Yayasan Cahaya Lestari Surabaya (CLS) merupakan entitas olahraga berbasis komunitas Tionghoa yang telah berdiri sejak 1946. Penelitian ini mengkaji dinamika CLS Knights Surabaya dalam periode 2003 hingga 2020, sebuah era krusial di mana bola basket nasional mengalami transisi menuju industrialisasi melalui kompetisi IBL dan NBL. Fokus utama penelitian adalah menganalisis bagaimana sebuah klub berbasis yayasan tradisional merespons tantangan regulasi modern yang mewajibkan pengelolaan berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT). Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dengan pendekatan konseptual Challenge and Response dari Arnold J. Toynbee serta konsep Industrialisasi Olahraga dari Allen Guttmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CLS Knights berhasil melakukan adaptasi manajemen yang bermuara pada prestasi puncak sebagai Juara IBL 2016 dan Juara ASEAN Basketball League (ABL) 2019. Namun, di balik kejayaan tersebut, terjadi benturan ideologis antara nilai gotong royong yayasan dengan tuntutan profit industri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keputusan CLS untuk mundur dari liga profesional pada tahun 2017 dan vakum pada 2019 bukanlah bentuk kegagalan manajemen, melainkan sebuah jawaban (response) strategis untuk mempertahankan identitas dan aset yayasan dari hegemoni industrialisasi yang memaksakan privatisasi.