Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Lama Terapi ARV Dengan Kadar Viral Load pada Pasien ODHA Adiyono Fadhil Munasir; Yustiana Arie Suwanto; Nurul Ummi Rofiah; Ahmad Muhyi
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 10 No. 1 (2026): Mei: Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v10i1.1073

Abstract

HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a virus that attacks the immune system. Viral load is a key indicator in monitoring HIV, where higher viral load indicates a worsening condition in the patient and can lead to the progression of the disease to AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Viral load can also predict the likelihood of opportunistic infections, which are the leading causes of morbidity and mortality in individuals with HIV and AIDS. Objective: To analyze the relationship between the duration of ARV therapy and viral load in PLWHA at RSUP Dr. Kariadi Semarang in 2025. Results: The Spearman correlation test (rₛ = -0.405; p = 0.002) shows a significant negative correlation between the duration of ARV therapy and viral load in PLWHA. The longer the patient undergoes ARV therapy, the lower the viral load. Among patients who have undergone therapy for more than 12 months, 80.43% had an undetectable viral load, while in the 6–12 month therapy group, only 33.33% had an undetectable viral load. Conclusion: There is a significant relationship between the duration of ARV therapy and viral load. Longer ARV therapy tends to lower viral load in PLWHA. Further research is needed to understand the factors that influence viral load and the effectiveness of ARV therapy.
Rekonstruksi Pelindungan Hukum Bagi Kerabat Biologis Dalam Pemanfaatan Data Genomik Pada Platform “Satudna” Ratna Widyaningrum; Nurul Ummi Rofiah; Adhitya Naufal Pribadhi; Dian Rudy Yana
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 4 No. 1 (2026): JHN: Journal of Health and Nursing, May 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v4i1.1804

Abstract

Pembangunan basis data genomik nasional melalui Platform SatuDNA menempatkan informasi biologis warga di dalam satu infrastruktur yang dikelola negara, sedangkan hukum Indonesia belum mengenal kedudukan kerabat biologis yang informasi genetiknya tersingkap tanpa pernah menyerahkan sampel maupun memberikan persetujuan. Penelitian ini bertujuan memetakan pengaturan yang berlaku, mengidentifikasi kelemahan dan kekosongan normanya, serta merumuskan model pelindungan hukum bagi kerabat biologis. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif bersifat preskriptif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, perbandingan, dan futuristik, bertumpu pada bahan hukum primer berupa Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 beserta peraturan pelaksananya, dan bahan hukum sekunder berupa literatur bereputasi, Regulasi Umum Pelindungan Data Uni Eropa, serta kerangka kebijakan Global Alliance for Genomics and Health. Hasil penelitian menunjukkan dua kerangka hukum bekerja berdampingan dengan objek pelindungan yang berbeda, yaitu undang-undang pelindungan data melindungi orang perseorangan yang datanya diproses sedangkan undang-undang kesehatan melindungi material biologis dan kedaulatan genetika negara, sehingga kerabat biologis jatuh pada celah di antara keduanya. Interpretasi atas Pasal 1 angka 1 dan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 memperlihatkan kerabat berpeluang memperoleh kedudukan hanya sepanjang dirinya dapat diidentifikasi, sedangkan inferensi risiko yang tidak mengidentifikasi berada di luar jangkauan norma. Jalur hukum alternatif berupa gugatan perbuatan melawan hukum, gugatan perwakilan kelompok, ketentuan pidana, sengketa informasi publik, dan pengaduan disiplin tersedia, tetapi seluruhnya bersifat menyusul kerugian dan tidak menghadirkan pelindungan pendahuluan. Pertentangan antara kewajiban retensi jangka panjang dan hak penghapusan terselesaikan secara formal melalui pengecualian kepentingan penelitian ilmiah, sehingga persoalan sebenarnya terletak pada ketiadaan pengaman atas pengecualian tersebut. Penelitian ini merumuskan model Pelindungan Privasi Genomik Keluarga Berbasis Hak Terbatas dan Tata Kelola Berlapis yang menempatkan kerabat biologis tingkat pertama sebagai pihak terdampak terbatas tanpa hak veto atas keputusan partisipan, dijalankan melalui lima lapisan tata kelola, sembilan perangkat operasional, dan tiga tahap pelaksanaan yang disesuaikan dengan kondisi kelembagaan Indonesia.