This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dimensi
Teddy Tambunan, Teddy
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERLUKAH PENERAPAN DARI KETENTUAN BANGUNAN TAHAN GEMPA DI BATAM? Tambunan, Teddy
JURNAL DIMENSI Vol 1, No 1 (2012): JURNAL DIMENSI
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.194 KB) | DOI: 10.33373/dms.v1i1.152

Abstract

Terjadinya gempa  di Bali pada  September 2011 yang lalu dan kita mungkin masih ingat gempa di Sumatra Barat yang  berskala 7.6 SR pada tanggal 30 September 2009.  Korban manusia bukanlah akibat langsung dari kejadian gempa itu sendiri, tetapi lebih banyak akibat dari keruntuhan bangunan buatan manusia, buatan praktisi bangunan.  Bisa dikatakan juga sebagai Sebuah ujian kompetensi kekuatan gedung-gedung tinggi yang ada.  Melihat kenyataan bahwa masih banyak para praktisi konstruksi di Batam yang mengabaikan “Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia Untuk Gedung” dalam perencanaannya, dengan dalih bahwa Batam Aman dari Gempa atau Batam Belum pernah mengalami Gempa.  Itu memang suatu pernyataan yang cukup realistik, karena dalam SNI Gempa 2002, Propinsi Kepulauan Riau dan khususnya pulau Batam memang masuk dalam antara wilayah zona 1- 2, yaitu wilayah gempa ringan.Analisis perbandingan pada suatu bangunan gedung 6 lantai di daerah Sei Ladi Batam, dilakukan untuk memperlihatkan perbandingan suatu design yang mengikuti code SNI Gempa 2002 dengan yang tidak. Hasil analisa menujukkan adanya peningkatan gaya-gaya dalam yang bekerja pada struktur, ditunjukkan dengan peningkatan jumlah tulangan meskipun bangunan tersebut berada wilayah gempa I yang merupakan wilayah dengan intensitas gempa kecil.  Sedangkan dari evaluasi biaya menunjukkan bahwa perbedaan biaya antara struktur yang didesain tahan gempa dengan yang tanpa tahan gempa hanya berselisih 2.08%.  Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi para praktisi untuk mengabaikan Code SNI Gempa 2002 hanya karena alasan biaya.  
ANALISIS PERPINDAHAN STRUKTUR BETON BERTULANG AKIBAT GAYA GESER HORIZONTAL PADA DAERAH RAWAN GEMPA Tambunan, Teddy
JURNAL DIMENSI Vol 4, No 3 (2015): JURNAL DIMENSI (NOVEMBER 2015)
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/dms.v4i3.3689

Abstract

Gaya geser horizontal merupakan beban gempa nominal statik ekuivalen yang terfokus pada pusat massa pada suatu tingkat lantai gedung. Dengan adanya struktur yang berbeda (jumlah tingkat dan bentang) pada suatu bangunan di wilayah rawan gempa akan menimbulkan beberapa keruntuhan struktur, sehingga menghasilkan perencanaan struktur yang berbeda pula. Analisa ini mampu menghasilkan dan memberikan gambaran keruntuhan struktur pada waktu terjadi gempa, seperti besarnya perpindahan, kondisi tegangan dan regangan element struktur saat beban rencana. Nilai perbandingan antara beban yang dihasilkan dari beban berfaktor dengan kekuatan yang tersedia (MU/MN) terbesar dihasilkan pada balok pertama lantai 2 dan 3 model M10 = 2,2 pada tinjauan tanah lunak, sedangkan nilai perbandingan  (MU/MN) terkecil dihasilkan pada balok pertama lantai 10 model M10 = 0,34 pada tinjauan tanah keras. Hubungan tegangan regangan yang terjadi pada elemen struktur balok pada masing-masing model struktur secara keseluruhan menunjukkan hasil yang lebih besar daripada tegangan regangan yang diizinkan sesuai dengan asumsi awal. Nilai yang diperoleh dari hubungan tegangan regangan dari masing-masing balok pertama adalah ɛs= 0,00207, ɛy = 0,004415, nilai ini termasuk pada kondisi I, dimana ɛs ≥ ɛy. Elemen struktur balok dinyatakan hancur pada saat beban besar rencana terjadi dengan nilai regangan tekan baja tulangan ɛs, = 0,00218 (˃  ɛy = 0,002), artinya asumsi pada langkah awal telah benar.
MODIFIKASI PERENCANAAN PONDASI TIANG PANCANG SEBAGAI ALTERNATIVE PENGGANTI PONDASI BORE PILE Tambunan, Teddy
JURNAL DIMENSI Vol 5, No 3 (2016): JURNAL DIMENSI
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/dms.v5i3.3688

Abstract

Pondasi merupakan bagian terpenting dari sebuah bangunan. Dalam pembangunan tidak terlepas dari biaya. Perencanaan finansial dalam suatu proyek konstruksi dilakukan dengan menghitung estimasi biaya konstruksi yang diperlukan dalam perencanaan pembangunan suatu infrastruktur Oleh karena itu, dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi seorang engineer perlu membandingkan beberapa metode konstruksi untuk menentukan metode apa yang paling efisien digunakan dalam proyek tersebut berdasarkan kondisi proyek yang akan dilaksanakan untuk menjawab serta meyakinkan kepada pemilik modal (owner). Sehingga dipilih pondasi tiang pancang sebagai alternative pengganti pondasi bore pile. Kemudian dilakukan analisa dari segi metode kerja, daya dukung dan biaya pelaksanaan, yang mana salah satu diantaranya yang paling ekonomis. Data-data yang digunakan untuk perencanaan menggunakan data sekunder hasil penyelidikan dilapangan yaitu data tanah (Sondir test), Tabel Output SAP2000 bangunan existing dan biaya pelaksanaannya. kemudian dilakukan analisa perhitungan untuk perencanaan pondasi tiang pancang pada bangunan tersebut. Dari hasil perhitungan didapat hasil untuk perencanaan dengan pondasi tiang pancang ukuran 40cm x 40cm, pondasi P1 =2 titik, P2 =5 titik, P3 =6 titik, P4 = 9 titik, P4A = 8 titik, P5 = 12 titik, PL1 = 5 titik, P2L = 4 titik. Berdasarkan dari hasil perhitungan biaya pelaksanaan pondasi tiang pancang sebesar Rp.2,091,500,000 sedangkan biaya pelaksanaan pondasi bor pile yang ada saat ini sebesar Rp. 2.346.989.124,50, selisih biaya pondasi tiang pancang dengan pondasi bor pile sebesar Rp. 255.489.124,50 dari perbedaan  tersebut maka yang lebih efisien adalah pondasi tiang pancang.