Yunita Ardianti Sabtalistia
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RESUSITASI SENI TARI DAN MUSIK TRADISIONAL JAWA BARAT DI BEKASI Malvin Malvin; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21770

Abstract

Bekasi is one of the cities that is quite crowded as well as a location close to the capital city and also this city has a lot of history. However, historical places are starting to be replaced by new functions and also forgetting their history. So try to revive them with artistic functions. At the site locations, which are mostly shops and try to make West Java art functions close to Bekasi residents, most of them come from the Sundanese, also there are Betawi tribes, and ethnic Chinese. Art is the expression or application of human creative skills and imagination, usually in a visual form, producing works that are valued primarily for their beauty or emotional strength. Choose the function of dance and music because at the location where there was a traditional clothing and dance competition to attract people around it, there is also an activity held once a year near the area where there is a music event, namely xylophone kromong which is often visited by people to listen to it. then dance and sing. The method chosen is to observe the city of Bekasi and also look for site information and also the surrounding area. The result is that the site area is crowded with people and also tries to create recreation that can attract people from outside the city as well as create an open area on the site. Keyword: Arts; Dance; Music; Recreation; Resuscitation Abstrak Bekasi merupakan salah satu kota yang cukup ramai juga lokasi yang dekat dengan ibu kota dan juga Kota ini memiliki banyak sejarahnya. Akan tetapi tempat bersejarah mulai tergantikan oleh fungsi yang baru dan juga melupakan sejarahnya.Sehingga mencoba menghidupkan kembali dengan fungsi kesenian.Pada lokasi tapak yang lebih banyaknya merupakan pertokoan dan mencoba membuat fungsi kesenian Jawa Barat yang erat dengan warga Bekasi kebanyakan berasal dari  suku Sunda, juga ada suku Betawi, dan etnis tionghoa. Seni merupakan ekspresi atau penerapan keterampilan dan imajinasi kreatif manusia, biasanya dalam bentuk visual, menghasilkan karya yang dihargai terutama karena keindahan atau kekuatan emosionalnya. Memilih fungsi dari Tari dan juga musik ini karena pada lokasi yang pernah mengadakan lomba Pakaian Adat dan Tari untuk menarik orang-orang disekitarnya, juga diadakan kegiatan pada setiap setahun sekali didekat area mengadakan acara musik yaitu gambang kromong yang sering didatangi oleh orang-orang untuk mendengarkannya lalu menari dan bernyanyi. Metode yang dipilih mengobservasi pada kota Bekasi dan juga mencari informasi-informasi tapak dan juga area sekitarnya. Hasilnya membuat area tapak ramai dikunjungi oleh orang-orang dan juga mencoba membuat rekreasi yang bisa menarik orang-orang dari luar kota juga membuat area terbuka pada lokasi.
WADAH PEDAGANG KAKI LIMA UNTUK BERJUALAN BERDASARKAN KONDISI SETIAP TAHUNNYA PADA PASAR ASEMKA Yovansia Christoforus; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21771

