Aswin Hinanto Tjandra
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENERAPAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM PERANCANGAN RITEL MAKANAN DAN RUANG INTERAKTIF DANAU SUNTER BARAT Raissa Tjandra; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22298

Abstract

Sunter, known as a strategic and elite area has an area that was previously developed, but is now experiencing degradation in the provision of public space, retail, and entertainment space in fulfilling the needs of densely populated surrounding areas, namely in the West Sunter Lake area. This area has the potential to develop has not developed because over time there has been no development, arrangement, or physical improvement, especially along the main road in the retail commercial area and the lack of provision of public space. The crowd in this area disappears with the emergence of new competitors in other areas that are newer and follow the times. This is further exacerbated by the problem of land disputes that cause vacant land to be used as a dumping ground for illegal waste.The purpose of this research is to revive the retail commercial area, provide public open space in meeting the needs of social space, create activities that can become new attractors in regional livelihoods, and support the existence of JIS and ITF. The research method used is urban acupuncture by determining the location, determining the observation area within a 3 km radius, and identifying acupuncture points that are experiencing problems. The results show that the merging of retail and public open space can be used as a space to revive the retail commercial and fulfill the needs of social space, interaction, and entertainment of the West Lake Sunter community to the fullest. Keywords:  Open Public Space; Retail; Urban Acupuncture Abstrak Sunter yang dikenal sebagai sebuah kawasan strategis dan elit memiliki area yang dulunya maju, namun sekarang mengalami degradasi pada penyediaan ruang publik, ritel, dan ruang hiburan dalam pemenuhan kebutuhan pemukiman padat sekitar yaitu di daerah Danau Sunter Barat. Daerah yang memiliki potensi untuk maju ini tidak berkembang dikarenakan seiring berjalan waktu tidak adanya pengembangan, penataan, atau perbaikan fisik terutama di sepanjang jalan utama area komersial ritel dan minimnya penyediaan ruang publik. Keramaian di daerah ini menghilang dengan munculnya pesaing - pesaing baru di daerah lain yang lebih baru dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini semakin diperburuk dengan adanya permasalahan sengketa tanah yang menyebabkan lahan kosong dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali area komersial ritel, menyediakan ruang terbuka publik dalam pemenuhan kebutuhan ruang sosial, menciptakan aktivitas yang dapat menjadi atraktor baru dalam penghidupan kawasan, dan mendukung keberadaan JIS dan ITF. Metode penelitian yang digunakan adalah akupunktur perkotaan dengan penentuan lokasi, penetapan area pengamatan dalam radius 3 km, dan mengidentifikasi titik akupunktur yang mengalami permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan penggabungan ritel dan ruang terbuka publik dapat dijadikan ruang untuk menghidupkan kembali komersial ritel dan pemenuhan kebutuhan ruang sosial, interaksi, dan hiburan masyarakat Danau Sunter Barat secara maksimal.
REVITALISASI TEMPAT PELELANGAN IKAN UNTUK PENINGKATAN SEKTOR KOMERSIL DAN PARIWISATA WILAYAH DADAP Owen Winata; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22299

Abstract

Geographically speaking, Indonesia is a maritime country with a body of water larger than its land area. but unfortunately the potential of Indonesia's coastal marine products has not been fully utilized. This is not an exception in the Dadap Fisherman's Village, which is one of the sub-districts of Kosambi District, Tangerang Regency. The position which is located at the edge of the North Coast of Java Island and adjacent to the DKI Jakarta province is very strategic for trade routes. But it is unfortunate that its abundant potential has not been utilized properly. One aspect of the cause is the lack of attention to coastal settlement areas which are the starting point for activities in this marine and fisheries zone. Not only that, the unavailability of facilities to accommodate the economic activities of the residents of this village causes a dead impression on the Fisherman's Village because there are no visitors who come and cause the wheels of the community's economy to not move. This project aims to create a marine product trading center that is integrated with a touch-pool area and communal and educational area as a fishery trading support facility that can attract tourists from all walks of life, even those who just want to relieve fatigue and improve the quality of life of Dadap’s community in its social and economic context and respond to the problems that arise. The method used in this project is a qualitative descriptive method. Keywords: Fishing Village; Poverty; Retail; Tourism Abstrak Secara geografis, negara Indonesia merupakan sebuah negara maritim dengan badan air yang lebih luas dari zona daratnya, tetapi potensi dari kekayaan hasil laut pesisir Indonesia belum dimanfaatkan dengan maksimal. Perihal ini bukan sebuah pengecualian di kampung Nelayan Dadap yang merupakan bagian dari Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Posisi yang terletak pada tepi pantai utara pulau Jawa dan bersebelahan dengan provinsi DKI Jakarta ini sangat strategis untuk jalur perdagangan. Tetapi sangat disayangkan potensi melimpah tersebut belum dimanfaatkan dengan baik. Salah satu aspek penyebabnya adalah minimnya perhatian terhadap kawasan permukiman pesisir yang merupakan titik awal dari aktifitas dalam zona kelautan serta perikanan ini. Tidak hanya itu, tidak tersedianya sarana untuk mewadahi aktivitas perekonomian para penduduk kampung ini menyebabkan kesan mati pada Kampung Nelayan dikarenakan tidak terdapatnya pengunjung yang datang dan menyebabkan roda perekonomian masyarakatnya tidak bergerak. Proyek ini bertujuan untuk membuat sebuah pusat jual beli hasil laut yang terintegrasi dengan area touch-pool dan communal and educational area sebagai fasilitas pendukung jual beli perikanan yang dapat menarik wisatawan dari segala kalangan, bahkan yang sekadar ingin menghilangkan penat serta dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kampung Dadap secara sosial dan ekonominya serta menanggapi problematika yang timbul tersebut. Metode yang digunakan di proyek ini adalah metode deskriptif kualitatif.
PENERAPAN METODE AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM PERANCANGAN PUSAT RITEL, EDUKASI, DAN REKREASI OTOMOTIF DI SAWAH BESAR Alverta Amelia Yandarmadi; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22300

