Nafiah Solikhah
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENATAAN KEMBALI AREA PASAR MUARA KARANG DENGAN PENDEKATAN WALKABLE CITY Meliza Darmalim; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22265

Abstract

Muara Karang is a residential area in Penjaringan, North Jakarta that it’s infrastructure remain unchanged for the past 20 years. However, motorized vehicles is getting higher due to Muara Karang’s strategic location between Pluit and Pantai Indah Kapuk (PIK) and continues to Jakarta Outer Ring Road. This imbalance caused degradation, which is traffic congestion on Muara Karang Raya Street. To improve this degradation, urban acupuncture is needed in critical point which is Muara Karang Market Area that located in the middle of Muara Karang Raya Street. The proposed intervention strategy is to redesign Muara Karang Market Area to recover the congested circulation. Using Walkable City approach which prioritizes pedestrians to reduce the use of private motorized vehicles in Muara Karang. Redesign Muara Karang Market Area has 3 main programs which are market, culinary centers, and shop-house that already exist and add open green space that doesn’t exist in Muara Karang. So the new Muara Karang Market Area can be oasis for the people and provide another spatial experience in urban life. Muara Karang Market Area is a place for economic, social and cultural activities and recreation place for the local communities. ‘HAVEN Muara Karang’ is expected to improve traffic congestion on Muara Karang Raya Street and become a new attractor for peoples that can improve Muara Karang. Keywords:  Circulation; Congestion; Market; Muara Karang; Walkable City Abstrak Muara Karang merupakan salah satu kawasan residensial di kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara yang infrastukturnya cenderung tidak berubah selama 20 tahun terakhir ini. Namun mobilitas kendaraan semakin tinggi akibat letaknya yang strategis diantara Pluit dan Pantai Indah Kapuk (PIK) serta menerus hingga Jalan Lingkar Luar Kota Jakarta. Ketidakseimbangan ini menjadi sumber degradasi yaitu kemacetan di Jl. Muara Karang Raya. Untuk memperbaiki sirkulasi yang terhambat tersebut, urban akupuntur diperlukan pada titik kritis yaitu Pasar Muara Karang yang letaknya di tengah Jl. Muara Karang Raya. Strategi intervensi yang diusulkan adalah dengan melakukan penataan kembali Area Pasar Muara Karang sehingga degradasi sirkulasi yang tercipta dapat dipulihkan. Pendekatan yang digunakan adalah Walkable City, yaitu mengutamakan para pejalan kaki guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Kawasan Muara Karang. Penataan kembali Area Pasar Muara Karang meliputi 3 program utama yaitu pasar, pusat kuliner dan ruko eksisting serta penambahan ruang terbuka hijau yang tidak ada di Muara Karang sehingga dapat menjadi oasis dan memberikan pengalaman ruang lain di kehidupan perkotaan. Area Pasar Muara Karang menjadi tempat beraktivitas secara ekonomi, sosial, dan budaya serta menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat setempat dan sekitarnya. Diharapkan dengan adanya proyek ‘HAVEN Muara Karang’ dapat memperbaiki kemacetan di Jl. Muara Karang Raya serta menjadi atraktor baru bagi masyarakat kota yang dapat meningkatkan Muara Karang.
WISATA PERKOTAAN SEBAGAI KONSEP PENGEMBANGAN PUSAT AKTIVITAS TRANSIT RAWA BOKOR Juan Angelo; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22271

