Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Inisiasi Menyusu Dini (Imd) dan Frekuensi Menyusui dengan Kelancaran Asi pada Ibu Post Partum di Wilayah Kerja Puskesmas Pajar Bulan Kabupaten Seluma Tri Endah Suryani; Lolli Nababan; Iin Nilawati; Meiniarti Meiniarti; Dian Ika Pratiwi
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.46303

Abstract

Kelancaran produksi ASI dipengaruhi oleh faktor frekuensi pemberian ASI, berat bayi saat lahir, usia kehamilan saat bayi lahir, usia ibu, paritas, stres dan penyakit akut, IMD, perawatan payudara, penggunaan alat kontrasepsi, status gizi dan kelelahan akibat bekerja. Penelitian ini dilakukan agar diketahuinya hubungan inisiasi menyusu dini (IMD) dan frekuensi menyusui dengan kelancaran ASI pada ibu post partum di Wilayah Kerja Puskesmas Pajar Bulan Kabupaten Seluma. Jenis penelitian adalah analitik dengan desain cross sectional, dengan sampel sebanyak 50 ibu post partum diambil secara total sampling. Menggunakan data primer, diolah secara univariat dan bivariat dengan analisis uji chi square. Hasil penelitian diketahui ibu post partum sebagian besar 62,0% dengan kelancaran ASI yang lancar, sebagian besar 58,0% melakukan inisiasi menyusu dini (IMD), sebagian besar 62,0% dengan frekuensi menyusui dengan optimal. Ada hubungan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan kelancaran ASI pada ibu post partum (p = 0,008), ada hubungan frekuensi menyusui dengan kelancaran ASI pada ibu post partum (p = 0,000). Hendaknya kepala Puskesmas membuat kebijakan terkait pengklaiman BPJS oleh bidan dan pegawai Puskesmas bagi pasien persalinan normal agar melampirkan bukti pelaksanaan IMD dan observasi frekuensi menyusui. Selain itu juga mewajibkan bagi ibu yang akan melahirkan di Puskesmas Pajar Bulan untuk mengikuti kegiatan ANC minimal 6 kali selama kehamilan dan mengikuti kegiatan kelas ibu hamil, serta posyandu balita sehingga dapat dilakukan pemantauan frekuensi menyusui bagi ibu.
Hubungan Usia dan Tingkat Pendidikan Ibu Nifas dengan Perawatan Luka Perineum di Pmb R Pasar Ikan Kota Bengkulu Lolli Nababan; Tri Endah Suryani; Entan Afriannisyah; Daniati Jeany Putri
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.48137

Abstract

Robekan perineum bisa terjadi saat proses kelahiran. Penyebab nya adalah berat badan bayi ≥ 4000 gram, malpresentasi, letak sungsang, cara meneran ataupun pimpinan persalinan yang salah. Luka pada perineum memerlukan perawatan untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan usia dan tingkat pendidikan ibu nifas dengan perawatan luka perineum di PMB “R” Pasar Ikan Kota Bengkulu Tahun 2023. Metode penelitian adalah metide kuantitatif dengan desain cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas di BPM “R”, dengan sampel sebanyak 50 ibu nifas dengan teknik pengambilan sampel secara total Sampling. Menggunakan data primer dan sekunder, diolah secara univariat dan bivariat. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Februari Tahun 2023 di PMB “R” Kota Bengkulu. Hasil analisa univariat, dari 50 ibu nifas setengahnya 25 (50,0%) melakukan perawatan luka perineum, 25(50,0%) ibu nifas berusia produktif 20-35 tahun, dan hampir setengahnya 19 (38,0%) ibu nifas memiliki tingkat pendidikan tinggi. Hasil analisa bivariat menggunakan uji statistic Chi-Square didapatkan ada hubungan yang signifikan antara usia dan perawatan luka perineum (p = 0,000), dan hasil uji statistic Chi-Square juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perawatan luka perineum (0,027). Diharapkan tenaga kesehatan khususnya Bidan untuk selalu melakukan meningkatkan upaya promotif dan preventif yaitu peningkatan pengetahuan serta upaya pencegahan robekan perineum serta melakukan kunjungan nifas lengkap.
Pengetahuan Ibu Menyusui Dan Dukungan Keluarga Berhubungan Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Lolli Nababan; Tri Endah Suryani; Okta Viana
Al-Su’aibah Midwifery Journal Vol. 3 No. 2 (2025): December
Publisher : STIKES Al-Su’aibah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69597/amj.v3i2.43

