Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PEREKONOMIAN DAN PERDAGANGAN PADA MASA PERUNDAGIAN KAJIAN DATA MEGALITIK DI DATARAN TINGGI PASEMAH SUMATERA SELATAN Indriastuti, Kristantina
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.22 KB)

Abstract

Economics in the past as the reflections of the economics act such as the activities of food and huntered gathered, fish catching, even farming activities either. To fulfil of their various needs that were also made an exchange activities by barter system. The exchange is the central concept in archaeology, when referring to material goods, to commodities, it’s means much the same as trade. Tradding and economics activitivities that were happened in Pasemah plateau be recognized by the artifacts as the clues of their trading in the past.
Seni Lukis dan Seni Gores Pada Megalitik Pasemah, Provinsi Sumatera Selatan Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1339.894 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.84

Abstract

Pada masyarakat prasejarah seni dianggap sebagai ungkapan religi mereka tehadap kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan alam sekitar, begitu pula dengan manusia prasejarah yang hidup menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sebagai ungkapan akan kehidupan mereka yang lebih baik, maka mereka mengungkapkannya dalam bentuk karya lukis yang menggambarkan berbagai bentuk dan corak. Keberadaan karya lukis prasejarah di Pasemah mempunyai makna tertentu yang berafiliasi dalam kehidupan relegi-magis mereka. permasalahan yang timbul terhadap karya seni prasejarah yang diciptakan parapesohor seni saat itu yakni apakah makna pola hias motif manusia, binatang, flora dan motif geometris yang menjadi obyek lukisan prasejarah di beberapa situs megalitik di dataran tinggi Pasemah, provinsi, Sumatera Selatan. Setelah melalui pengkajian pada beberapa situs maka dapat disimpulkan sementara bahwa adanya seni lukis dan seni gores pada dinding batu di Pasemah tampaknya merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan pendukungnya. Mereka percaya akan adanya arwah nenek moyang sebagaikekuatan gaib yang dapat melindungi kehidupan manusia di dunia. Bukan tidak mungkin bahwa goresan-goresan berupa manusia-manusia kecil yang ada di situs Tegurwangi dan di situs Jarakan itu dimaksudkan sebagai penambah kekuatan gaib dan digunakan sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesuburan, keamanan, kesehatan dan lain-lain
TEMPAYAN KUBUR DI DESA TEBAT MONOK, KECAMATAN KEPAHIANG, KABUPATEN KEPAHIANG, PROVINSI BENGKULU Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1750.218 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.151

Abstract

Budaya megalitik adalah budaya universal yang dikenal di seluruh dunia. Budaya ini berkembang dari masa prasejarah sampai saat ini. Persebaran budaya megalitik sejatinya merupakan perjalanan peradapan suatu masyarakat. Penguburan dengan tempayan merupakan salah satu bagian dari budaya megalitik yang dikenal dan berkembang di Indonesia selain bentuk-bentuk penguburan lainnya. Penguburan dengan tempayan dapat dilakukan dengan cara penguburan primer, dilakukan dengan cara memasukkan mayat dengan posisi jongkok atau dengan cara memasukkan hanya sebagian anggota tubuh saja atau biasa disebut penguburan sekunder. Setelah dilakukan penelitian di situs Tebatmonok ini telah ditemukan tempayan kubur yang berjumlah 22 buah dengan ukuran yang berbeda beda dantidak utuh lagi, akibat dari lokasi situs merupakan lokasi penambangan pasir yang masih dikerjakan. Selain tempayan juga ditemukan beliung dan belincung yang berjumlah 10 buah. Selain itu ditemukan juga wadah-wadah dari tanah liat baik polos maupun berhias yang kemungkinan merupakan bekal kubur, karena disertakan dalam penguburan. Di situs Tebatmonok ini juga ditemukan batu tegak sebanyak 3 buah yang membentuk formasi melingkar yang kemungkinan merupakan sarana pemujaan sebelum melakukan ritual yang berkaitan dengan penguburan.
TEMPAYAN KUBUR DI DESA TEBAT MONOK, KECAMATAN KEPAHIANG, KABUPATEN KEPAHIANG, PROVINSI BENGKULU Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.151

