Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Aktivitas Antibakteri Dari Bakteri Probiotik Dalam Melawan Propionibacterium acnes Dan Staphylococcus epidermidis Adhitya Naufal Pribadhi; Sri Mastuti; Ellyka Purwaningrum
Indobiosains 2023: Volume 5 No 1 Februari 2023
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/indobiosains.v5i1.9659

Abstract

Introduction; Acne vulgaris or commonly called acne, is a disease that is generally suffered by teenagers. Acne is caused by the formation of colonies of pathogenic bacteria such as Propionibacterium acnes and S. epidermidis. Excessive use of antibiotics can lead to bacterial resistance. Therefore, there is a need for other alternatives to the use of antibiotics. Probiotics can be an alternative as an antimicrobial against P. acnes and S. epidermidis bacteria. The aim of this study was to determine the antibacterial activity of probiotic bacteria, namely W. confusa against P. acnes and S. epidermidis. Method; antimicrobial test by agar diffusion method. The positive control used tetracycline antibiotics and the negative control used a blank disk. Results; the presence of antimicrobial activity against P. acnes and S. epidermidis, indicated by the average zone of inhibition in P. acnes of 13.4 mm and S. epidermidis 14 mm. Conclusion; Probiotic bacteria are able to inhibit the growth of pathogenic bacteria that cause acne, namely P. acnes and S. epidermidis.Keywords: Acnes vulgaris, Probiotics, P. acnes, S. epidermidis
Antibacterial Activity of Bacteriocin from Pediococcus pentosaceus Against Propionibacterium acnes: Molecular Docking, In Vitro, and 16S rRNA Genetic Identification Adhitya Naufal Pribadhi; Penggalih Mahardika Herlambang; Ellyka Purwaningrum
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.142.943-949

Abstract

This study aimed to evaluate the antibacterial potential of bacteriocin produced by lactic acid bacteria against Propionibacterium acnes through an integrative approach involving molecular docking, in vitro assays, and genetic identification using 16S rRNA sequencing. The target protein PDB 7LBU, representing the cell wall of P. acnes, was docked with Small Bacteriocin obtained from PubChem. The best binding affinity was recorded at –7.5 kcal/mol, indicating a stable interaction, supported by cavity analysis and ligand–protein interaction mapping using PyMOL. The results of the in vitro study, as determined by antibacterial activity testing against P. acnes, showed an average inhibition zone of 20.6 mm. In addition, genetic identification through BLAST confirmed the isolate as Pediococcus pentosaceus strain DSM 20336 with a similarity of 99.64%. These findings indicate that the bacteriocin derived from P. pentosaceus has promising potential as a natural agent in the development of alternative therapies for acne.
Rekonstruksi Pelindungan Hukum Bagi Kerabat Biologis Dalam Pemanfaatan Data Genomik Pada Platform “Satudna” Ratna Widyaningrum; Nurul Ummi Rofiah; Adhitya Naufal Pribadhi; Dian Rudy Yana
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 4 No. 1 (2026): JHN: Journal of Health and Nursing, May 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v4i1.1804

Abstract

Pembangunan basis data genomik nasional melalui Platform SatuDNA menempatkan informasi biologis warga di dalam satu infrastruktur yang dikelola negara, sedangkan hukum Indonesia belum mengenal kedudukan kerabat biologis yang informasi genetiknya tersingkap tanpa pernah menyerahkan sampel maupun memberikan persetujuan. Penelitian ini bertujuan memetakan pengaturan yang berlaku, mengidentifikasi kelemahan dan kekosongan normanya, serta merumuskan model pelindungan hukum bagi kerabat biologis. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif bersifat preskriptif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, perbandingan, dan futuristik, bertumpu pada bahan hukum primer berupa Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 beserta peraturan pelaksananya, dan bahan hukum sekunder berupa literatur bereputasi, Regulasi Umum Pelindungan Data Uni Eropa, serta kerangka kebijakan Global Alliance for Genomics and Health. Hasil penelitian menunjukkan dua kerangka hukum bekerja berdampingan dengan objek pelindungan yang berbeda, yaitu undang-undang pelindungan data melindungi orang perseorangan yang datanya diproses sedangkan undang-undang kesehatan melindungi material biologis dan kedaulatan genetika negara, sehingga kerabat biologis jatuh pada celah di antara keduanya. Interpretasi atas Pasal 1 angka 1 dan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 memperlihatkan kerabat berpeluang memperoleh kedudukan hanya sepanjang dirinya dapat diidentifikasi, sedangkan inferensi risiko yang tidak mengidentifikasi berada di luar jangkauan norma. Jalur hukum alternatif berupa gugatan perbuatan melawan hukum, gugatan perwakilan kelompok, ketentuan pidana, sengketa informasi publik, dan pengaduan disiplin tersedia, tetapi seluruhnya bersifat menyusul kerugian dan tidak menghadirkan pelindungan pendahuluan. Pertentangan antara kewajiban retensi jangka panjang dan hak penghapusan terselesaikan secara formal melalui pengecualian kepentingan penelitian ilmiah, sehingga persoalan sebenarnya terletak pada ketiadaan pengaman atas pengecualian tersebut. Penelitian ini merumuskan model Pelindungan Privasi Genomik Keluarga Berbasis Hak Terbatas dan Tata Kelola Berlapis yang menempatkan kerabat biologis tingkat pertama sebagai pihak terdampak terbatas tanpa hak veto atas keputusan partisipan, dijalankan melalui lima lapisan tata kelola, sembilan perangkat operasional, dan tiga tahap pelaksanaan yang disesuaikan dengan kondisi kelembagaan Indonesia.