Abstract

The Rawa Bokor area which is located in Benda District, Tangerang City is directly adjacent to Soekarno-Hatta International Airport and the City of Jakarta, so it has great potential to not only improve the image of Tangerang City in the national eye, but also internationally and has the potential to improve the economic conditions of the surrounding population. . From this potential, it can be seen that in the future, the Rawa Bokor Area can become a place to capture transit activities that can support Soekarno-Hatta International Airport. Although it has potential as a transit supporter, the existing condition of the area currently only has accommodation and is not sufficient to accommodate transit activities that are more than just resting, such as a quick exploration container while waiting for flight hours. To respond to these problems, the approach used is the Urban Acupuncture method, with a focus on Urban Tourism. The program concept that is suitable for the characteristics of transit activities in the Rawa Bokor area is Sightseeing Tourism, and uses Biophilic Architecture and Sustainable Building as design references. This is because the Bokor Swamp Area has several other shortcomings, such as insufficient vegetated land, and most buildings in this area are not feasible (not sustainable). The main program produced is the Contemporary Art Gallery and supporting programs such as Local Retail Area, Indoor – Outdoor Spa, and Workspace, which are expected to provide visitors from abroad and within the country a place for exploration, relaxation, rest, and other transit activities. , so as to improve the image of the City of Tangerang, as well as the economic conditions of this area and its surroundings. Keywords:  Activity; Airport; Gallery; Potency; Tourism Abstrak Daerah Rawa Bokor yang terletak di Kecamatan Benda, Kota Tangerang berbatasan langsung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Kota Jakarta, sehingga berpotensi besar untuk tidak hanya meningkatkan citra Kota Tangerang di mata nasional, tetapi juga di mata internasional serta berpotensi untuk meningkatkan kondisi ekonomi penduduk sekitar. Dari potensi tersebut dapat dilihat bahwa pada masa yang akan datang, Daerah Rawa Bokor dapat menjadi sebuah wadah untuk menangkap aktivitas transit yang dapat mendukung Bandara Internasional Soekarno-Hatta.  Meskipun memiliki potensi sebagai pendukung transit, kondisi eksisting daerah saat ini hanya memiliki tempat penginapan dan tidak cukup untuk menampung aktivitas transit yang lebih dari sekedar beristirahat, seperti wadah eksplorasi secara cepat ketika menunggu jam terbang. Untuk menanggapi permasalahan tersebut, pendekatan yang digunakan adalah metode Urban Aqupuncture, dengan fokus Urban Tourism. Konsep program yang cocok pada karakteristik aktivitas transit Daerah Rawa Bokor adalah Sightseeing Tourism, dan menggunakan Biophilic Architecture dan Sustainable Building sebagai acuan desain. Hal ini dikarenakan Daerah Rawa Bokor memiliki beberapa kekurangan lainnya seperti lahan vegetasi yang kurang, dan kebanyakan bangunan pada daerah ini sudah tidak layak (tidak sustain). Program utama yang dihasilkan adalah Contemporary Art Gallery dan program pendukung seperti Local Retail Area, Indoor – Outdoor Spa, dan Workspace, yang diharapkan dapat memberikan pengunjung baik dari luar maupun dalam negeri sebuah wadah untuk aktivitas eksplorasi, bersantai, istirahat, dan kebutuhan kegiatan transit lainnya, sehingga dapat meningkatkan citra Kota Tangerang, juga kondisi perekonomian daerah ini dan sekitarnya.
PERANCANGAN RUANG BERSAMA KOMERSIAL DAN RUANG DAUR ULANG LIMBAH KONVEKSI DI KALIANYAR DENGAN PENDEKATAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN Salsabila Salsabila; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22305