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan serta perkembangan optimal, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh pengetahuan ibu dan dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif di PMB L Padang Serai Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki bayi usia 7–12 bulan, dengan sampel 59 responden yang diambil secara Accidental Sampling. Data dikumpulkan melalui data primer dan sekunder, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan 30 responden memberikan ASI eksklusif dan 29 tidak. Sebanyak 22 responden memiliki pengetahuan kurang, 24 cukup, dan 13 baik; serta 32 mendapat dukungan keluarga dan 27 tidak. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif, dengan kekuatan hubungan kategori sedang. Disarankan Puskesmas meningkatkan promosi kesehatan mengenai pentingnya ASI eksklusif untuk mendukung keberhasilan menyusui.
Hubungan Usia Dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Ibu Hamil Dengan Kejadian Preeklamsia Lolli Nababan; Tri Endah Suryani; Dian Ika Pratiwi
Al-Su’aibah Midwifery Journal Vol. 3 No. 2 (2025): December
Publisher : STIKES Al-Su’aibah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69597/amj.v3i2.44

Abstract

Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan hipertensi dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu di Indonesia. Faktor risiko seperti usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua dan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi diduga berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia. Di Kota Bengkulu, kasus preeklamsia masih menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan usia dan IMT ibu hamil dengan kejadian preeklamsia. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. populasinya berjumlah 125 ibu hamil, dengan sampel 33 responden yang diambil secara random sampling. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia ibu (p=0,000), gravida (p=0,005), dan IMT (p=0,008) dengan kejadian preeklamsia. Disimpulkan bahwa usia dan IMT berhubungan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil. Ibu hamil disarankan untuk menjaga tekanan darah secara rutin, menjaga berat badan ideal, serta menghindari kehamilan pada usia berisiko untuk menurunkan kejadian preeklamsia.
The Relationship Between Knowledge and Distance to Health Facilities and the Completeness of K6 Prenatal Care Visits Tri Endah Suryani; Lolli Nababan; Poppy siska Putri; Efrilya Wahyu Suci Wulandari
Jurnal Kebidanan Manna Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jkm.v5i1.1884

Abstract

Background: Antenatal Care (ANC) services are a vital maternal health intervention for the early detection of pregnancy risk factors and the prevention of complications contributing to high maternal mortality rates. Although the national target for both the first visit (K1) and complete six visits (K6) is 100%, coverage remains suboptimal. Low knowledge regarding the benefits of prenatal check-ups often hinders adherence. Community Health Center X continues to face low complete K6 coverage at 60.4%. This study aims to analyze the relationship between pregnant women's knowledge level and distance to health facilities with the completeness of K6 ANC visits. Methods: An analytical study with a cross-sectional approach was conducted. The study sample comprised 47 postpartum women selected using total sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate statistical analysis. Results: The findings revealed that 55.3% of respondents had not completed the K6 ANC visits, and 48.9% possessed a low level of knowledge regarding prenatal care. Although the majority of respondents (63.8%) had good geographic access living within a reasonable distance, this ease of access did not fully translate into service utilization due to continued reliance on traditional practices. Bivariate analysis demonstrated a significant association between knowledge level and K6 ANC completeness ($p = 0.003$), as well as between distance to health facilities and K6 ANC completeness ($p = 0.002$). Conclusion: Knowledge level, reproductive experience, and geographic accessibility are critical determinants influencing maternal adherence to standard complete antenatal care (K6) visits.
Eksitasi Tumbuh Kembang Anak Dengan Metode Baby Spa Di Kelurahan Kandang Mas Kota Bengkulu Tri Endah Suryani; Dita Selvianti; Lolli Nababan; Poppy Siska Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4228

Abstract

Pelaksanaan Kegiatan pijat bayi atau pijat anak pada masyarakat masih diduduki secara menyeluruh oleh dukun bayi. Keunggulan pijat bayi yang di miliki oleh dukun bayi berdasarkan pengalaman turun temurun tanpa pelatihan secara khusus sehingga tindakan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, sebagai akibatnya kurang optimal. Selain itu, perilaku masyarakat untuk memijatkan bayinya ke dukun bayi terkadang saat bayi sedang sakit, sedangkan pijat bayi akan maksimal jika untuk stimulasi tumbuh kembang dilaksanakan secara rutin dalam keadaan sehat, tidak hanya dalam keadaan sedang sakit saja. Saat ini sedang booming nama “Baby Spa” yaitu pijat bayi yang dilakukan bertujuan untuk menstimulasi tumbuh kembang pada bayi maupun anak dan dilakukan oleh tenaga yang sudah terlatih dan profesional, akan tetapi biasanya dengan biaya relatif mahal yang tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Berdasarkan hal tersebut maka dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk sosialisasi dan Eksitasi tentang Baby Spa (pijata bayi) untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Metode pelaksanaannya adalah pemeriksaan tumbang sebelum dan sesudah pijat bayi, tes tumbang dengan DDSTIK. Hasil pijat bayi memiliki manfaat signifikan tidak hanya pada aspek fisik, seperti peningkatan pertumbuhan melalui stimulasi sistem peredaran darah dan nafsu makan, tetapi juga pada aspek psikologis, yaitu meningkatkan kenyamanan, rasa aman, dan memperkuat ikatan emosional antara ibu dan anak melalui sentuhan kulit-ke-kulit.