Abstract

Sawah Besar is one of the automotive sector areas in Central Jakarta that has begun to experience a decline, for example, it is one of the parts store centers "Wisma Sawah Besar" which was once successful in the past but has experienced degradation. In this region, it can be seen that the culinary sector is more advanced so that the image of the automotive area has begun to fade, does not yet have an area attractor, and there is less public space. Therefore, there needs to be design and program interventions without forgetting the past and still looking at the future where the transition to the era of electrification is a challenge for the automotive industry. This project aims to revive degraded buildings through activities that do not yet exist in the region so that it can meet the need for public space and the attractiveness of the area. The data collection activity uses the Urban Acupuncture method which analyzes various conditions and characteristics ranging from the Sawah Besar area to find selected location points. The design method that will be used is Everyday Architecture by looking at the great needs of the community for new spaces and programs. After conducting the analysis, a proposed mixed program automotive retail and edutainment programs are produced. It will then produce the concept of a program of space, the form and composition of mass, outer space, and inner space. This project is expected to become a new attractor, meet the needs of public space, and help restore the fading image of the Sawah Besar automotive area. Keywords:  Automotive; Electrification; Public Space; Urban Acupuncture Abstrak Sawah Besar merupakan salah satu kawasan sektor otomotif di Jakarta Pusat yang mulai mengalami penurunan, contohnya adalah salah satu pusat toko onderdil “Wisma Sawah Besar” yang pernah berjaya dulu namun mengalami degradasi. Pada kawasan ini terlihat sektor kuliner lebih berkembang sehingga citra kawasan otomotif mulai memudar, belum memiliki atraktor kawasan, dan kurang akan ruang publik. Oleh karena itu perlu ada intervensi desain dan program tanpa melupakan masa lalu dan tetap melihat masa depan dimana peralihan menuju era elektrifikasi menjadi tantangan bagi industri otomotif. Proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali bangunan yang terdegradasi melalui kegiatan yang belum ada di kawasan ini sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan ruang publik dan daya tarik kawasan. Dalam kegiatan pengumpulan data menggunakan metode akupunktur perkotaan yang menganalisis berbagai macam kondisi dan karakteristik mulai dari kawasan Sawah Besar hingga menemukan titik lokasi terpilih. Metode perancangan yang akan digunakan adalah arsitektur keseharian dengan melihat besar kebutuhan masyarakat akan ruang dan program baru. Setelah melakukan analisis dihasilkan usulan program campuran antara ritel, edukasi, dan rekreasi yang berhubungan dengan otomotif. Kemudian akan menghasilkan konsep program ruang, bentuk dan komposisi massa, ruang luar, dan ruang dalam. Proyek ini diharapkan dapat menjadi atraktor baru, memenuhi kebutuhan ruang publik, dan membantu mengembalikan citra kawasan otomotif Sawah Besar yang mulai memudar.
PENERAPAN METODE TRANSPROGRAMMING & ARSITEKTUR EKOLOGI DALAM PERANCANGAN SENTRA KERAJINAN & KULINER UMKM SEMPER TIMUR Andrew Laksmana Budiman; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22301