Abstract

One of the impacts that occur due to urbanization is population density and the need for housing increases.  Urban areas that offer jobs, as well as places to live, bring people to settle.  One of the areas experiencing this phenomenon is Kalianyar.  Kalianyar is the most populous urban ward in DKI Jakarta.  The density that occurs in Kalianyar is exacerbated by the degradation of housing quality.  This degradation is caused by the presence of a home convection industry which causes the accumulation of convection waste.  To intervene in low-quality settlements in Kalianyar, several strategies of Urban Acupuncture, Contextual, and Placemaking approaches are used.  Based on the analysis of the area, the strategy taken is to improve regional circulation, create pedestrian paths, and provide space that can accommodate communal commercial activities and the processing of convection fabric waste. In addition, the strategy to support regional activities is by placing several parking points and providing shuttle transportation in the form of motorbike tours.  All of these strategies are placed in several locations in the area because Kalianyar is a dense ward.  This proposed strategy aims to improve Kalianyar by overcoming existing degradation and making an area that has more value. Keywords:  Commercial Space; Communal Space; Convection Waste; Recycle Space; Urban Acupunture Abstrak Salah satu dampak yang terjadi akibat urbanisasi adalah kepadatan penduduk dan kebutuhan akan tempat tinggal meningkat. Kawasan perkotaan yang menawarkan lapangan pekerjaan sekaligus tempat tinggal mendatangkan masyarakat untuk menetap. Salah satu kawasan yang mengalami fenomena tersebut adalah Kelurahan Kalianyar. Kalianyar merupakan kelurahan terpadat di DKI Jakarta. Kepadatan yang terjadi di Kalianyar diperkeruh dengan adanya degradasi berupa penurunan kualitas perumahan. Degradasi ini diakibatkan oleh adanya industri konveksi rumahan yang menyebabkan penumpukan limbah konveksi. Untuk mengintervensi permukiman berkualitas rendah di Kalianyar, digunakan beberapa strategi pendekatan yaitu Akupunktur Perkotaan, Kontekstual, dan Placemaking. Berdasarkan analisis kawasan, strategi yang dilakukan adalah memperlancar sirkulasi kawasan, membuat jalur pedestrian, pengadaan ruang yang dapat mewadahi kegiatan komunal, komersial, dan proses pengolahan limbah kain konveksi. Selain itu, strategi untuk mendukung aktivitas kawasan adalah dengan menempatkan beberapa titik parkir dan menyediakan transportasi antarjemput berupa motor wisata. Seluruh strategi ini ditempatkan di beberapa lokasi di kawasan dikarenakan Kalianyar adalah kelurahan yang padat. Strategi yang diusulkan ini bertujuan untuk membenahi Kelurahan Kalianyar dengan mengatasi degradasi yang ada dan menjadikan kawasan yang memiliki nilai lebih.
PERANCANGAN GALERI EDUKASI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SOSIAL DI KAWASAN PASAR KEMBANG, YOGYAKARTA Catherine Felia Witiyas; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22309

Abstract

Every country in the world has many historical places including Indonesia. This historic place does not escape from events that reflect bad behavior that is difficult to tolerate, such as a place of prostitution. One of the famous areas is the Pasar Kembang or Sarkem which is located in the heart of Yogyakarta. The existence of Sarkem creates a bad public assessment of the lives of related people in the sex industry and the area where they live around. Based on this background, the authors take two problem formulations. How the development of the Red Light District Sarkem affects the community and the surrounding environment and how to change the negative image of Sarkem to be positive with the Urban Acupuncture approach in providing new facilities. The goal is to answer the problems that occur with the hypothesis of providing a new attractor with other positive activities. The literature review used in this journal is Urban Acupuncture, Configuration, Movement, Attractor (CMA) Theory, Public Space, Red Light District Area, and Educational Gallery. The research method used is the Activity, Interaction, User, Environment, Object (AIUEO) and Qualitative method. The results of this study are that the Red Light District Sarkem greatly affects people's views and reduces the quality of life of the surrounding community so the authors look for solutions by providing new attractors and adding facilities in the area such as the Museum of Love and Woman's Sexual Health which can improve the lives and quality of the surrounding community. Keywords:  Pasar Kembang Area; Prostitution; Social Architecture; Social Life; Urban Acupuncture Abstrak Setiap negara di dunia memiliki banyak tempat bersejarah termasuk negara Indonesia. Tempat bersejarah ini tidak luput dari adanya kejadian yang mencerminkan dari adanya perilaku buruk yang sulit untuk ditoleransi seperti adanya tempat prostitusi. Salah satu daerah yang terkenal adalah Pasar Kembang atau Sarkem yang letaknya di jantung kota Yogyakarta. Adanya tempat prostitusi di Sarkem menimbulkan penilaian masyarakat yang buruk terhadap kehidupan orang-orang terkait di industri seks dan wilayah tempat tinggal di sekitar Sarkem. Berdasarkan latar belakang ini, penulis mengambil dua rumusan masalah yaitu bagaimana perkembangan Red Light District Sarkem mempengaruhi masyarakat dan lingkungan sekitar dan bagaimana mengubah citra negatif Sarkem menjadi positif dengan pendekatan Urban Acupuncture dalam menyediakan fasilitas baru. Tujuannya untuk menjawab permasalahan yang terjadi dengan hipotesa menyediakan atraktor baru dengan kegiatan positif lainya. Kajian literatur yang digunakan dalam jurnal ini adalah Urban Acupuncture, Teori Configuration, Movement, Attractor (CMA), Ruang Publik, Kawasan Red Light Districts, dan Galeri Edukasi. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Activity, Interaction, User, Environment, Object (AIUEO) dan Kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah Red Light Districts Sarkem sangat mempengaruhi pandangan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar sehingga penulis mencari solusi dengan memberikan atraktor baru dan menambah fasilitas di kawasan Pasar Kembang seperti Museum of Love and Woman’s Sexual Health yang dapat meningkatkan kehidupan dan kualitas masyarakat sekitar.
REBRANDING TERMINAL GROGOL: WAJAH BARU TERMINAL GROGOL Regan Vicgor Wijaya; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22607

