Arif Budiono
Institut Keislaman Abdullah Faqih

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penafsiran Al-Qur'an Melalui Pendekatan Semiotika Dan Antropologi (Telaah Pemikiran Muhammad Arkoun) Arif Budiono
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.691 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v11i2.19

Abstract

Bagi kalangan pembaharu (reformis) muslim, diktum al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan (al-Qur’an selalu sesuai bagi setiap waktu dan tempat) ditempatkan pada kerangka historis-sosiologis-antropologis. Umat Islam harus mampu membuktikan bahwa “al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan kepada mansuai sebagai ajaran akumulatif dan penyempurna dari ajaran-ajaran kitab suci samawi sebelumnya. Diantara reformis Islam adalah Muhammad Arkoun. Menurutnya, Al-Qur'an merupakan sebuah teks yang bersifat terbuka. Tak satupun penafsiran dapat menutupnya secara tetap dan "ortodoks". Kenyataan ini memberikan konsekwensi logis adanya keinginan umat Islam untuk selalu mendialogkan antara al-Qur’an sebagai teks (nash) yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan yang dihadapi manusia sebagai konteks (waqa’i) yang terus berkembang.   Persoalannya adalah bagaimana merumuskan sebuah metode tafsir yang dianggap mampu menjadi alat untuk menafsirkan al-Qur’an secara baik, dialektis, reformatif, komunikatif-inklusif serta mampu menjawab perubahan, sementara al-Qur’an – dengan ayatnya yang tetap - turun ditengah budaya lokal Arab yang sama sekali berbeda kondisinya dengan problem kontemporer saat ini. Tampaknya peran penggunaan ilmu sosial dan humaniora sebagai alat bantu dalam penafsiran tidak dapat dianggap sepele.Strategi yang ia tawarkan adalah mendekonstruksi, merekonstruksi  dan mengembangkan metodologi penafsiran al-Qur’an melalui konseptual baru yang sesuai dengan tantangan zaman, yakni : Pertama, pendekatan Semiotik yakni konsep "tanda" sebagai kata simbol yang menjamin secara logis dan konkret kebahasaan. Tawaran ini muncul karena ia memahami manusia sebagai animal symbolicium atau hewan yang mampu menggunakan, menciptakan dan mengembangkan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan dari individu kepada individu lain. Teks dan konteks menjadi dua kata yang tak terpisahkan, keduanya berkelindan membentuk makna. Konteks menjadi penting dalam interpretasi, yang keberadaannnya dapat dipilah menjadi dua, yakni intratekstualitas dan intertekstualitas. Analisis semiotika akan mampu menggali hal-hal yang sifatnya subtle dari penggunaan bahasa seperti halnya tentang seperangkat nilai atau bahkan ideologi yang tersembunyi di balik penggunaan bahasa.Kedua, pendekatan antropologis, diharapkan mampu menampilkan esensi ayat al-Qur'an yang tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Ayat al-Qur'an tidak lagi menjadi teks langit tapi al-Qur'an adalah teks bumi karena menggunakan bahasa bumi dan tentunya untuk kepentingan penduduk bumi. Melalui pendekatan ini, Arkoun ingin menggali faktor umum kemanusiaan, budaya dan agama masyarakat Timur Tengah
ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FATHI OSMAN Arif Budiono
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 12 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/miyah.v12i2.114

Abstract

Masyarakat modern megnalami peningkatan pendidkan dan mempunyai kultur umum. Partisipasi dalam perubahan sosial membutuhkan kesadaran, imajinasi, kepekaan moral, dan perhatian terhadap masalah publik dalam derajat tertentu serta kemampuan menggeneralisirnya dari pengalaman pribadi dan lokal.  Pengalaman masyarakat muslim yang pernah mencapai peradaban tinggi dalam segala bidang dalam kurun waktu 7 abad (abad 8 – 14 M), menjadi bukti tak terbantahkan peran aktif mereka dan sumbangsih berharga bagi perkembangan peradaban dunia. Namun, bagi Fathi Osman yang terpenting saat ini bukanlah euforia akan masa lalu yang ditonjolkan, akan tetapi sikap kritis dan kesadaran bahwa masyarakat muslim adalah bagian dari masyarakat internasional yang dituntut ikut berperan aktif dalam menciptakan kemaslahatan dunia, memberikan solusi terhadap permasalahan global, sekaligus menjauhi sikap Ghetto Minded atau Narrow Minded (berpandangan sempit dan hanya bersifat lokalitas) dan cepat berburuk sangka terhadap pihak lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa praktik ibadah harus terkait secara langsung dengan kepedulian sosial, dengan landasan tauhid yang mewujud ke ranah praktis dalam bentuk ibadah sosial. Strategi yang ia tawarkan adalah 1). Sikap terbuka terhadap hukum internasional 2). Memaknai ulang konsep Qat'i dan Dzanni 3). Menerima suatu perubahan dengan melakukan ijtihad  4). Formulasi dan kodifikasi kembali hukum Islam 5). Membangun pemahaman baru tentang gender dan hubungan muslim – non muslim 6). Ikut aktif menciptakan perdamaian dunia dalam organisasi internasional PBB. Implikasinya adalah diperlukan kesadaran umat Islam bergandengan tangan dengan masyarakat internasional, dalam rangka peningkatan kesehatan, pendidikan, perkembangan, ekonomi, layanan masyarakat, menjaga hubungan internasional, dengan mengkomunikasikan nilai-nilai agama dalam menggagas kesejarahteraan dunia yang bersifat global. Hal ini penting dilakukan sebagai sikap koperatif dalam menyikapi pluralisme sebagai suatu realitas, menurutnya pluralisme adalah bentuk kelembagaan dimana penerimaan terhadap keragaman meliputi masyarakat tertentu dan dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif
POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK DALAM ALQURAN (KAJIAN KISAH LUQMAN) Arif Budiono
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.076 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v15i2.190

