Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Computer Self-Efficacy terhadap Burnout pada Dosen Kota Bandung di Era Pandemi Fauzan Hifdzul Siddiq; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5226

Abstract

Abstract. Burnout is recognized as a major problem in many workplaces around the world, because over time the changes that occur often lead to individuals feeling exhausted, frustrated, angry and cynical, as well as a sense of ineffectiveness or failure. The use of computer technology in online learning as a result of the Covid-19 pandemic in the field of education is one of the changes that is currently receiving the attention of many researchers, besides these changes can cause burnout. Confidence in the use of computers is considered to be a protective factor for the emergence of burnout. Confidence in their ability to use computers can be known as computer self-efficacy. The purpose of this study was to determine the effect of computer self-efficacy on burnout in lecturers in the city of Bandung. This study uses a quantitative causality approach. The subjects in this study amounted to 107 lecturers in the city of Bandung. The computer self-efficacy measuring instrument used is based on the theory of Compeau & Higgins (1995) with the reference based on Bandura's (1977) self-efficacy theory, while the burnout measurement tool is based on the theory of Maslach & Jackson (1981) ). The sampling technique used is quota sampling. Data analysis using simple linear regression test. The result of this research is that computer self-efficacy has a significant negative effect on burnout in lecturers in Bandung. The effective contribution of computer self-efficacy to burnout is 36.48%, the remaining 63.52% is another factor that can affect burnout. Abstrak. Burnout diakui sebagai masalah utama di banyak tempat kerja di seluruh dunia, karena seiring berjalannya waktu perubahan-perubahan yang terjadi seringkali menyebabkan individu merasa kelelahan, frustrasi, marah dan sinis, serta rasa ketidakefektifan atau kegagalan. Penggunaan teknologi komputer dalam pembelajaran daring sebagai dampak dari Pandemi Covid-19 dalam bidang pendidikan merupakan salah satu perubahan yang pada saat ini mendapat perhatian banyak peneliti, selain itu perubahan tersebut dapat menimbulkan burnout. Keyakinan terhadap penggunaan komputer dinilai dapat menjadi faktor protektif dari munculnya burnout. Keyakinan atas kemampuannya dalam menggunakan komputer dapat dikenal dengan istilah computer self-efficacy. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh computer self-efficacy terhadap burnout pada dosen di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 107 dosen di Kota Bandung. Alat ukur computer self-efficacy yang digunakan didasarkan pada teori Compeau & Higgins (1995) dengan acuannya berdasarkan teori self-efficacy Bandura (1977), sedangkan alat ukur burnout didasarkan pada teori Maslach & Jackson (1981). Teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling. Analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini adalah computer self-efficacy berpengaruh negatif signifikan terhadap burnout pada dosen di Kota Bandung. Sumbangan efektif computer self-efficacy terhadap burnout sebesar 36.48%, sisanya 63.52% merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi burnout.
Pengaruh Autonomous Motivation terhadap Komitmen Organisasi pada Guru Honorer di Kabupaten Garut Wildah Sifa Alimiyah; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5343