Abstract

The terminal is well known to all Jakartans as a public facility for finding public transportation modes according to their destination. Public transportation such as city buses and angkots use the terminal as a starting point and take passengers to other terminals and stopping points. Judging from the current conditions, public transportation modes at the terminal are less in demand as a result of technological developments in the transportation sector which make it easier for them to use other modes of transportation, for example, online taxis. This causes functional degradation at the terminal which can slowly disappear. The degradation that occurs in the terminal then has an impact on the environment which also becomes quieter and "dead". One of the terminals that has experienced the impact of this development is the Grogol Terminal. The narrow and elongated shape of Grogol Terminal also allows for congestion due to buses and angkots. This can be a source of air pollution for the surrounding environment because Grogol Terminal also lacks green space. This design is proposed with the Urban Acupuncture approach, namely utilizing points in cities that are less active to revive the surrounding environment and the Biophilic Architecture approach to create a healthy environment. The results obtained through this design are to bring out a new face for Grogol Terminal and maximize the potential of facilities at Grogol Terminal as a transit point. Keywords:  biophilic architecture; degradation; environment; facilities; Grogol terminal; urban acupuncture Abstrak Terminal sudah dikenal oleh semua masyarakat Jakarta sebagai fasilitas publik untuk mencari moda transportasi umum sesuai titik tujuannya. Angkutan umum seperti bus kota dan angkot menjadikan terminal sebagai tempat pangkal dan mengantar penumpang menuju terminal dan titik perhentian lain. Melihat dari kondisi yang berlangsung, moda transportasi umum di terminal berkurang peminatnya sebagai dampak dari perkembangan teknologi di bidang transportasi yang memudahkan mereka untuk menggunakan moda transportasi lainnya sebagai contoh ojek online. Hal ini menimbulkan degradasi fungsi pada terminal yang perlahan-lahan dapat menghilang. Degradasi yang terjadi pada terminal kemudian berdampak pada lingkungannya yang juga menjadi lebih sepi dan “mati”. Salah satu terminal yang telah mengalami dampak dari perkembangan tersebut adalah Terminal Grogol. Bentuk lahan Terminal Grogol yang sempit dan memanjang juga memungkinkan terjadinya kepadatan akibat bus dan angkot. Hal ini dapat menjadi sumber polusi udara bagi lingkungan sekitarnya karena Terminal Grogol juga minim ruang hijau. Perancangan ini diusulkan dengan pendekatan Akupunktur Perkotaan yaitu memanfaatkan titik pada kota yang kurang aktif untuk menghidupkan lingkungan sekitarnya dan pendekatan Arsitektur Biofilik untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Hasil yang diperoleh melalui perancangan ini adalah memunculkan wajah baru dari Terminal Grogol serta memaksimalkan potensi fasilitas pada Terminal Grogol sebagai titik transit.
PENDEKATAN ARSITEKTUR MELALUI PERABAAN PADA SEKOLAH DASAR KHUSUS TUNANETRA Graciela Graciela; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24280