Abstract

street vendors often use public spaces which result in disruption of order and the beauty of an area. Street vendors are one of the priority problems in the Pasar Asemka area, the growth of street vendors from year to year continues to make the Pasar Asemka condition more crowded and uncontrollable. In addition, it can be seen from the conditions every year at the Pasar Asemka, namely in 2018 the condition of the Pasar Asemka which was fairly messy, excessive density turned into a deserted area for visitors and street vendors in 2020 where in that year a virus entered. Therefore, urban acupuncture is needed which is assisted by case research methods and field research in the Pasar Asemka area by making a container that can accommodate street vendors to sell in any condition, where the container is made based on the characteristics of street vendors, in which there is a kiosk program, open space, outdoor event, Pasar Asemka gallery. The program given to the container is also equipped with supporting programs such as 3P, parking lots with a hydraulic system and the freedom of street vendors to choose where they sell their goods. Keywords:  Characteristic of Street Vendors; Pasar Asemka; Street Vendors; Virus Abstrak Keberadaan PKL merupakan salah satu sumber permasalahan yang ada di DKI Jakarta ini karena para pedagang kaki lima sering menggunakan ruang publik dimana mengakibatkan terganggunya ketertiban dan keindahan sebuah kawasan. PKL merupakan salah satu permasalahan prioritas di kawasan Pasar Asemka, pertumbuhan pedagang kaki lima dari tahun ke tahun terus membuat kondisi Pasar Asemka menjadi semakin padat dan tidak terkendali. Selain itu dilihat dari kondisi setiap tahunnya pada Pasar Asemka yaitu pada tahun 2018 kondisi Pasar Asemka yang terbilang berantakan, kepadatan yang berlebihan berubah menjadi kawasan yang sepi akan pengunjung dan pedagang kaki lima pada tahun 2020 dimana pada tahun tersebu masuknya sebuah virus. Maka dari itu diperlukan urban acupuncture yang dibantu dengan metode penelitian kasus dan penelitian lapangan pada kawasan Pasar Asemka dengan membuat sebuah wadah yang dapat menampung para pedagang kaki lima untuk berjualan dalam kondisi apapun, dimana wadah tersebut dibuat berdasarkan karakterisitik pedagang kaki lima, yang didalamnya terdapat sebuah program kios, ruang terbuka, outdoor event, galeri Pasar Asemka. Program yang diberikan pada wadah juga dilengkapi dengan program pendukung seperti 3P, tempat parkir dengan sistem hidrolik serta adanya kebebasan pedagang kaki lima untuk memilih dimana lokasi dia berjualan.
MODERN SNEES: MENGEMBALIKAN CITRA KAWASAN SENEN YANG MENGALAMI DEGRADASI DENGAN STRATEGI URBAN ACUPUNCTURE Adhitya Jonathan; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21773

Abstract

Senen is an area that has existed since the Dutch colonial era and mapped to be the largest trade and arts area in Jakarta. There is Pasar Senen, which supports buying and selling activities and there is an association of artists to carry out art activities. But over time, Senen experienced a very drastic decline. There were frequent fires, high crime rates and riots in 1998. The government has tried to overcome this degradation through rejuvenating city facilities and infrastructure, but it has not been able to attract public interest. So a local intervention is needed through the urban acupuncture method, in this case to restore the image of the Senen area as in the past, namely as a trade and arts area. The design of the building was made by emphasizing 3 concepts, triangle, environmentally friendly, ease of outdoor and indoor accessibility. The building mass is dominated by shapes that resemble triangles, both inside and outside the building. The greening of buildings will also be very concerned considering the few green areas in the Senen area. The benefit to be gained from making this project is the return of the image of the Senen area to the past as a trade and arts area in Jakarta and grow the economy in the Senen area. The result is an architecture product named Modern Snees which is a place for shopping, dining and art galleries around the Senen area and Jakarta. Keywords:  accessibility; art and trading; collective memory; environmentally friendly; triangle Abstrak Kawasan Senen merupakan sebuah kawasan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan dipetakan menjadi kawasan perdagangan dan kesenian terbesar di ibukota. Terdapat Pasar Senen, yang menunjang aktivitas jual beli dan terdapat sebuah perkumpulan para seniman untuk melakukan aktivitas seni. Tetapi seiring berjalannya waktu, kawasan Senen mengalami kemunduran yang sangat drastis. Mulai sering terjadinya kebakaran, tingkat kriminalitas yang tinggi dan kerusuhan tahun 1998. Pemerintah sudah berupaya untuk menanggulangi degradasi ini melalui peremajaan fasilitas dan infrastruktur kota, tetapi tetap belum dapat menarik minat masyarakat. Maka diperlukan sebuah intervensi lokal melalui metode urban akupunktur, dalam hal ini untuk mengembalikan citra kawasan Senen seperti di masa lalu yaitu sebagai kawasan perdagangan dan kesenian. Rancangan bangunan dibuat dengan mementingkan 3 konsep yaitu segitiga, ramah lingkungan, kemudahan aksesibilitas luar dan dalam ruangan. Untuk massa bangunan didominasi oleh bentuk-bentuk yang menyerupai segitiga, baik itu di dalam ruangan maupun pada bagian luar bangunan. Penghijauan pada bangunan juga akan sangat diperhatikan mengingat sedikitnya  daerah hijau di kawasan Senen.  Manfaat yang ingin diraih dari pembuatan proyek ini adalah kembalinya citra kawasan Senen ke masa lalu sebagai kawasan perdagangan dan kesenian di ibukota dan tentunya akan menumbuhkan perekonomian pada kawasan Senen. Hasilnya adalah produk arsitektur  Modern Snees yang merupakan sebuah tempat belanja, tempat makan dan galeri kesenian seputar kawasan Senen dan ibukota.