Abstract

Cilincing is a sub-district located in the administrative area of North Jakarta which has existed for a long time. Now, Cilincing sub-district is a national integrated industrial area that produces convection with various companies. However, from the past until now, Cilincing is one of the sub-districts in North Jakarta which has a large number of slum areas, as well as many economically disadvantaged residents among other sub-districts. So that does not experience development in terms of structuring the population area  and the economy of the community. The government's role in solving this problem is still nil. The Semper Timur region, which is one of the ward in the Cilincing sub-district, has experienced degradation in its social and economic environment. With poor environmental conditions, as well as low human resources, the local community's economy does not develop. Behind all that, the local community has handicrafts, special foods, as well as the many micro and small business units in the area, so that it can be unique to this region. The revitalization process of this area uses the transprogramming method and ecological architecture, which presents a space for the community to introduce local crafts and culinary delights, then provides educational space to help create quality human resources, so that this area can become one of the community's tourist destinations that can create a new identity and improvement in terms of the environment and regional economy. Keywords:  Area; Environment;  Communities;  Economy Abstrak Cilincing merupakan sebuah kecamatan yang terletak pada kawasan administrasi Jakarta Utara yang sudah ada sejak dulu. Kini, kecamatan Cilincing merupakan kawasan industri terpadu nasional yang memproduksi konveksi dengan beragam perusahaan baik nasional maupun perusahaan penanaman modal asing. Namun sejak dulu hingga sekarang, Cilincing merupakan salah satu wilayah kecamatan di Jakarta Utara yang memiliki jumlah lingkungan kumuh, serta penduduk dengan perekonomian kurang mampu yang banyak diantara kecamatan lainnya. Sehingga kawasan tidak mengalami perkembangan dalam segi penataan wilayah penduduk (fisik) serta perekonomian dari masyarakatnya (non fisik). Peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini juga masih nihil. Wilayah Semper Timur, yang merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Cilincing yang mengalami degradasi pada lingkungan sosial dan ekonominya. Dengan kondisi lingkungan yang buruk, juga sumber daya manusia yang rendah membuat perekonomian masyarakat setempat tidak berkembang. Dibalik semua itu, masyakarat setempat memiliki kerajinan, makanan khas, serta banyaknya unit usaha mikro kecil yang banyak pada kawasan, sehingga dapat menjadi keunikan pada wilayah ini. Perencanaan revitalisasi kawasan ini menggunakan metode transprogramming serta arsitektur ekologi, yang menghadirkan wadah ruang UMKM bagi masyarakat untuk memperkenalkan kerajinan dan kuliner setempat, kemudian menyediakan ruang edukasi untuk dapat membantu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga dapat membuat kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat lokal ataupun luar yang dapat menciptakan identitas baru serta peningkatan dari segi lingkungan dan perekonomian kawasan.
REVITALISASI BANGUNAN TAMAN FESTIVAL BALI DI PADANG GALAK MELALUI PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Fitria Dewi; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22302

Abstract

The existence of a tourist cultural center is essential for the Balinese people. Bali is known to the world through culture as the most dominant attraction. Balinese people and tourists have an attachment to Balinese culture and natural elements that cannot be found anywhere else. In Bali, precisely in Padang Galak, tourism culture can only be seen twice a year, so this area is challenging to get the attention of tourists on weekdays, which causes Padang Galak to look close. On the one hand, Padang Galak, historically known as a tourism center, has now disappeared and is known as a mystical area due to the many buildings that have been degraded and abandoned by their owners, one of which is the Bali Festival Park which is the largest festival park in Bali. The research method used is descriptive qualitative research and also through contextual and urban acupuncture approaches and carries the Tri Mandala concept. The results of the research are effort to revive the Bali Festival Park building through revitalization by connecting and creating harmony between the project and the environment, old and new, and the history of the present and the future through more flexible functions. In this way, Bali Festival Park and Padang Galak will find their way and dispel the mythical rumors circulating so that they can restore their tourism identity. Keywords:  Bali Festival Park; Contextual; Revitalization; Tourism; Urban Acupuncture Abstrak Keberadaan pusat kebudayaan pariwisata sangatlah penting bagi masyarakat Bali, hal ini dikarenakan Bali dikenal oleh dunia melalui kebudayaan sebagai daya tarik yang paling dominan. Pada dasarnya masyarakat Bali dan wisatawan memiliki keterikatan pada kebudayaan dan unsur alam Bali yang tidak didapatkan di tempat lain. Di Bali, tepatnya di Padang Galak kebudayaan pariwisata hanya dapat dilihat dua kali dalam setahun, sehingga kawasan ini sulit mendapat perhatian wisatawan pada hari biasa, yang mengakibatkan Padang Galak terlihat tertutup. Padang Galak dalam sejarah dikenal akan pusat pariwisata, akan tetapi kini sudah menghilang dan dikenal sebagai kawasan mistis akibat banyaknya bangunan yang terdegradasi dan ditinggalkan oleh pemiliknya, salah satunya ialah Taman Festival Bali yang merupakan sebuah taman festival terbesar di Bali. Metode penelitian yang diguanakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga melalui pendekatan kontekstual dan urban acupuncture serta mengungsung konsep Tri Mandala. Hasil penelitian merupakan upaya untuk menghidupkan kembali bangunan Taman Festival Bali melalui revitalisasi dengan menghubungkan serta menciptakan keharmonisan antara proyek dengan lingkungan, lama dengan baru serta sejarah masa kini dengan masa depan melalui fungsi yang lebih fleksibel. Dengan cara ini, Taman Festival Bali dan Padang Galak akan menemukan jalannya sendiri, menghilangkan rumor mistis yang beredar sehingga dapat mengembalikan kembali identitas pariwisatanya.