Abstract

Budaya megalitik adalah budaya universal yang dikenal di seluruh dunia. Budaya ini berkembang dari masa prasejarah sampai saat ini. Persebaran budaya megalitik sejatinya merupakan perjalanan peradapan suatu masyarakat. Penguburan dengan tempayan merupakan salah satu bagian dari budaya megalitik yang dikenal dan berkembang di Indonesia selain bentuk-bentuk penguburan lainnya. Penguburan dengan tempayan dapat dilakukan dengan cara penguburan primer, dilakukan dengan cara memasukkan mayat dengan posisi jongkok atau dengan cara memasukkan hanya sebagian anggota tubuh saja atau biasa disebut penguburan sekunder. Setelah dilakukan penelitian di situs Tebatmonok ini telah ditemukan tempayan kubur yang berjumlah 22 buah dengan ukuran yang berbeda beda dantidak utuh lagi, akibat dari lokasi situs merupakan lokasi penambangan pasir yang masih dikerjakan. Selain tempayan juga ditemukan beliung dan belincung yang berjumlah 10 buah. Selain itu ditemukan juga wadah-wadah dari tanah liat baik polos maupun berhias yang kemungkinan merupakan bekal kubur, karena disertakan dalam penguburan. Di situs Tebatmonok ini juga ditemukan batu tegak sebanyak 3 buah yang membentuk formasi melingkar yang kemungkinan merupakan sarana pemujaan sebelum melakukan ritual yang berkaitan dengan penguburan.
Seni Lukis dan Seni Gores Pada Megalitik Pasemah, Provinsi Sumatera Selatan Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.84

Abstract

Pada masyarakat prasejarah seni dianggap sebagai ungkapan religi mereka tehadap kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan alam sekitar, begitu pula dengan manusia prasejarah yang hidup menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sebagai ungkapan akan kehidupan mereka yang lebih baik, maka mereka mengungkapkannya dalam bentuk karya lukis yang menggambarkan berbagai bentuk dan corak. Keberadaan karya lukis prasejarah di Pasemah mempunyai makna tertentu yang berafiliasi dalam kehidupan relegi-magis mereka. permasalahan yang timbul terhadap karya seni prasejarah yang diciptakan parapesohor seni saat itu yakni apakah makna pola hias motif manusia, binatang, flora dan motif geometris yang menjadi obyek lukisan prasejarah di beberapa situs megalitik di dataran tinggi Pasemah, provinsi, Sumatera Selatan. Setelah melalui pengkajian pada beberapa situs maka dapat disimpulkan sementara bahwa adanya seni lukis dan seni gores pada dinding batu di Pasemah tampaknya merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan pendukungnya. Mereka percaya akan adanya arwah nenek moyang sebagaikekuatan gaib yang dapat melindungi kehidupan manusia di dunia. Bukan tidak mungkin bahwa goresan-goresan berupa manusia-manusia kecil yang ada di situs Tegurwangi dan di situs Jarakan itu dimaksudkan sebagai penambah kekuatan gaib dan digunakan sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesuburan, keamanan, kesehatan dan lain-lain
Tata Spasial Candi Bahal I, II dan III di Padang Lawas Utara, Sumatera Utara Siswanto, Ari; Ardiansyah; Wargadalem, Farida R.; Indriastuti, Kristantina
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.107

Abstract

Situs percandian Bahal di Padang Lawas Utara yang terdiri dari tiga kompleks yang berdekatan memberikan gambaran pola tata spasial yang terkait dengan lingkungannya. Masing-masing kompleks percandian memiliki tata spasial yang berbeda karena jumlah massa yang berbeda. Tujuan penelitian adalah mengkaji tata spasial kompleks percandian Bahal I, II dan III serta menganalisis keterkaitannya dengan karakteristik candi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan melalui kegiatan observasi, pengukuran, penggambaran dan wawancara di lapangan. Layout candi Bahal I, II dan III membentuk konfigurasi massa dan spasial yang jelas. Ketiga kompleks percandian tersebut menunjukkan axis yang kuat serta hierarkhi yang jelas berdasarkan pada jumlah massa candi Perwara dan dimensi candi utama. Axis yang terbentuk dari pola tata spasial telah mempertegas candi sebagai bangunan suci yang memiliki formalitas dan keseimbangan yang sangat kuat.