Abstract

One part of society that needs attention is an extraordinary child, especially in terms of spatial design and circulation. This can be combined with a design that uses the healing therapeutic concept, namely the extraordinary abilities possessed by each extraordinary child, starting from social interaction, psychology and mindset. Extraordinary children need an education center with adequate facilities so that they can develop the potential of extraordinary children so that they can increase their self-confidence and be able to produce works that are useful for society. The educational facilities accommodated must think about a design according to their needs and adequate circulation to make it easier for them to move. To realize this, it is necessary to conduct research on space requirements and then realize these space requirements as a design plan. With the help of programs that stimulate other senses by special children, they will be more confident and independent in the outside environment and may not always depend on others. In this study, the authors presented the concept of healing therapeutics at this special education center for the blind by using a qualitative descriptive method, which means collecting data through literature studies and field observations. Keywords: education; extraordinary children; facilities; healing therapeutic Abstrak Salah satu bagian dari masyarakat yang perlu diperhatikan adalah anak luar biasa terutama dalam rancangan keruangan dan sirkulasinya. Hal ini dapat dipadukan dengan desain yang menggunakan konsep healing therapeutic yaitu dengan keluarbiasaan yang dimiliki oleh masing-masing anak luar biasa mulai dari hal interaksi sosial, psikologis dan pola pikir. Anak luar biasa perlu adanya pusat pendidikan yang fasilitasnya memadai sehingga dapat mengembangkan potensi dari anak luar biasa agar mereka bisa meningkatkan kepercayaan diri yang dapat menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. Fasilitas pendidikan yang diwadahi harus memikirkan rancangan desain sesuai dengan kebutuhan mereka dan sirkulasi yang memadai untuk memudahkan mereka dalam mobilitas. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penelitian dalam kebutuhan ruang lalu mewujudkan kebutuhan ruang tersebut sebagai rancangan desain. Dengan dibantu oleh program-program yang merangsang indera-indera lain oleh anak-anak luar biasa, mereka akan lebih percaya diri dan mandiri di lingkungan luar dan mungkin tidak selalu bergantung kepada orang lain. Dalam penelitian ini, penulis membawakan konsep healing therapeutic pada pusat pendidikan khusus tunanetra ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berarti mengumpulkan data yang dilakukan dengan studi literatur dan juga observasi lapangan.
PENERAPAN THERAPEUTIC ARCHITECTURE TERHADAP PERANCANGAN GERIATRIC CLUB HOUSE Michael Ricardo; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24281

Abstract

The phenomenon for the design of the geriatric association house associated with statistical data on the growth of elderly people in Indonesia, to be precise in the city of Jakarta. The number reaches 9.2% of the total population and exceeds the national average of only 7%. Then, the lack of social space needs facilities to improve the quality of life of the elderly at the end of their lives. Facilities supporting these needs must be able to accommodate and pay attention to the standard needs and special needs of the activities of the elderly. The method used is the process of applying an object approach designed with a literature study and precedent study approach. The design of the social facility "Geriatric Club House" uses an appropriate therapeutic architectural approach. The Geriatric Club House is a gathering place for people who have stable health conditions but need help with their daily activities and to improve their quality of life at the end of their lives. The concept of therapeutic architecture, especially elements of architectural therapy, is used in the design of this facility. This approach focuses on the design elements of the therapeutic architecture. Spatial planning is designed by taking into account safety standards for the elderly.  The building facade is designed using natural lighting and ventilation systems, thus creating a comfortable and healthy atmosphere. The use of coarse-fine materials is also considered in the design to provide beneficial sensory stimuli for the elderly. In addition, the garden is also presented as a medium for recovery and therapy. The application of a therapeutic architectural approach in this design can be felt by users, both the elderly and other visitors. This creates an empathetic architecture towards geriatricians, taking into account their needs and comforts. Keywords: club house; elderly; emphatic architecture; geriatric; therapeutic architecture Abstrak Perancangan rumah perkumpulan geriatri, dilatar belakangi oleh data statistik pertumbuhan lansia di Indonesia tepatnya di Kota Jakarta. Jumlahnya mencapai 9,2% dari total penduduk dan melebihi rata-rata nasional yang hanya sebesar 7%. Lalu, kurangnya fasilitas kebutuhan ruang sosial untuk meningkatkan kualitas hidup lansia di akhir masa hidupnya. Fasilitas pendukung kebutuhan tersebut harus mampu mewadahi dan memperhatikan kebutuhan standar maupun kebutuhan khusus dari kegiatan lansia. Metode yang digunakan adalah proses pengaplikasian dalam objek yang dirancang dengan pendekatan studi literatur dan studi preseden. Perancangan fasilitas sosial, Geriatric Club House menggunakan pendekatan arsitektur terapeutik yang tepat. Geriatric Club House adalah tempat berkumpul yang ditujukan untuk orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan stabil namun membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari serta untuk meningkatkan kualitas hidup di akhir masa hidup mereka. Konsep arsitektur terapeutik, khususnya elemen-elemen terapi arsitektur, digunakan dalam perancangan fasilitas ini. Pendekatan ini berfokus pada elemen-elemen desain arsitektur terapi. Penataan ruang didesain dengan memperhatikan standar keamanan bagi lansia. Fasad bangunan dirancang dengan menggunakan sistem pencahayaan dan penghawaan alami, sehingga menciptakan suasana yang nyaman dan sehat. Penggunaan material yang kasar-halus juga dipertimbangkan dalam desain untuk memberikan stimulus sensorik yang bermanfaat bagi lansia. Selain itu, taman juga dihadirkan sebagai media pemulihan dan terapi. Penerapan konsep arsitektur terapeutik pada perancangan ini dapat dirasakan oleh para pengguna, baik lansia maupun pengunjung lainnya. Hal ini menciptakan arsitektur yang empatik terhadap geriatri, dengan memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan mereka.  
WADAH PENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PADA REMAJA KELEBIHAN BERAT BADAN MELALUI BAKAT YANG DIMILIKINYA DI JAKARTA SELATAN Nicole Samantha; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24282

