Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Status Gizi Ibu Dan Pola Asuh Dengan Stunting Pada Balita Usia 24-36 Bulan Di Puskesmas Rambangaru Antonetha Rosni Hunggumila; Kartini Pekabanda; Veronika Toru; Ester Radandima
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i1.2589

Abstract

Stunting describes the condition of failure to thrive in toddlers. Maternal nutritional status during pre-pregnancy, pregnancy and lactation is a critical period for child growth and development. In addition to maternal factors, parenting plays a very important role in the nutritional status of children. This study aims to determine the relationship between maternal factors and child care patterns with stunting. Research Design: The research design used a cross sectional method with a sample size of 106 children under five. Collecting data through interviews using a questionnaire with a sampling technique of systematic random sampling. The variables studied were stunting, maternal nutritional status, SEZ, Hb levels, feeding practices, hygiene habits and child care. Results: Stunting was found to be 43.4%, maternal nutritional status (BMI) was thin by 38.7%, anemia during pregnancy 25.5%, KEK 17%, poor feeding practices by 54%, poor hygiene habits 62, 3% and child caregivers who are not biological mothers 66%. Variables related to stunting were hygiene habits (AOR=3.342;95%CI=1.266-8.825;p=0.01) and KEK variables (AOR=4.293;95%CI=1.054-17.486;p=0.04). Variables that were not associated with stunting were maternal nutritional status (BMI), Hb levels, feeding practices and child care. Conclusion: Chronic energy deficiency during pregnancy and hygiene habits were found to be associated with stunting. Suggestions to increase educational activities for pregnant women about nutrition through empowering groups of MCH enthusiasts and families in an effort to improve family nutrition and clean living behavior.
Hubungan Status Gizi Ibu Dan Pola Asuh Dengan Stunting Pada Balita Usia 24-36 Bulan Di Puskesmas Rambangaru Antonetha Rosni Hunggumila; Kartini Pekabanda; Veronika Toru; Ester Radandima
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i1.2630

Abstract

Stunting describes the condition of failure to thrive in toddlers. Maternal nutritional status during pre-pregnancy, pregnancy and lactation is a critical period for child growth and development. In addition to maternal factors, parenting plays a very important role in the nutritional status of children. This study aims to determine the relationship between maternal factors and child care patterns with stunting. Research Design: The research design used a cross sectional method with a sample size of 106 children under five. Collecting data through interviews using a questionnaire with a sampling technique of systematic random sampling. The variables studied were stunting, maternal nutritional status, SEZ, Hb levels, feeding practices, hygiene habits and child care. Results: Stunting was found to be 43.4%, maternal nutritional status (BMI) was thin by 38.7%, anemia during pregnancy 25.5%, KEK 17%, poor feeding practices by 54%, poor hygiene habits 62, 3% and child caregivers who are not biological mothers 66%. Variables related to stunting were hygiene habits (AOR=3.342;95%CI=1.266-8.825;p=0.01) and KEK variables (AOR=4.293;95%CI=1.054-17.486;p=0.04). Variables that were not associated with stunting were maternal nutritional status (BMI), Hb levels, feeding practices and child care. Conclusion: Chronic energy deficiency during pregnancy and hygiene habits were found to be associated with stunting. Suggestions to increase educational activities for pregnant women about nutrition through empowering groups of MCH enthusiasts and families in an effort to improve family nutrition and clean living behavior.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PELAJAR DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN DBD PADA SISWA SMA KRISTEN Veronika Toru; Ester Radandima; Kartini Pekabanda; Anthonetha R.H Mila; Maria Kareri Hara
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 5, No 3 (2023): JULI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v5i3.19940

Abstract

Data dari Kementerian Kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia mencapai 13.683 orang, di NTT yang menderita DBD sebanyak 1.337. Angka tersebut terus meningkat menjadi 1.563 orang. Kebaruan dalam penelitian ini karena menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap pelajar dengan tindakan pencegahan DBD pada siswa SMA Kristen. Tujuan penelitian menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap pelajar dengan tindakan pencegahan DBD pada siswa SMA Kristen. Metode penelitian kuantitatif dengan rancangan analitik observasional. Teknik Analisa data analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji dua variabel menggunakan chi-square untuk mengetahui hubungan di antara variabel. Uji banyak variabel menggunakan regresi logistik biner mendapatkan nilai rasio odds (OR), 95% CI, dan nilai p, di mana setiap variabel dengan nilai p 0,25 diikutsertakan dalam uji banyak variabel menggunakan metode ENTER. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar mempunyai pengetahuan yang kurang baik yaitu 70%, sikap yang kurang baik yaitu 60%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan (P-value 0,001) antara pengetahuan, sikap dengan tindakan pencegahan DBD pada siswa SMA. Analisis multivariat menunjukkan variabel pengetahuan dan sikap secara statistik berhubungan dengan tindakan pencegahan DBD. Secara berturut-turut variabel yang paling berpengaruh adalah pengetahuan terdiri dari pendidikan yang baik berhubungan 6 kali dengan tindakan yang baik dalam pencegahan DBD (PR: 6,008;95%CI: 2,127-16,967; P-value 0,001),  variabel sikap yaitu baik berhubungan 5 kali dengan tindakan yang baik dalam pencegahan DBD (PR: 4,682; 95%CI: 1,784-12,286; P-value 0,002). Kesimpulan terdapat korelasi antara pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam mencegah penyakit DBD pada siswa SMA Kristen.
Pengaruh Edukasi Kader Hipertensi Terhadap Peningkatan Pengetahuan Keluarga Tentang Pencegahan Stroke di Desa Mbatakapidu: Pengabdian Veronika Toru; Irene Febriany Mamo Kitu; Ester Radandima; Kartini Pekabanda
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6944

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi diidentifikasi secara global sebagai pembunuh senyap (the silent killer) karena sering kali tidak memunculkan gejala klinis awal hingga memicu komplikasi fatal. Hipertensi yang tidak terkontrol menjadi salah satu penyebab serangan jantung, stroke, penyakit ginjal kronis, dan demensia yang paling penting dan dapat dicegah. Pemberdayaan kader kesehatan desa sebagai agent of change diperlukan untuk menjembatani kesenjangan informasi ini. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh edukasi oleh kader dalam meningkatkan pengetahuan keluarga tentang pencegahan stroke di Desa Mbatakapidu. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tahun 2026 di Desa Mbatakapidu dengan melibatkan 5 orang kader kesehatan dan 20 perwakilan keluarga yang memiliki anggota penderita hipertensi. Metode yang digunakan meliputi pembekalan kader di balai desa, diikuti dengan edukasi komunitas melalui kunjungan rumah (home visit) selama ±30 menit oleh kader kepada keluarga sasaran. Evaluasi keberhasilan dilakukan secara kuantitatif dengan membandingkan tingkat pengetahuan sebelum (pre-test) dan dua minggu sesudah intervensi (post-test) menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil: Sebelum dilakukan edukasi, mayoritas keluarga memiliki tingkat pengetahuan yang kurang yaitu sebesar 60% (12 orang). Setelah mendapatkan intervensi edukasi terstruktur dari kader, tingkat pengetahuan keluarga mengalami peningkatan signifikan dengan 80% (16 orang) keluarga berhasil mencapai kategori pengetahuan yang baik. Kesimpulan: Edukasi berbasis pemberdayaan kader hipertensi melalui kunjungan rumah terbukti efektif meningkatkan pengetahuan keluarga secara signifikan dalam upaya pencegahan stroke di tingkat komunitas.