penambatan molekuler, nsp 13, patelamida E, SARS-CoV-2, mikroba laut
UJI AKTIVITAS ANTI UV DARI EKSTRAK LAMUN DI PERAIRAN SEKITAR DESA BAHOWO TELUK MANADO KECAMATAN BUNAKEN Monalisa L. R. Tumonggor; Veibe Warouw; Fitje Losung; Inneke F. M. Rumengan; Natalie D.C. Rumampuk; Meiske Salaki
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54996

Abstract

Seagrass is one of the fertile ecosystems and has enough potential to be exploited. Seagrasses always get exposure of ultra violet (UV) rays so that they produce secondary metabolites to maintain their lives from UV radiation that is harmful to seagrasses. The aims of this study was to identify seagrass samples, obtain the extracts and determine the anti-UV activity test on seagrass extracts. The results of this study obtained 4 types of seagrass from the waters around Bahowo Village, namely Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichi, and Cymodocea serrulata. These four types of seagrass have been extracted and tested for their anti- UV activity. Seagrass species Enhalus acoroides has anti-UV-A and UV-B activity, Syringodium isoetifolium has anti-UV-B activity, Cymodocea serrulata has anti-UV-C activity and Thalassia hemprichii has anti-UV-A and UV-C activity. Keywords : Seagrass, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Anti-UV ABSTRAK Lamun (seagrass) adalah salah satu ekosistem yang subur dan cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan. Lamun selalu mendapatkan paparan sinar ultra violet (UV) sehingga lamun memproduksi metabolit sekunder untuk mempertahankan hidupnya dari radiasi sinar UV yang berbahaya bagi lamun. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi sampel lamun, mendapatkan ekstrak dan menentukan uji aktivitas anti-UV pada ekstrak lamun. Hasil penelitian ini didapatkan 4 jenis lamun dari Perairan Sekitar Desa Bahowo yaitu Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichi, dan Cymodocea serrulata. Dari keempat jenis lamun ini telah diekstraksi dan diuji aktivitas anti-UVnya. Jenis lamun Enhalus acoroides memiliki aktivitas anti-UV- A dan UV-B, Syringodium isoetifolium memiliki aktivitas anti-UV-B, Cymodocea serrulata memiliki aktivitas anti- UV-C dan Thalassia hemprichii memiliki aktivitas anti-UV-A dan UV-C. Kata kunci: Lamun, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Anti-UV
Gastropod Density and Diversity in Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi Aldi Tharo; Indri S. Manembu; Noldy Mamangkey; Inneke F. M. Rumengan; Medy Ompi; Rosita A. J. Lintang
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64406

Abstract

  Baseline information on intertidal gastropod assemblages is critical for managing tropical shorelines subject to growing recreational pressure. This study quantified species composition, density and diversity of gastropods along the intertidal zone of the Tasik Ria Beach Tourism Area, North Sulawesi, Indonesia. Sampling was conducted once at low tide along three 13 m land‑to‑sea transects spaced 50 m apart. Five 1 × 1 m quadrats were placed at 2 m intervals along each transect. Epifaunal gastropods were hand‑collected, while infaunal taxa were excavated to a depth of ~25 cm; all specimens were preserved in 70 % ethanol and identified using regional monographs and the World Register of Marine Species.A total of 24 gastropod species were recorded. Mean densities at the three stations were within ranges typically associated with minimally disturbed sandy‑muddy shores, indicating that habitat remains in comparatively good condition. Shannon–Wiener diversity values (H′) fell within the low‑to‑moderate category, whereas Simpson dominance coefficients (C) were moderate at all stations, reflecting the numerical prominence of Nassarius pullus. The assemblage structure suggests a moderately healthy intertidal community that is beginning to show signs of faunal dominance. Continued periodic recommended to detect potential shifts attributable to intensifying tourism, and to inform evidence‑based coastal management and conservation strategies. Keywords: Gastropods, density, diversity, dominance, and tourist area   Abstrak Informasi dasar tentang komunitas gastropoda di zona pasang surut sangat penting untuk mengelola pantai tropis yang menghadapi tekanan rekreasi yang meningkat. Riset ini mengukur komposisi spesies, kepadatan, dan keragaman gastropoda di zona pasang surut Area Wisata Pantai Tasik Ria, Sulawesi Utara, Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan sekali saat air surut sepanjang tiga transek darat-ke-laut berukuran 13 m dan berjarak 50 m satu sama lain. Lima kuadrat berukuran 1 × 1 m ditempatkan dengan jarak 2 m di sepanjang setiap transect. Gastropoda yang hidup di permukaan dikumpulkan secara manual, sementara taksa infaunal digali hingga kedalaman ~25 cm; semua spesimen diawetkan dalam etanol 70% dan diidentifikasi menggunakan monografi regional dan World Register of Marine Species.Total 24 spesies gastropoda tercatat. Kepadatan rata-rata di tiga stasiun berada dalam rentang yang umumnya terkait dengan pantai berpasir-berlumpur yang minim gangguan, menunjukkan bahwa habitat masih dalam kondisi relatif baik. Nilai keragaman Shannon–Wiener (H′) berada dalam kategori rendah hingga sedang, sedangkan koefisien dominansi Simpson (C) moderat, mencerminkan dominasi numerik Nassarius pullus. Struktur komunitas menunjukkan komunitas intertidal yang sehat namun mulai menunjukkan tanda-tanda dominasi fauna. Pemantauan berkala direkomendasikan untuk mendeteksi pergeseran potensial akibat pariwisata, serta mendukung strategi pengelolaan dan konservasi pesisir berbasis bukti. Kata kunci: Gastropoda, kepadatan, keanekaragaman, dominansi, kawasan wisata.