Abstract

Abstract: Anak merupakan harapan keluarga dna bangsa yang sangat berharta. Sebab, maju mundurnya suatu negara di masa depan sangat tergantung dengan kualitas anak saat ini, dan sejauhmana bangsa tersebut memberikan perhatian dalam mendidik, memberikan hak-hakny secara seimbang, sekaligus menyiapkan secara serius dalam membangun mentalitas anak dan karakter mulia. Term “anak” dalam Alquran disebutkan dalam istilah yang berbeda sesuai dengan konteksnya. Kadang Alquran menyebutnya walad hingga 65 kali, jika yang dimaksud anak biologis. Dilain ayat, disebut ibn hingga 161 kali, yang mengandung makna anak biologis atau anak dalam pengertian majazi. Adapula penyebutan dengan menggunakan term s}ibya>n, t}ifl dan dzurriyyah. Banyakanya  term anak dalam Alquran mengindikasikan betapa penting permasalahan tentang anak, dan mendapat perhatian lebih dari kaum muslim. Realitas saat ini, masih sering kita dengar melalui media sosial (medsos) maupun elektronik seperti televisi, koran yang memberitakan bahwa sebagian anak bangsa ini terlantar dan terabaikan hak-haknya. Sebagian menjadi obyek kekerasan orang tua, bahkan dieksploitasi orang tuannya sebagai lumbung pencetak uang, dipekerjakan sebelum usia mereka siap untuk bekerja. Bahkan, diperjualbelikan (trafficking), terlibat narkoba dan pergaulan bebas. Kasus dan praktik dehumanisasi sering terjadi, padahal amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 secara tegas telah mengatur, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar seperti itu mestinya menjadi tanggungjawab negara. Pemerintah dituntut mengambil langkah strategis menyikapi fenomena ini. Orang tua merupakan sosok sentral untuk menyelamatkan anak dalamnya skup yang terkecil, yakni keluarga. Jika keluarga menjalankan fungsinya dengan baik, mengembalikan fungsi rumah seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw dalam konsep Baiti> Jannati>, akan sangat membantu dan meringankan pemerintah. Rasanya cita-cita bangsa ini menjadi Baldatun T{ayyibah wa Rabb Ghafu>r hanya menunggu waktu saja. Pola asuh orang tua terhadap anak yang berbasis nilai-nilai Alquran dengan meneladani kisah Luqman dalam Alquran dalam diterapkan dalam kehidupan. Pola asuh yang dilakukan orang tua atas dasar Love  yang dibangun diatas pondasi nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, keadilan, kasih sayang, kejujuran serta tanggung jawab. Jika orang tua tidak lagi memperhatikan anaknya, bahkan terkesan mengabaikan hak-hak anak dan meninggalkan model pola asuh Qurani, sama saja ia sedang menggali kuburan bagi anak dan dirinya sendiri.Keyword: Pola Asuh, Luqman, Teladan
KISAH ADAM DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN SEMIOTIK) Arif Budiono
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.835 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v16i1.251

Abstract

Abstract: This article aims to explain the story of Dam who is classified as Qaṣaṣ 'an al-Ghaybiyyah al-Mâdiyyah, namely a metaphysical story that occurred in the past. This story is a miniature picture of human life while living on earth. The story of Âdam can be classified as a group of mutashabihat verses, of eschatological value because no information is found from the al-Qur'an regarding the story of Dam's life after coming to earth, except for fragments of the story of two sons of Dam. The story of Âdam can be understood as a tamthîl (imaginary) story. That is, what is meant in the narrative description is not the story line textually, but what is wanted is what is symbolized by the text itself. Because the purpose of the story of the Qur'an is not the interest of the story itself in the framework of historical chronology, but the purpose of the story is to provide 'ibrah, advice and lessons for humans. This research is intended to find out how the structure of the Damn story in the Qur'an and the philosophical messages contained in it, as well as to what extent the contribution of semiotics as an approach to modern linguistic interpretation in providing new offers, in the form of interpretations that are different from existing interpretations.Keywords: Adam, Semiotic, Tafsir