Rizal Fauzi
Ma'had Aly Idrisiyyah

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tingkatan Kemursyidan menurut Syaikh Akbar Muhamamd Fathurrahman Rizal Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i1.69

Abstract

Mursyid merupakan rukun sentral dalam suatu Tarekat Muktabarah. Mursyid tersebar diberbagai negara dengan ragam tarekat, seperti Qadiriyah, Syadziliyah, Idrisiyyah, dan lainnya. Setiap pendiri Tarekat diyakini sebagai mursyid yang kamil mukamil (sempurna dan menyempurnakan murid) adalah suatu martabat kemursyidan yang tertinggi setiap zaman yang hanya ditempati oleh satu mursyid dalam suatu zaman untuk seluruh dunia. Adapun mursyid yang melanjutkannya ada yang menduduki kemursyidan seperti mursyid yang awal atau bisa menduduki kemursyidan dibawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti martabat-martabat kemursyidan yang tersebar dipenjuru dunia sebagai pewaris para Nabi yang jumlahnya banyak, sedangkan Mursyid yang menjadi wakil Rasulillah Saw hanya satu pada zamannya. Kemudian meneliti persyaratan-persyaratan kemursyidan dari beberapa tingkatan kemursyidan, dan juga menjelaskan kualivikasi mursyid dari setiap tingkatannya. Metode penelitian yang digunakan adalaah kualitatif deskriptif dengan mengkaji kajian atau buku-buku karya Syaikh Akbar Muhammad Fathurrahman. Ia adalah Mursyid Tarekat Idrisiyyah Indonesia yang memiliki gagasan bahwa mursyid adalah wali Allah yang mendapatkan tugas membimbing dari mursyid sebelumnya karena telah memenuhi kualifikasi kemursyidan dan layak membimbing murid kepada Allah. Kesimpulannya martabat kemursyidan tertinggi disebut dengan istilah Mursyid kamil mukammil, atau Syaikh tarbiyah, atau khalifah Rasulillah Saw, dengan tingkat kewalian yaitu Quthbul Aqthab atau Sulthan al-Auliya, yaitu pemimpin para wali Allah pada zamannya. Setelah mendapatkan mandat dan izin membimbing dari mursyid sebelumnya maka mendapatkan pengakuan dari ruhani Rasulullah sebagai wakilnya, dan ia mendapatkan misi-misi atau mendapatkan talqin dan ijazah wirid-wirid dari Nabi Saw. Sedangkan mursyid dibawahnya hanya mendapatkan izin dari mursyid sebelumnya sebagai mursyid tidak mendapatkan penguatan dari ruhani Rasulillah Saw sebagai wakilnya. Istilah bagi mursyid dibawahnya disesuaikan dengan keahlian yang dimilikinya. Mursyid yang hanya mampu mentalqinkan dzikir disebut Syaikh talqin, yang mampu selain mentalqinkan juga mampu mentazkiyah murid maka disebut syaikh tazkiyah, ada yang memiliki tiga kemampuan selain taqin dan tazkiyah yaitu tarbiyah ruhiyah dan ini yang tertinggi maka ia disebut syaikh tarbiyah atau murabbirruh, atau disebut kamil mukammil. Bahkan menguasai ilmu syariah dengan baik, ilmu makrifat dan hakikat yang sempurna juga metode dan media tarbiyah yang lengkap
Menggali Neo-Sufisme: Tradisi, Kritik Dan Relevansi Di Indonesia Rizal Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i1.93

Abstract

This article discusses Neo-Sufism in Indonesia, a movement that seeks to preserve Sufi values while adapting them to the demands of modernity. Neo-Sufism in Indonesia has emerged as a response to social, political, and cultural changes that require Muslims to reconsider their spiritual practices in a more relevant context. This article explores how Sufi traditions have transformed through reformist tariqahs such as Idrisiyyah, Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Tijaniyah, and Muridiyah, which demonstrate flexibility in adopting social and political roles. By examining the key concepts of Neo-Sufism and how these tariqahs maintain and reshape traditional practices, the article highlights the relevance of Neo-Sufism in contemporary Indonesian society. The research method employed is a literature review, analyzing the concepts, characteristics, and developments of Neo-Sufism, as well as its traditions and associated critiques. The findings indicate that Neo-Sufism in Indonesia not only preserves the identity of Sufism but also serves as a driving force for social and spiritual change in the face of global challenges.