Abstract

Abstract. The number of education in Indonesia every year has increased, the increasing number of education, it is also necessary to have the quality of competent teachers to produce quality students. However, the problem of teachers in Indonesia, especially honorary teachers, who sometimes receive less attention and appreciation, affects the organization's commitment. The purpose of this study is to determine the impact of Autonomous Motivation towards Organizational Commitment carried out on honorary teachers in garut district. Honorary teachers are teaching staff who have not obtained ASN (State Civil Apparatus) status. The research method used is the causality method with a total of 100 honorary teachers in garut district. This study used the Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS) measuring instrument developed by Gagne et al (2015) and translated into Indonesian and moderated by Indiyastuti, and an organizational commitment measurement tool from Mowday, Steers and Porter which was modified and developed by Tri Ingarianti (2017). The findings of this study are that 43% of honorary teachers have a high level of Autonomous Motivation and 73% of honorary teachers have a high Organizational Commitment. The effect of the Autonomous Motivation variable on Organizational Commitment was 54.8%. Abstrak. Angka pendidikan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, semakin meningkatnya angka pendidikan maka diperlukan juga kualitas guru yang kompeten untuk menghasilkan murid yang berkualitas. Namun, permasalahan guru di Indonesia terutama guru honorer yang terkadang mendapat perhatian dan apresiasi kurang layak sehingga berpengaruh terhadap komitmen organisasi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perngaruh Autonomous Motivation terhadap Komitmen Organisasi yang dilakukan pada guru honorer di kabupaten garut. Guru honorer merupakan tenaga pengajar yang belum memperoleh status ASN (Aparatur Sipil Negara). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas dengan jumlah subjek sebanyak 100 orang guru honorer di kabupaten garut. Penelitian ini menggunakan alat ukur Skala The Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS) yang dikembangkan oleh Gagne et al (2015) dan dialih bahasa kedalam bahasa Indonesia serta dimodfikasi oleh Indiyastuti, dan alat ukur komitmen organisasi dari Mowday, Steers dan Porter yang dimodifikasi dan dikembangkan oleh Tri Ingarianti (2017). Temuan dari penelitian ini yaitu 43% guru honorer memiliki tingkat Autonomous Motivation yang tinggi dan 73% guru honorer memiliki Komitmen Organisasi tinggi. Pengaruh variabel Autonomous Motivation terhadap Komitmen Organisasi sebesar 54,8%.
Pengaruh Self Compassion terhadap Kecemasan Masa Depan pada Mahasiswa Tingkat Akhir Lischa Nabila Wilianaza; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7313

Abstract

Abstract. These hopes, goals and guesses about what will happen in the future often affect human mental health, coupled with the pandemic yesterday brought a period of uncertainty for everyone. This uncertainty associated with the future and the possibility of unintended or negative outcomes is commonly referred to as future anxiety. Future anxiety is certainly not a good thing for the human mentality because it involves understanding the goodness of oneself when experiencing failures and mistakes, without criticizing and judging oneself harshly this is commonly called self-compassion is very important. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) what is the level of self compassion possessed by final year students? (2) What is the level of future anxiety experienced by final year students? (3) How much influence self-compassion has on future anxiety in final year students?. The respondents of this study were 340 final year students at Bandung Islamic University with causality and quota sampling methods. The results obtained using a simple linear regression test showed simultaneously and significantly the negative influence of self-compassion on future anxiety in final year students. With the value of the linear regression coefficient of the self-compassion variable is –.584, this shows that if the self-compassion variable increases, the future anxiety variable will decrease. The value of the coefficient of determination of .499 means that the self-compassion variable can affect future anxiety by 49.9%, meaning that the influence is at a fairly moderate level. Therefore, it is hoped that final year students can increase self-compassion in order to deal with future anxiety. Abstrak. Harapan, tujuan dan dugaan mengenai yang akan terjadi di masa depan ini seringkali mempengaruhi kesehatan mental manusia, ditambah dengan adanya pandemi kemarin membawa masa ketidakpastian bagi semua orang. Ketidakpastian yang terkait dengan masa depan dan kemungkinan hasil yang tidak diinginkan atau negatif ini biasa disebut dengan kecemasan masa depan. Kecemasan masa depan tentu bukan lah hal yang baik bagi mental manusia untuk itu melibatkan pemahaman akan kebaikan pada diri sendiri saat mengalami kegagalan dan kesalahan, tanpa mengkritik dan menghakimi diri secara keras ini biasa di sebut dengan self compassion sangatlah penting. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimana tingkat self compassion yang dimiliki mahasiswa tingkat akhir? (2) Bagaimana tingkat kecemasan masa depan yang dialami oleh mahasiswa tingkat akhir? (3) Seberapa besar pengaruh self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir?. Responden penelitian ini 340 mahasiswa tingkat akhir di Universitas Islam Bandung dengan metode kausalitas dan quota sampling. Hasil penelitian diperoleh menggunakan uji regresi linear sederhana menunjukkan secara simultan dan signifikan pengaruh negatif self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir. Dengan nilai koefisien regresi linear dari variabel self compassion adalah .584 ini memperlihatkan bahwa apabila variabel self compassion mengalami kenaikan maka variabel kecemasan masa depan akan mengalami penurunan. Nilai koefisien determinasi .499 artinya variabel self compassion dapat mempengaruhi kecemasan masa depan sebesar 49.9% artinya pengaruh berada pada tingkat yang cukup moderat. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa tingkat akhir dapat meningkatkan self compassion agar dapat menangani kecemasan masa depan.