Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Ketersediaan Air pada Daerah Tangkapan Waduk Sempor dengan Model Mock Surya Budi Lesmana; Andi Nadya Milenia
Bulletin of Civil Engineering Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/bce.v2i3.17117

Abstract

Sub-DAS Sempor, sub-DAS Seliling, dan sub-DAS Kedung Jati adalah bagian dari daerah tangkapan Waduk Sempor. Daerah tangkapan ini merupakan bagian hulu dari DAS Telomoyo dan menjadi salah satu sumber pemasok air pada Waduk Sempor, karena itu sangat penting untuk mengetahui debit ketersediaan air dan debit andalan pada daerah tangkapan tersebut sebagai strategi pengembangan sumber daya air secara menyeluruh. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui debit ketersediaan air dan debit andalan dengan menggunakan metode pendekatan model Mock. Pada penelitian ini, data yang digunakan merupakan data curah hujan bulanan dan data klimatologi tahun 2011-2020. Berdasarkan analisis    ketersediaan air model Mock, diperoleh rata-rata debit pada sub-DAS Sempor sebesar 0,308 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar 0,337 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,529 m³/s. Dari besaran debit Mock tersebut, diperoleh debit andalan Q80 pada sub-DAS Sempor sebesar 0,13 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar 0,13 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,23 m³/s, serta diperoleh debit andalan Q90 pada sub-DAS Sempor sebesar 0,10 m³/s; sub-DAS Seliling sebesar  0,11 m³/s; dan sub-DAS Kedung Jati sebesar 0,18 m³/s. Hasil analisis menunjukkan bahwa  sub-DAS Kedung Jati memiliki debit ketersediaan air yang paling besar dan  sub-DAS Sempor memiliki debit ketersediaan air yang paling kecil. Analisis juga dilakukan dengan melakukan simulasi perubahan tataguna lahan, dan diperoleh rata-rata debit daerah tangkapan mengalami penurunan pada sub- DAS Sempor dari 0,308 m³/s menjadi 0,297 m³/s; pada sub-DAS Seliling dari 0,337 m³/s menjadi 0,325 m³/s; dan pada sub-DAS Kedung Jati dari 0,529 m³/s menjadi 0,484 m³/s. Sempor sub-watershed, Seliling sub-watershed, and Kedung Jati sub-watershed are part of the catchment area of the Sempor Reservoir. This catchment area is the upstream part of the Telomoyo watershed, and it became one of the sources of water supply for the Sempor Reservoir, so it is very important to know the water availability and mainstay discharge in the catchment area as a strategy for developing water resources as a whole. The purpose of this research is to determine the flow of water availability and mainstay discharge using the F. J. Mock model approach. In this study, the datasets used are monthly rainfall data and climatological data from 2011 to 2020. Based on the analysis of water availability by the F. J. Mock model, the average discharge in the Sempor sub-watershed is 0.308 m³/s; Seliling sub-watershed is 0.348 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed is 0.529 m³/s. From the magnitude of the Mock discharge, it is obtained that the Q80% mainstay discharge in the Sempor sub-watershed is 0.13 m³/s; Seliling sub-watershed by 0.13 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed of 0.23 m/s, and a reliable Q90% discharge in the Sempor sub-watershed of 0.10 m³/s; Seliling sub-watershed by 0.11 m³/s; and the Kedung Jati sub-watershed at 0.18 m³/s. The analysis of the three sub-watersheds shows that the Kedung Jati sub-watershed has the largest available water discharge and the Sempor sub- watershed has the smallest available water discharge.  Analysis was also carried out by simulating changes in land use, and it was obtained that the average catchment area discharge had decreased in the Sempor sub-watershed from 0.308 m³/s to 0.297 m³/s; in the Seliling sub-watershed from 0.337 m³/s to 0.325 m³/s; and in the Kedung Jati sub-watershed from 0.529 m³/s to 0.484 m³/s.
Penerapan uji penyelidikan tanah sebagai dasar perencanaan pembangunan masjid tahan gempa Ani Hairani; Muhammad Nadjib; Surya Budi Lesmana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.37839

Abstract

Abstrak Kondisi tanah sangat berpengaruh terhadap kestabilan dan keamanan struktur bangunan masjid. Sayangnya, keterbatasan pengetahuan, dana dan akses terhadap teknologi uji tanah menjadi kendala utama dalam pembangunan masjid. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendampingan dalam melakukan penyelidikan tanah secara sederhana namun akurat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Masjid An-Nuur di Betakan, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. Kegiatan ini diawali dengan diskusi, lalu pengujian tanah berupa sondir dan bor, serta pemberian rekomendasi teknis dalam perencanaan fondasi. Hasil uji dan sondir menunjukkan bahwa tanah keras ditemui pada kedalaman -4.80 m. Dari hasil pengeboran, terlihat bahwa tanah kedalaman 0 hingga 1,50 m masuk ke dalam kategori lempung (clay). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, tim pengabdian memberikan rekomendasi teknis untuk perencanaan pondasi guna mendukung keamanan dan keberlanjutan bangunan masjid. Diharapkan hasil kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mendukung pembangunan masjid yang aman, kuat, dan berkelanjutan. Kata kunci: daya dukung tanah; masjid; uji sondir; bor. Abstract Soil conditions significantly impact the stability and safety of mosque structures. Unfortunately, limited knowledge, funding, and access to soil testing technology are major obstacles in mosque construction. This community service activity aims to bridge this gap by assisting in conducting simple yet accurate soil investigations. This community service activity was carried out at the An-Nuur Mosque in Betakan, Moyudan District, Sleman Regency, Yogyakarta Province. The activity began with a discussion, followed by soil testing, and giving technical recommendations for foundation planning. The test and sounding results indicated that hard soil was found at a depth of -4.80 m. The drilling results showed that the soil at a depth of 0 to 1.50 m fell into the clay category. Based on these test results, the community service team provided technical recommendations for foundation planning to support the safety and sustainability of the mosque building. It is expected that the results of this activity will increase community awareness and capacity in supporting the safe, strong, and sustainable construction of the mosques. Keywords: soil bearing capacity; mosque; soil test