Abstract

Overweight problem continues to increase, especially among adolescents, which causes a decrease in quality of life that affects their daily life. The decline in quality of life tends to be caused by the negative stigma that spread in society regarding overweight adolescents. This negative stigma can be changed by developing their talents through activity programs along with appropriate spatial design elements to improve their quality of life. A  deeper understanding is needed regarding to improve the quality of life of overweight adolescents with their talents as empathy for the negative stigma of society through architectural design. The research was conducted using a qualitative descriptive research method through a narrative approach supported by literature studies to obtain data. Then, the data will be described based on the literature review. The results of the description focused on the 8 stages of the activity program based on the subject's talent as the basis for designing. By doing further elaboration, we can obtain a discussion of the talents that can be displayed in the design, the stages of the activity program sequentially, new rooms or areas that accommodate program activities, and the application of design elements to each room or area based on the needs of the activities so that an increase in quality of life is achieved. Improving the quality of life on the main subject is evidence of negative stigma in society and indicates that empathy has been realized in this architectural design. Keywords: quality of life; space; stigma; talent; overweight Abstrak Masalah kelebihan berat badan terus mengalami peningkatan terutama di kalangan remaja yang menyebabkan penurunan kualitas hidup hingga mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Penurunan kualitas hidup cenderung disebabkan oleh stigma negatif yang tersebar di masyarakat mengenai remaja kelebihan berat badan. Stigma negatif tersebut dapat diubah dengan cara mengembangkan bakat yang dimilikinya melalui program kegiatan beserta elemen desain keruangan yang sesuai untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Maka, dibutuhkan pemahaman lebih mendalam mengenai upaya peningkatan kualitas hidup remaja kelebihan berat badan melalui bakat yang dimilikinya sebagai empati terhadap stigma negatif masyarakat melalui rancangan arsitektur. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan naratif yang ditunjang dengan studi kepustakaan untuk memperoleh data. Kemudian, data-data yang telah diperoleh akan diuraikan dengan berpedoman pada kajian literatur. Hasil uraian terfokus pada 8 tahap program kegiatan berdasarkan bakat yang dimiliki subjek sebagai landasan merancang. Dengan melakukan penguraian lebih lanjut, dapat diperoleh pembahasan bakat-bakat yang dapat ditampilkan pada rancangan, tahapan program kegiatan secara runtun, ruangan atau area baru dan menarik yang mewadahi program kegiatan, dan penerapan elemen desain pada setiap ruangan atau area berdasarkan kebutuhan kegiatannya hingga tercapainya peningkatan kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pada subjek utama menjadi pembuktian terhadap stigma negatif di masyarakat dan menandakan sudah terwujudnya empati dalam rancangan arsitektur ini.