Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fakta Sejarah dalam Novel Calabai Karya Pepi Al-Bayqunie Kajian New Historicism Faika Burhan; Ajeng Kusuma Wardani; Ustianti; La Sudu
Journal Idea of History Vol 5 No 2 (2022): Volume 5 Nomor 2, Juli - Desember 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v5i2.1872

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan representasi sejarah dan budaya Indonesia dalam novel Calabai karya Pepi Al Bayqunie. Novel Calabai dikaji menggunakan pendekatan New Hisroricism, yakni menyandingkan teks nonsastra dengan teks sastra yang memiliki kesamaan  peristiwa. Tahapan penelitian ini yakni teknik pembacaan paralel terhadap dua teks dan analisis terhadap data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Novel Calabai karya Pepi Al Bayqunie merepresentasikan sejarah Indonesia pada masa Orde Lama hingga masa pasca reformasi. Di masamasa Orde Lama, peristiwa-peristiwa sejarah yang dihadirkan yakni pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar beserta dampaknya terhadap kaum bissu di Segeri. Peristiwa lainnya yang dihadirkan yakni kekerasan dan ancaman berkepanjangan terhadap bissu di sepanjang dekade 1960-an hingga awal tahun 2000-an. Ancaman tersebut bersumber dari semakin kuatnya pengaruh Islam beserta penganut Islam fanatik. Fakta tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kemajuan peradaban Indonesia tidak disertai dengan paham untuk saling menghargai keberagaman. Serangan terhadap bissu menjadi salah satu pertanda semakin memudarnya tradisi dan budaya leluhur dalam kehidupan masyarakat Bugis saat ini. (2) Novel Calabai merepresentasikan budaya Bugis dengan ditemukannya beberapa kosa kata Bugis, puisi Bugis Kuno, penyebutan Lontarak beserta naskah I La Galigo dalam novel.
Beyond Preservation: A Negotiated Model of Oral Tradition Revitalization against Cultural Hegemony in Muna, Southeast Sulawesi Darwan Sari; Patta Hindi Asis; Ustianti
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 28 No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v28.n1.p119-128.2026

Abstract

Globalization has significantly threatened the sustainability of local oral traditions, including kantola, a traditional oral literature of the Muna people in Southeast Sulawesi, Indonesia. This cultural phenomenon reflects the broader pattern of cultural marginalization experienced by Indigenous communities worldwide. The purpose of this study is to examine the revitalization of the Kantola oral tradition as a form of cultural resistance against global hegemonic forces, analyzing its forms, functions, and cultural significance within contemporary Muna society. This qualitative research employs a hermeneutic analytical approach through participant observation, in-depth interviews, and document analysis. Data were collected from two subdistricts in Muna Regency using purposive sampling, involving cultural practitioners, traditional leaders, and community members. The analysis draws upon Gramsci’s theory of hegemony. Three principal findings emerged: (1) The forms of revitalization include regular cultural performances, youth training programs, and digital documentation initiatives; (2) Kantola functions as a medium for social communication, moral education, and cultural identity preservation; and (3) The revitalization process represents symbolic resistance to cultural homogenization and serves as a strategic mechanism for sustaining cultural resilience.