Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Korosi pada Filter Feed Pump Studi Kasus pada Waste Water Treatment Plant Muhammad Ichsanudin; Imam Prabowo; M. Nasirudin
Journal of Metallurgical Engineering and Processing Technology Vol 3, No 2 (February 2023)
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmept.v3i2.8748

Abstract

Pompa sentrifugal merupakan jenis peralatan yang paling banyak digunakan di industri sehingga studi mengenai korosi pada komponen pompa sangat penting dilakukan. Degradasi material melalui korosi merupakan hal yang pasti terjadi baik secara cepat maupun lambat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor terbesar penyebab terjadinya korosi dan menentukan jenis-jenis korosi yang terjadi pada  filter feed pump yang terinstal pada waste water treatment plant. Identifikasi kegagalan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara visual dan studi literatur mengenai data-data operasi, inspeksi, perbaikan, dan penggantian di lapangan. Dari data-data tersebut, dilakukan analisis agresivitas fresh water, analisis operasi dan perawatan penyebab kegagalan korosi pada komponen pompa, dan jenis korosi yang terjadi pada komponen pompa. Selain itu, juga dilakukan analisis mengenai kemungkinan kombinasi penyebab kegagalan korosi antara reaksi redoks dengan pembebanan yang menyebabkan stress corrosion cracking dan fatigue corrosion. Berdasarkan studi yang dilakukan, diperoleh bahwa korosi yang terjadi disebabkan karena faktor operasi, perawatan, dan lingkungan. Kesalahan perawatan merupakan kesalahan yang paling dominan sebagai faktor penyebab korosi. Tidak dilakukanya predictive maintenance menyebabkan kerusakan yang luar biasa pada casing cover pompa. Faktor perbedaan oksigen juga menyebabkan kegagalan pada casing, wear ring eye, bearing bracket, dan shaft. Hasil identifikasi jenis-jenis korosi yang terjadi pada komponen filter feed pump antara lain: uniform corrosion, pitting corrosion, crevice corrosion, stress corrosion cracking (SCC), fatigue corrosion, erosion corrosion, and cavitation corrosion.
Pengaruh Temperatur Terhadap Hasil Uji Impak Baja Karbon Rendah ST 37 Muhammad Ichsanudin; Imam Prabowo
Journal of Metallurgical Engineering and Processing Technology Vol 2, No 3 (July 2022) Special Edition
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmept.v2i3.9381

Abstract

Salah satu permasalahan terpenting di industri otomotif adalah mengenai ketangguhan material. Ketangguhan merupakan kemampuan material dalam menyerap energi sampai patah / gagal, biasanya diukur dengan menggunakan motode uji impak dengan standar ASTM E 23. Pengujian impak pada baja karbon rendah ST 37 sangat penting dilakukan karena baja karbon ST 37 merupakan salah satu material yang banyak digunakan di industri otomotif seperti: roda gigi, poros, dll. Metode yang dilakukan yaitu dengan memvariasikan temperatur material yaitu: temperatur ruang (24,7 °C), -40 °C, -20 °C, 40 °C, dan 80 °C. peralatan yang digunakan yaitu mesin uji impak Wolpert dengan kapasitas 300 J. berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa material baja karbon ST 37  mengalami patah ulet pada temperatur kamar (24,7 °C) dan diatasnya (40 °C dan (80 °C) serta mengalami patah getas pada temperatur ekstrim (-20 °C dan -40 °C). Material baja karbon termasuk material BCC yang mengalami transisi dari patah ulet ke getas pada pada temperatur kamar (24,7 °C) ke temperatur ekstrim -20 °C. Material getas hanya membutuhkan energi yang kecil untuk berdeformasi plastis sehingga membentuk patahan sudut 90° tanpa adanya elongasi. Sedangkan material ulet membutuhkan energi yang banyak untuk berdeformasi plastis sehingga membentuk patahan sudut 45° dengan adanya elongasi. Karena pada hakikatnya, energi kinetik beban impak akan berubah menjadi energi untuk mendeformasi plastis material.