M. Yasir Fauzi
UIN Raden Intan Lampung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGY FOR SOCIALIZATION OF THE GENERAL ELECTION COMMISSION OF PESAWARAN DISTRICT TO REDUCE THE ABSTENTIONS IN THE 2020 ELECTIONS IN PERSPECTIVE OF FIQH SIYASAH Nur Aini; M. Yasir Fauzi; Rudi Santoso
PRANATA HUKUM Vol. 18 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Law Faculty of Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/pranatahukum.v18i1.300

Abstract

The holding of Regional Head and Deputy Regional Head Elections, especially in Pesawaran Regency in 2020 in the midst of the Covid-19 pandemic disaster, threatens many people who abstain from voting. The lack of public participation has caused the number of voters that the Pesawaran Regency KPU wants to achieve to be proof that its performance is still lacking, the disappointment of some people towards the leaders, among other things, gave birth to an attitude of abstaining from voting in elections. The implementation of regional elections is of course the full authority of the Pesawaran Regency KPU, in the midst of the Covid-19 pandemic the Pesawaran Regency KPU must think of a strategy so that public participation in exercising their political rights does not have an impact on the number of abstentions. Socialization is important because the legal basis for holding general elections is always changing and developing, which results in changes to the holding of the general election itself. Theoretically, a rule will apply effectively if it is based on three philosophical validity, namely the ideal principle, juridical validity in the sense that the provisions are made by an authorized institution and sociologically enforceable if these rules can be binding and are recognized effectively by the community , this sociological validity certainly has something to do with the quantity of socialization carried out by officials who are authorized to the existing provisions.
ANALISIS HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP UPAYA MEMPERTAHANKAN KEHARMONISAN RUMAH TANGGA PADA PASANGAN YANG MENGHADAPI BABY BLUES SYNDROME PASCA MELAHIRKAN Muhammad Al Ghozali; M. Yasir Fauzi; Idrus Alghiffary
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 4 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Juni 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i4.1376

Abstract

Baby Blues Syndrome merupakan kondisi psikologis yang umum dialami oleh ibu pasca melahirkan dan berpotensi memengaruhi keharmonisan rumah tangga apabila tidak ditangani secara tepat. Pada pasangan  yang menghadapi baby blues syndrome, fenomena ini menjadi semakin kompleks karena adanya karakteristik generasi yang menjunjung kesetaraan peran, keterbukaan terhadap isu kesehatan mental, serta dinamika relasi rumah tangga yang berbeda dari generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis baby blues syndrome dalam kaitannya dengan keharmonisan rumah tangga pasangan  yang menghadapi baby blues syndrome serta menelaah relevansinya dalam perspektif hukum keluarga Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis dan sintesis terhadap berbagai literatur ilmiah berupa jurnal terakreditasi, buku rujukan hukum keluarga Islam, serta sumber relevan di bidang kesehatan mental dan studi keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa baby blues syndrome memiliki implikasi signifikan terhadap kualitas relasi suami istri, terutama dalam aspek komunikasi dan stabilitas emosional. Dalam perspektif hukum keluarga Islam, kondisi ini menuntut penguatan peran dan tanggung jawab suami, baik dalam pemenuhan nafkah lahir maupun nafkah batin berupa perhatian, empati, dan perlakuan yang baik terhadap istri. Penelitian ini menegaskan bahwa baby blues syndrome tidak seharusnya dipandang sebagai pemicu konflik atau alasan perceraian, melainkan sebagai fase adaptasi yang memerlukan dukungan emosional, komunikasi yang sehat, serta integrasi antara pemahaman kesehatan mental dan prinsip-prinsip hukum keluarga Islam guna mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.